Khutbah Jumat
Teks Khutbah Jumat Pekan Ini Berjudul: Cara Berpuasa Ramadhan yang Sempurna
Sekadar informasi, ajuran untuk menyampaikan khutbah secara singkat terdapat di dalam sebuah hadits riwayat Muslim dan Ahmad berikut ini.
Penulis: Sartika Harun | Editor: Sartika Rizki Fadilah
Ketiga, menjaga telinga. Kita jaga kedua telinga dari mendengarkan suara-suara yang dibenci. Setiap sesuatu yang diharamkan bagi kita untuk mengucapkannya, maka hukumnya juga haram mendengarkannya. Karena itu, Allah SWT menyamakan dosa antara orang yang menggunjing dengan orang yang mendengarkan gunjingan.
Allah SWT berfirman :
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ(42) ۚ
Artinya :“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Ma’idah : 42)
Sebagian orang menjejali telinganya dengan lagu-lagu yang membuat lalai kepada Allah SWT dan kata-kata yang mengandung dosa. Di sisi lain, ia menutupi telinganya dari bacaan-bacaan Alquran yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk didengarkan.
Telinga orang yang tengah berpuasa sudah sepatutnya terjaga untuk mendengarkan yang baik-baik agar membuahkan keimanan, petunjuk, cahaya, dan ketenangan dalam hati. Jangan sampai menjadi telinga yang mendengarkan kebatilan sehingga meninggalkan bekas yang batil pula di dalam hati.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Keempat, menahan anggota badan lainnya dari perbuatan dosa. Kita jaga anggota badan yang Allah SWT anugerahkan kepada kita, seperti tangan dan kaki, dari hal-hal yang tercela.
Begitu pula kita jaga perut dari makanan-makanan yang syubhat apalagi haram. Apa artinya menjaga diri dengan puasa dari hal-hal yang dihalalkan seperti makan dan minum, tapi kita isi setelahnya dengan makan dan minum yang syubhat atau yang haram.
Puasa perut tidak hanya dari makanan dan minuman di siang hari, tapi juga dari makanan dan minuman yang haram, di siang dan malamnya. Bagaimana seseorang digolongkan berpuasa jika saat berbuka, dia isi perutnya dengan makanan yang berasal dari hasil riba, menipu, merampas, atau dari harta anak yatim. Jika makanan didapatkan dengan cara-cara yang haram, maka pikiran menjadi rusak, hati menjadi kasar, dan cahaya kebenaran dalam hati menjadi redup.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kelima, supaya pahala puasa tidak hilang hendaknya kita kondisikan hati kita antara perasaan khauf (takut) dan raja’ (pengharapan). Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apakah Allah SWT berkenan menerima ibadah puasa kita atau menolaknya. Kita takut puasa termasuk yang ditolak. Tapi di sisi lain, kita harus punya harapan kepada Allah SWT disertai husnudzan (prasangka baik) puasa kita diterima oleh Allah SWT.
Inilah lima perkara yang harus kita jaga dengan serius khususnya dalam kaitan ibadah puasa di bulan Ramadan. Ketika kita berpuasa sejak fajar sampai terbenamnya matahari, tidak makan dan minum, menahan rasa lapar dan haus, maka di saat yang sama kita harus mempuasakan mata, lisan, pendengaran, dan anggota badan lainnya.
Jangan sampai kita berpuasa, tapi kita biarkan begitu saja pandangan, pendengaran, lisan, dan anggota badan melakukan maksiat yang bisa menjadikan puasa kita sia-sia belaka. Sahabat Jabir bin Abdullah berkata,
إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكِذْبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً
Artinya :“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu itu sama.”
Semoga Allah SWT menerima ibadah puasa kita dan ibadah lainnya, puasa dan ibadah yang padat dengan pahala serta mendapatkan balasan yang terbaik di sisi Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
| NASKAH Khutbah Jumat Besok 3 April 2026: Gambaran Surga yang Indah dan Penuh Nikmat |
|
|---|
| NASKAH Khutbah Jumat Besok 3 April 2026: Salat Jadi Kunci Kehidupan Umat Muslim |
|
|---|
| NASKAH Khutbah Jumat Besok 3 April 2026: Saat Hidup Terasa Berat, Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah |
|
|---|
| NASKAH Khutbah Jumat Besok 3 April 2026: Saat Ajal Mendekat, Sudah Siapkah Bekalmu? |
|
|---|
| Teks Khutbah Jumat 3 Maret 2026: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah SWT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/Kini-selama-menjalani-cuti-Syahrul-Faidzin-aktif-menjadi-Khatib-shalat-Jumat-di-Cirebon.jpg)