Kamis, 30 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Imlek 2026

Kue Keranjang Babah Bancin dan Kenangan di Pabuaran Cirebon, Catatan Menjelang Hari Raya Imlek

Babah Bancin seorang penjual kue keranjang di Pabuaran Cirebon. Sosoknya kerap muncul menjelang Imlek.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: taufik ismail
Istimewa
Hasan Aoni Azis, Owner Roemah Dongeng Kudus. 

Kue Keranjang Babah Bancin
Catatan Menjelang Hari Raya Imlek

Dulu Imlek dilarang dirayakan secara terbuka oleh Pemerintah Orba melalui Inpres.  Lalu datang Gus Dur mencabutnya. Biografi kecil ini ditulis untuk mengenang suasana Imlek dan hubungan antar-ras di desa.

TRIBUNCIREBON.COM - Ada toko kelontong besar, mungkin satu-satunya yang terbesar di desa saya waktu itu, Desa Pabuaranwetan, Pabuaran, Cirebon.

Toko itu menghadap ke barat, 75 meter dari pasar desa. Meski tidak ada nama toko terpampang di depan, semua orang tahu itu milik Babah Bancin, pedagang keturunan Tionghoa yang ramah.

Belakangan saya tahu nama nasionalnya: Basir. Nama yang Islami. Rimanya mirip dengan nama aslinya.

Nama itu kemudian dipampang sejak toko itu pindah ke sisi utara. Tertera pada papan kayu warna kuning bertulis hitam: "Toko Baik Basir". 

Toko lamanya ditempati adiknya, pasangan suami isteri Ban Wan dan Winci, penjual kecap paling sohor di desa kami. Sejak itu, orang-orang kampung memanggilnya Babah Basir, selain Bancin. 

Hari Raya Imlek

Tibalah hari Imlek. Anak-anak kampung tak pernah tahu tanggal persisnya. Kalender tidak mewarnai merah atau biru, yang anak-anak bisa menandai. Imlek masih haram dirayakan secara terbuka oleh Pemerintah Orba. Sampai harus mengeluarkan Inpres tahun 1967.

Di tengah ketidaktahuan, Babah Bancin lah penandanya. Anak-anak kampung hafal, kalau ia sudah menata kue-kue keranjang di atas bupet kaca, sebentar lagi Imlek tiba. Kue itu muncul hanya saat Imlek. Seperti bedug yang ditabuh bertalu-bertalu bagi idul fitri, seperti itu Babah Bancin menjadi serupa muadzin bagi Imlek. 

Ketika Imlek akhirnya tiba, anak-anak berbaris riang menyaksikan lampion merah bergaris emas digantung di langit-langit tokonya. Ada simpul Tionghoa menjuntai, berderai-derai ditiup angin.

Selain takjub, barisan anak-anak itu sebetulnya siasat belaka. Kalau kerumunana sudah bikin kocar-kacir pembeli, Babah Bancin akan tergopoh-gopoh membagi irisan tipis kue keranjang ke anak-anak agar bubar.

Irisan yang sebetulnya untuk cicipan pembeli. Di antara anak-anak itu ada saya berdiri di depan memimpin barisan.

Ibu datang ke toko mengajak saya yang baru membubarkan diri dari gerombolan pura-pura melihat lampion itu. Kini level saya naik dari perusuh ke pembeli yang terhormat. Bikin teman-teman sebaya iri melihat perubahan ini.

Di rumah, Ibu mengiris seperti Babah Bancin mengirisnya. Diiris sejumlah sama dengan jumlah anak-anak dan keponakan-keponakan yang mengelilinginya.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved