Breaking News:

UPDATE Bom Kabul Afghanistan Tewaskan 12 Tentara AS & 90 Warga, Biden Terpojok, Taliban Cari Pelaku

Ledakan bom Kabul Afghanistan menandai korban militer AS pertama di negara itu sejak Februari 2020, dan merupakan insiden paling mematikan

Editor: Machmud Mubarok
Net/Istimewa
Ilustrasi bom 

TRIBUNCIREBON.COM – Sepasang bom Kabul Afghanistan yang meledak di luar bandara negara itu, menewaskan sedikitnya 12 tentara AS dan melukai 15 lainnya pada Kamis (26/8/2021).

Melansir Reuters, ISIS mengeklaim berada di balik serangan bom Kabul Afghanistan tersebut. Selain itu, sedikitnya 90 warga sipil Afghanistan juga dilaporkan tewas akibat bom Kabul sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Seorang jenderal tinggi AS mengatakan, saat ini pasukan AS berupaya mengantisipasi lebih banyak serangan ketika proses evakuasi berlanjut dari Afghanistan.

Ledakan bom Kabul Afghanistan menandai korban militer AS pertama di negara itu sejak Februari 2020, dan merupakan insiden paling mematikan bagi pasukan “Negeri Paman Sam” di Afghanistan dalam satu dekade.

Setidaknya dua bom Afghanistan meledak di kerumunan yang memadati gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul.

Baca juga: Jenderal Tentara Afghanistan Ini Sebut Tokoh Dunia Donald Trump, Biden, dan Ashraf Ghani Pengkhianat

Baca juga: Saksi Mata Korban Ledakan Bom yang Tewaskan 13 Tentara AS di Bandara Kabul Sebut Seperti Hari Kiamat

Kerumunan tersebut dengan putus asa mengantre untuk meninggalkan Afghanistan sejak Taliban menduduki Kabul. Salah satu bom Kabul Afghanistan diledakkan di dekat gerbang bandara dan yang lainnya meledak di dekat Hotel Baron.

Dalam sebuah pernyataan,  ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok teroris itu menambahkan, salah satu pengebomnya menargetkan penerjemah dan orang yang bekerja sama dengan tentara AS.

Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Korps Marinir AS Frank McKenzie, mengatakan dalam jumpa pers bahwa ledakan bom Kabul Afghanistan diikuti dengan baku tembak.

McKenzie mengatakan, ancaman dari ISIS di Afghanistan tetap ada di samping sejumlah ancaman lainnya. 

"Kami percaya itu adalah keinginan mereka untuk melanjutkan serangan ini dan kami menduga serangan itu berlanjut. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk bersiap," kata McKenzie.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved