Breaking News:

Kampung Dekat Tempat Wisata Paralayang di Majalengka Itu Berubah Jadi Angker, Ditinggal Penghuninya

Sebuah kampung yang dekat tempat wisata paralayang di Majalengka, kini susananya berubah menjadi angker.

Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka yang sudah ditinggal oleh para pemilik rumahnya. Kini kesan kumuh dan angker menghinggapi Kampung yang terdapat 30 rumah itu, Sabtu (30/1/2021). 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Sebuah kampung yang dekat tempat wisata paralayang di Majalengka, kini susananya berubah menjadi angker.
Kampung yang dikenal dengan sebutan Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka saat ini nyaris tidak ada kehidupan.
Lantaran perubahan ini, ternyata disebabkan puluhan rumah yang terdapat di lokasi tersebut ditinggal oleh para penghuninya.
Warga terpaksa meninggalkan rumah yang sudah lama ditempatinya karena ketakutan adanya bencana pergerakan tanah.
Pergerakan tanah di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka semakin parah, Senin (25/1/2021).
Pergerakan tanah di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka semakin parah, Senin (25/1/2021). (TribunCirebon.com/Eki Yulianto)
Dari informasi yang dihimpun, wilayah tersebut sudah beberapa kali dilanda bencana pergerakan tanah.
Bencana pergerakan tanah yang mengakibatkan longsor pun pernah terjadi beberapa tahun lalu yang mengakibatkan rusaknya puluhan rumah.
Dan sampai saat ini bencana tersebut masih mengancam rumah yang berada di bawahnya.
Hal itu juga mengakibatkan banyak masyarakat menyebut wilayah itu dengan sebutan 'kampung mati'.
Pantauan Tribun di lokasi, jumlah binatang seperti anjing maupun ayam lebih banyak terlihat dibanding adanya kehidupan manusia.
Ketika memasuki area kampung tersebut juga, terkesan menyeramkan dan angker.
Jalan yang berlumpur, ditambah suara khas hewan hutan tampak terus terngiang.
Bangunan rumah juga banyak tampak terbengkalai.
Kesan kotor dan kumuh menambah rasa angker di area tersebut.
 
 
Sementara, pintu-pintu rumah dan jendela telah dimakan rayap.
Jendelanya terbuka dan baut engselnya sudah banyak yang lepas.
Adapun, cat-cat dindingnya mengelupas, buram.
 
Di kalangan masyarakat, sebutan 'kampung mati' di Blok Tarikolot sering menjadi perbincangan.
Namun, sebenarnya hal itu juga bisa dikatakan tidak benar.
Sebab, ternyata ada juga yang masih tinggal di area tersebut meski para tetangganya telah pindah ke lokasi yang dianggap lebih aman.
 
//
Rusdiyana (54) warga yang empat bulan terakhir telah kembali tinggal di perkampungan tersebut menceritakan tidak memiliki biaya menjadi alasan dirinya beserta istri terpaksa kembali ke Blok Tarikolot.
Ia juga mengaku, tidak memiliki kerabat atau saudara yang ingin menampung dirinya.
"Ya gimana ya, mau pindah sebenarnya. Tapi tidak punya biaya untuk membeli rumah atau sewa," ujar Rusdiyana saat ditemui Tribuncirebon.com, Sabtu (30/1/2021).
Soal adanya bencana pergerakan tanah, ia beralasan, rumahnya juga berada di tempat datar.
Tidak seperti rumah tetangganya yang berada lebih atas atau dekat dengan tebing.
“Ini rumah saya. Lagi pula rumah ini berada di tempat datar, tak seperti rumah lainnya yang berada di tanah miring,” ucapnya.
Dalam penuturannya, Rusdiyana bersama sang istri baru menempati rumah tersebut empat bulan yang lalu.
Hanya saja mereka berdua, enggan menjelaskan ihwal detail maupun kronologi alasan menempati rumah itu.
“Kalau yang lain sudah pada pindah ke tempat relokasi di Blok Awi Lega,” jelas dia.
 
Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka yang sudah ditinggal oleh para pemilik rumahnya. Kini kesan kumuh dan angker menghinggapi Kampung yang terdapat 30 rumah itu.
Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka yang sudah ditinggal oleh para pemilik rumahnya. Kini kesan kumuh dan angker menghinggapi Kampung yang terdapat 30 rumah itu. (TribunCirebon.com/Eki Yulianto)
 
Lima puluh meter dari rumah Rusdiyana, tampak sejumlah warga lain yang mayoritas ibu-ibu sudah sepuh sedang beraktivitas.
Dua perempuan paruh baya itu terlihat tengah beraktivitas menjemur kacang tanah. Saat ini memang tengah musimnya panen kacang.
Biji-bijian itu biasa dijadikan bahan utama membuat sambal karedok dan sambal pecel.
“Mungkin saat ini hanya ada sekitar 30 rumah-an. Kami bertahan, karena masih aman. Yang lain pindah, karena rumah mereka berada di tanah miring yang rawan longsor,” ujar Karmidi (65), warga lainnya yang juga masih menempati kampung tersebut.
Menurut Karmidi, ia telah tinggal di kampung Tarikolot Sidamukti itu sudah 36 tahun.
Ia pertama kali menempati kampung itu ketika dibawa oleh mendiang istrinya.
“Sejak saya menikah dengan istri, saya tinggal di kampung ini. Sekarang saya tinggal sendirian, istri saya sudah tiada,” ungkapnya.
 
Pergerakan tanah di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka semakin parah, Senin (25/1/2021).
Pergerakan tanah di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka semakin parah, Senin (25/1/2021). (TribunCirebon.com/Eki Yulianto)
 
Sepengetahuan Karmidi, di kampung itu tadinya ada 100 rumah yang dihuni dan ditempati.
Namun, sejak ada pergerakan tanah dan longsor yang menimpa Blok Tarikolot, berangsur-angsur warga mulai berpindah ke tempat yang lebih aman.
“Saat ini saja, jalan ke sini dekat jembatan sudah rusak lagi, karena longsor dan tanahnya bergerak. Tapi di rumah saya masih aman. Makanya saya bertahan, kebun saya juga dekat sini,” katanya. (*)
Penulis: Eki Yulianto
Editor: dedy herdiana
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved