Breaking News:

Bantu PMI Majalengka Yang Terancam Hukuman Mati, BP2MI Lakukan Pendekatan ke Keluarga Korban

BP2MI menyebutkan pihaknya telah menerima surat dari KJRI Dubai tentang perkembangan kasus hukum WNI atas nama Nenah Arsinah.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Machmud Mubarok
Eki Yulianto/Tribuncirebon.com
Nung Arminah (41), kakak kandung dari Nenah Arsinah PMI asal Majalengka yang dituntut hukuman mati karena dituduh membunuh sopir majikannya 

Nenah juga terancam hukuman mati karena dugaan tuduhan tersebut.

Kepala Desa Ranjiwetan, Saeful Imam membenarkan, bahwa ada warganya yang saat ini sedang terjerat kasus hukum di Dubai, UAE.

Baca juga: Purna PMI Asal Indramayu Tak Perlu ke Luar Negeri Lagi Setelah Pulang, Pemda Bakal Beri Modal Usaha

Baca juga: Ini Kesibukan Carmi PMI Asal Cirebon yang Sempat Hilang Kontak 31 Tahun Usai Kembali ke Keluarganya

Disampaikannya, saat ini kasus tersebut sedang ditangani oleh Forum Pekerja Migran Indonesia (FPMI) yang berada di Majalengka.

"Iya benar, katanya dituduh membunuh sopir dari majikannya," ujar Saeful Imam, saat dikonfirmasi media, Senin (24/5/2021).

Di tempat terpisah, Ketua Forum Pekerja Migran Indonesia (FPMI) DPD Majalengka, Muhamad Fauzi mengatakan, pihaknya saat ini sedang menangani kasus warga Majalengka yang dituntut hukuman mati.

Ia mendapatkan laporan dari keluarganya pada bulan lalu.

"Jadi pada tanggal 26 April 2021, ada keluarga atas nama PMI Nenah datang ke kantor kami. Mereka melaporkan tentang anaknya yang sedang bekerja di UEA yang mendapatkan kasus tuduhan pembunuhan berencana," ucap Fauzi.

Menurut cerita keluarga, jelas Fauzi, Nenah saat ini sedang berada di kurungan penjara di daerah Sarja, Dubai, UAE.

Nenah sendiri mendapatkan tuntutan hukuman mati akibat tuduhan kasus pembunuhan tersebut.

"Untuk itu pihak kami menelusuri kasus ini, kita pelajari. Setelah kita mendapatkan informasi dari keluarga Nenah sendiri, bahwa kejadiannya itu terjadi pada tahun 2014 lalu," jelas dia.

Fauzi menceritakan, kejadian bermula pada tahun 2014 lalu di mana Nenah hendak memberi makan sopir majikannya di kamar.

Namun, Nenah dikagetkan dengan kondisi sopir majikannya yang sudah dalam keadaan meninggal.

"Melihat kejadian itu, majikan Nenah malah menjerumuskan Nenah ke penjara dengan meminta Nenah menandatangani kertas yang bertuliskan Arab gundul. Padahal, jika orang mengerti, itu kertas menyatakan bahwa yang menandatangani berarti mengaku telah membunuh," katanya.

Kondisi seperti itu, membuat Nenah langsung dibawa oleh pihak kepolisian dan dituntut hukuman mati.

Halaman
123
Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved