Wagub Jabar UU Ruhzanul Ulum Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19 Lantaran Tensi Darah Tinggi
Beberapa pejabat publik, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di Jabar menjalani pemberian vaksin COVID-19.
Ahmad Dofiri pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak ragu dan tidak takut mengikuti vaksinasi COVID-19. Menurut ia, vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu upaya untuk menangani pandemi COVID-19.

"Saya mengimbau jangan takut, lebih sakit disuntik rapid test jadi tidak usah khawatir dan tidak usah takut," ucapnya.
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dan sejumlah peserta vaksinasi perdana Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sempat tidak bisa mendapat suntikan vaksin Covid-19 karena setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, tekanan darah mereka terdeteksi di atas 140.
Namun demikian, terdapat sejumlah peserta vaksinasi yang lolos pemeriksaan kesehatan sampai menjalani penyuntikan vaksin, sehingga menjadi para penerima vaksin pertama di Jabar, di antaranya adalah Kapolda Jabar Irjen Pol Ahmad Dofiri, pengurus IBI (Ikatan Bidan Indonesia) dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ikut memantau proses vaksinasi perdana di Jawa Barat tersebut mengatakan para peserta vaksinasi, termasuk Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum, akhirnya diminta untuk beristirahat sejenak di lokasi sampai tekanan darahnya kembali normal di bawah 140.
"Salah satu prasyarat untuk lolos secara kesehatan untuk diberi vaksin Covid-19 ini adalah tekanan darahnya maksimal 140. Jalau di atas itu, punya sedikit resiko, resiko yang tentunya tidak kita harapkan. Nah dari semuanya sudah menjalani proses pemeriksaan kesehatan, dan rata-rata ternyata tensinya diatas 140, termasuk bapak Wakil Gubernur Jawa Barat," kata Gubernur di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kamis (14/1).
Oleh karena itu sesuai prosedur, para peserta vaksinasi yang tensi darahnya di atas 140 diminta untuk menunggu beberapa saat untuk dilakukan pengetesan ulang. Kalau sudah beberapa kali diperiksa dan tensinya masih di atas 140, mungkin tidak dilaksanakan di hari yang sama.
"Dari semuanya (18 orang) itu ada tiga yang sudah melaksanakan vaksinasi, yaitu Pak Kapolda kemudian ada dokter Lutfi dari IDI, dan Bu Teni dari IBI," kata Gubernur.
Dalam kesempatan yang sama di RS Hasan Sadikin di Gedung Anggrek, katanya, vaksinasi dilakukan kepada 60 masyarakat lainnya.
Pengurus IBI Jabar, Teni, mengatakan dirinya merasa sangat bangga diberi kesempatan untuk bisa menjadi peserta vaksinasi. Pengurus IBI, katanya, sangat mendukung dengan adanya vaksinasi ini.
"Kami mengimbau kepada seluruh tenaga kesehatan, khususnya bidan di Jawa Barat, untuk melakukan vaksinasi. Dan kepada masyarakat lainnya untuk tidak takut untuk divaksinasi," katanya.
Baca juga: Bupati Bandung Tak Disuntik Vaksin Covid-19, Alasannya karena Sudah Tua dan Pernah Serangan Jantung
Baca juga: Bupati Kuningan Tak Masuk Syarat Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Penjelasan Dinas Kesehatan
Kapolda Jabar Irjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan dirinya sudah melalui serangkaian vaksinasi tahap pertama dan sudah menjalani pemeriksaan pascavaksinasi. Dirinya mengatakan sama sekali tidak merasakan dampak negatif vaksinasi.
"Dokter tadi menyampaikan sampai 3 hari bisa saja ada pegel-pegel gitu, tapi mudah-mudahan tidak sampai sejauh itu. Dan saya berharap kondisinya baik-baik saja. Yang saya rasakan dibandingkan dulu saat rapid test, di sini (vaksinasi) enggak terasa. Jadi enggak usah khawatir," katanya.
Sempat tidak bisa disuntik vaksin Covid-19 karena tekanan darah tinggi, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum akhirnya bisa disuntik vaksin Covid-19 setelah menenangkan diri dan beristirahat sejenak di lokasi vaksinasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Kamis (14/1).
Kang Uu mengatakan memang saat diperiksa tekanan darah pertama kali, didapati tekanan darahnya di atas ambang batas, yakni di atas 140/90. Akhirnya, Kang Uu dianjurkan beristirahat sejenak di ruangan yang disediakan sambil mengobrol dengan dokter dan peserta vaksinasi lainnya.