Hukum Salat Jumat di Hari Raya Idul Fitri, Ada Keringanan
Di dalam Kitab Bulughul Maram disebutkan hadits mengenai keringanan Salat Jumat di hari Idul Fitri.
Ramadhan bukan hanya ibadah individual, tetapi juga madrasah kemanusiaan. Ia mengajarkan kita untuk merasakan lapar yang dialami orang miskin, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama manusia.
Namun ketika kita merayakan Idul Fitri hari ini, dunia masih menghadapi berbagai krisis kemanusiaan. Konflik dan peperangan masih terjadi di berbagai belahan bumi. Ketegangan geopolitik antarnegara semakin meningkat dan ancaman peperangan yang melibatkan kekuatan besar dunia kembali menghantui masa depan umat manusia.
Tragedi kemanusiaan masih kita saksikan di berbagai wilayah, di mana rakyat sipil menjadi korban, rumah-rumah hancur, anak-anak kehilangan masa depan, dan masyarakat hidup dalam ketakutan akibat konflik bersenjata yang disulut oleh ego dan nafsu kebengisan manusia. Padahal Islam sedari awal hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Karena itu, menjaga perdamaian, menolak kekerasan, serta menghormati kehidupan manusia adalah bagian dari aktualisasi fitrah kemanusiaan yang diajarkan oleh Islam.
Jika Ramadhan telah mendidik kita untuk menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbanyak kebaikan, maka Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperluas nilai-nilai kemanusiaan tersebut dalam kehidupan sosial, bahkan dalam kehidupan dunia yang lebih luas.
Allahu Akbar 3X, Allah Maha Besar!
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Di tengah perayaan Idul Fitri yang penuh kesyukuran ini, nurani kita juga diajak untuk menoleh kepada realitas dunia yang sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Ketegangan geopolitik antarnegara semakin meningkat, rivalitas kekuatan global semakin tajam, dan konflik bersenjata masih terus terjadi di berbagai kawasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan bagaimana konflik tidak hanya melibatkan dua pihak yang bertikai, tetapi juga sering menyeret berbagai kekuatan besar dunia sehingga memperbesar risiko eskalasi peperangan yang lebih luas.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, serta dinamika politik di kawasan Timur Tengah menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas perdamaian global saat ini.
Jika konflik-konflik ini tidak dikelola dengan kebijaksanaan, bukan tidak mungkin dunia akan menghadapi krisis kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah terjadi sebelumnya.
Sejarah umat manusia telah mencatat bagaimana peperangan besar meninggalkan luka kemanusiaan yang sangat mendalam: jutaan nyawa melayang, kota-kota hancur, keluarga tercerai-berai, serta generasi yang kehilangan masa depan mereka.
Perang tidak pernah membawa kemenangan bagi kemanusiaan. Ia hanya menyisakan penderitaan, trauma, dan kehancuran yang memerlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dipulihkan. Oleh karena itu, menjaga perdamaian dunia merupakan amanah kemanusiaan dan amanah konstitusi negara yang harus terus diperjuangkan.
Islam sejak awal telah mengajarkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia. Bahkan dalam situasi konflik sekalipun, Islam mengajarkan prinsip-prinsip moral yang tinggi: melindungi warga sipil, menjaga tempat ibadah, serta menghindari kerusakan yang tidak perlu. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan tidak pernah dibenarkan dalam ajaran Islam. Bahkan dalam peperangan sekalipun, Islam menegaskan adanya batasan moral yang harus dijaga demi melindungi nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam dunia modern yang saling terhubung, peperangan tidak lagi hanya berdampak pada satu wilayah tertentu. Konflik global dapat memicu krisis kemanusiaan yang meluas: krisis pangan, krisis energi, krisis pengungsi, serta ketidakstabilan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan miliaran manusia di seluruh dunia.
Kita telah menyaksikan bagaimana konflik di satu kawasan dapat memicu gelombang pengungsi besar-besaran, memicu kelaparan di berbagai negara, serta memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka, hidup dalam pengungsian, kehilangan identitas, dan hidup dalam ketidakpastian yang panjang.
Di tengah kondisi seperti ini, nilai-nilai Ramadhan yang baru saja kita jalani menjadi sangat relevan bagi kehidupan dunia. Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, mengendalikan amarah, memperbanyak kesabaran, serta menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang lain.
Jika nilai-nilai ini benar-benar dihidupkan dalam kehidupan global, maka dunia akan memiliki peluang yang lebih besar untuk membangun perdamaian dan peradaban yang berkelanjutan.
Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi momentum rekonsiliasi di tingkat individu dan masyarakat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi rekonsiliasi yang lebih luas dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Semangat saling memaafkan yang kita lakukan hari ini sesungguhnya adalah nilai universal yang sangat dibutuhkan oleh dunia yang penuh konflik dan krisis kemanusiaan.
Jika semangat perdamaian, saling memahami, dan saling menghormati ini juga dihidupkan dalam hubungan antarbangsa. Banyak konflik yang mungkin dapat diselesaikan melalui dialog, keadilan, dan kebijaksanaan, bukan melalui kekerasan dan peperangan.
Umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian dunia. Sebagai umat yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kita dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai rahmah dalam kehidupan global.
Perdamaian tidak hanya dibangun oleh para pemimpin politik dan negara, tetapi juga oleh kesadaran moral masyarakat dunia. Perdamaian lahir dari budaya menghormati martabat manusia, menghargai perbedaan, serta menolak kebencian dan kekerasan.
Oleh karena itu, umat Islam harus terus memperkuat nilai-nilai ukhuwah insaniyyah yang tidak hanya merawat persaudaraan sesama umat Islam, tetapi juga persaudaraan dengan seluruh umat manusia. Karena pada hakikatnya, seluruh manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki martabat yang harus dihormati, sebagaimana firman-Nya:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. [Al Isra: 70]
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak dibatasi oleh bangsa, ras, atau agama tertentu, tetapi merupakan kemuliaan universal yang melekat pada seluruh umat manusia.
Allahu Akbar 3X, Allah Maha Besar!
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita saling berjabat tangan, saling memaafkan, dan menghapus permusuhan di antara kita. Nilai yang indah ini sejatinya tidak hanya berlaku dalam lingkup keluarga atau masyarakat kita saja, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kehidupan kemanusiaan yang lebih luas.
Bayangkan jika semangat Idul Fitri ini juga menjadi semangat bagi bangsa-bangsa di dunia; semangat memaafkan, berdialog, dan menyelesaikan konflik dengan keadilan, bukan dengan kekerasan. Umat Islam dipanggil untuk menjadi pembawa pesan perdamaian bagi dunia. Rasulullah SAW bersabda:
المسلم من سلم الناس من لسانه ويده
“Seorang Muslim adalah orang yang membuat manusia lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Hadis ini mengajarkan bahwa kehadiran seorang Muslim seharusnya menghadirkan rasa aman kepada siapapu, kapanpun dan dimanapun. Oleh karena itu, setelah kita keluar dari madrasah Ramadhan, marilah kita menjaga nilai-nilai fitrah kemanusiaan yang telah kita rawat selama bulan suci.
Jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan untuk membangun kehidupan yang lebih bermartabat, kehidupan yang dilandasi iman, ilmu, dan amal shalih serta kepedulian social. Karena sejatinya kesuksesan Ramadhan bukan diukur pada saat bulan itu berlangsung, tetapi pada sebelas bulan setelahnya.
Apakah kita tetap mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga kejujuran, memperbanyak kebaikan, serta menjadi pribadi yang menebar rahmat bagi sesama.
Semoga Idul Fitri ini benar-benar menjadi momentum bagi kita semua untuk memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan komitmen kemanusiaan demi mewujudkan masyarakat yang adil, damai, berkeadaban, dan berperadaban.
Semoga Allah SWT membimbing kita semua agar tetap berada dalam syariat-Nya, serta menjadikan kita bagian dari umat yang menebarkan kasih sayang, menjaga perdamaian, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Amin Ya Mujibassaailin.
Khutbah Kedua
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
الحمد لله الذي أعاد العيد وكرّر نحمده سبحانه أن خلق وصوّر. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده لا شريك له شهادة يثقل بها الميزان في المخشر وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله المبعوث إلى الأسود والأحمر. اللهمّ فصلّ وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى آله وأصحابه الشّرف الأفخر. أمّا بعد,
فيا أيّها المؤمنون ! اتقواالله فيما أمر وانتهوا عمّا نهى عنه وحذر, واعلموا أنّ الله تعالى صلّى على نبيّه قديما فقال تعالى : إنّ الله وملائكته يصلّون على النّبي يا أيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيّدنا خير الخلق صاحب الصدق الأمين وارض اللهمّ عن كلّ الصحابة أجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ويا أرحم الرّاحمين.
اللهمّ اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات وارفع لهم الدّرجات وضعّف لهم الحسنات وكفّر عنهم السيئآت ياربّ العالمين, اللهمّ أعزّ الإسلام والمسلمين وأهلك الكفرة والظالمين ودمّر أعدآءك أعدآء الدين وأعل كلماتك إلى يوم الدّين, اللهمّ انصر من نصر الين واخذل من خذل المسلمين واهدنا صراطك المستقيم, اللهمّ أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا واجعل الحياة لنا زيادة في كلّ خير واجعل الموت لنا راحة من كلّ شرّ يا مجيب السّآئلين, ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلاّ للذين آمنوا ربّنا إنك غفور رحيم, ربنا هب لنا من أزواجنا وذرّيّاتنا قرّة أعين واجعلنا للمتّقين إماما, ربنا لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهّاب, ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار والحمد لله ربّ العالمين. آمين.
Baca juga: Naskah Khutbah Idul Fitri 2026, Sikap Kita Sebagai Muslim di Tengah Konflik Amerika, Israel dan Iran
| Naskah Khutbah Jumat 29 Mei 2026: Memahami Kewajiban Melaksanakan Ibadah Haji |
|
|---|
| NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 22 Mei 2026: Hikmah Berkurban dalam Islam, Ajarkan Keikhlasan Sosial |
|
|---|
| NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 22 Mei 2026: Hikmah di Balik Kisah Nabi Ibrahim |
|
|---|
| Naskah Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Meneladani Kisah Nabi Ibrahim a.s |
|
|---|
| Materi Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: 8 Hikmah Perintah Berkurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/salat-jumat-di-masjid-agung-al-imam-majalengka-saat-ppkm-darurat-1.jpg)