Babad Cirebon Dibacakan Lagi di Kanoman, Ingatkan Asal-Usul Lemahwungkuk dan Golok Cabang
Tradisi pembacaan Babad Cirebon kembali digelar Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tradisi pembacaan Babad Cirebon kembali digelar Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jumat (27/6/2025) malam.
Kali ini tradisi itu digelar di Bangsal Prabayaksa.
Prosesi sakral ini menjadi pengingat sejarah panjang berdirinya Kota Udang, yang dirunut dari Kitab Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Wangsakerta pada tahun 1669.
Pantauan Tribun, pembacaan Babad Cirebon dipimpin langsung oleh seorang Pangeran Kumisi yang bernama Pangeran Besus Nugraha, yakni pejabat tinggi adat yang berada satu tingkat di bawah Patih Kanoman.
Baca juga: Diterangi Cahaya Empat Batang Lilin di Bangsal Witana, Ratusan Orang Hikmat Menyimak Babad Cirebon
Setelah memimpin doa dan tawasul, Pangeran Besus Nugraha itu pun tampak memulai membacakan Babad Cirebon.
Empat lilin setinggi kira-kira 50 sentimeter terlihat menjadi sumber penerang utama bagi pangeran kumisi saat membacakam sejarah berdirinya Kota Udang.
Hadir dalam prosesi ini, Wali Kota Cirebon beserta jajaran, Sultan Kanoman Sultan Raja M Emirudin, Patih Pangeran M Qodiran dan ratusan warga yang memenuhi Pendopo Djinem.
Menurut Sekretaris & Juru Bicara Kesultanan Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, pembacaan babad ini tidak sekadar tradisi, tetapi juga sebagai bentuk edukasi sejarah kepada generasi muda Cirebon.
"Pembacaan babad Cerbon (Caruban) merupakan tradisi membaca cerita asal-usul lahirnya Cirebon."
"Tujuannya untuk memberikan edukasi kepada kita semua, khususnya generasi muda, agar selalu mengingat tanah asal-usul tumpah darahnya," ujar Ratu Arimbi kepada media, Jumat (27/6/2025) malam.

Ia menegaskan, penting bagi masyarakat untuk tetap open atau memelihara sejarah yang menjadi akar jati diri Cirebon.
"Banyak generasi muda yang tidak open lagi terhadap sejarah, padahal sejarah tidak bisa lepas dalam kehidupan manusia dan alam semesta," ucapnya.
Tradisi ini, kata dia, telah dilakukan sejak tahun 1529 Masehi atau bahkan sebelumnya dan hanya Kesultanan Kanoman yang konsisten melestarikannya hingga kini.
Sore harinya, sekitar pukul 15.30 WIB (Ba’da Ashar), digelar pula tawasul untuk Pangeran Cakrabuwana di area Bangsal Witana.
Grebeg Syawal di Cirebon: Tamiri Rebut Koin Demi Berkah, Keluarga Kesultanan Kanoman Pimpin Ziarah |
![]() |
---|
Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon, Tradisi Ziarah hingga Sedekah Koin yang Masih Lestari |
![]() |
---|
Pagi-Pagi Sudah Padat, Grebeg Syawal di Cirebon Bikin Astana Gunung Sembung Dipenuhi Peziarah |
![]() |
---|
Jaroah, Emak-emak yang Dapat 1 Koin Hasil Surak Grebeg Syawal Keraton Kanoman, Berharap Keberkahan |
![]() |
---|
Grebeg Syawal, Tradisi Ziarah Leluhur Ala Keluarga Keraton Kanoman Cirebon |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.