Breaking News:

Bos Roti di Kuningan Bertumbangan Dihantam Pandemi, Ini Strategi Pemkab Bangkitkan Pelaku UMKM

Sejumlah pelaku UMKM di kampung roti yang berada di Kecamatan Cigandamekar, Kuningan  ambruk. Hal itu akibat dampak pandemi Covid-19

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Sejumlah pelaku UMKM di kampung roti yang berada di Kecamatan Cigandamekar, Kuningan  ambruk. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TEIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Sejumlah pelaku UMKM di kampung roti yang berada di Kecamatan Cigandamekar, Kuningan  ambruk. Hal itu akibat dampak pandemi Covid-19 sekaligus terjadinya perubahan harga beli bahan baku yang dibutuhkan para pelaku UMKM (Usaha Menengah Kecil Mikro).

"Kalau bicara harga beli bahan baku, itu hampir setiap hari berubah dan naik terus," ungkap Aripin, bos roti sekaligus Ketua Koperasi Pengusaha Roti Sadaya (Kopersada) saat mendampingi kunjungan Sri Ucu Sukmawati yang juga Kabid koperasi / Plt Kabid UMKM Perindustrian Diskopdagperin dalam mewakili Kepala Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan Kuningan, Uu Kusmana, Jum'at (14/1/2022).

Aripin menyebut memasuki masa pemulihan ekonomi kerakyatan di daerah, idealnya mendapat perhatian dari pemerintah.

"Ya bicara masa pemulihan ekonomi, seharusnya ada perhatian dan kami siap mengikuti pembinaan serta tuntunan dari pemerintah daerah," katanya.

Baca juga: Sudah Banyak yang Gulung Tikar, Pelaku UMKM Roti di Kuningan Minta Diperhatikan Pemerintah

Baca juga: Lanjutkan Roadshow, CrediBook Ajak Pelaku UMKM Cirebon Tingkatkan Literasi Digital dan Keuangan UMKM

Aripin menyebut untuk pelaku UMKM di Kecamatan Cigandamekar, ini memiliki jumlah sekitar 102 pabrik dengan kelas beragam. Namun dari jumlah pabrik yang bertahan hingga sekarang tinggal puluhan pabrik yang berjalan.

"Untuk jumlah pabrik roti tumbang alias bangkrut itu ada sebanyak 8 pabrik. Kemudian untuk yang bertahan itu ada sekitar 15 pabrik roti serta sisanya itu pelaku usaha yang mengalami kembang kempis. Jadi, yang kembang kempis itu dari seminggu itu ada satu hari berjalan dan beroperasi pada umumnya," ujarnya.

Di tempat sama, Sri Ucu Sukmawati sekaligus Kabid koperasi / Plt. Kabid UMKM Perindustrian Diskopdagperin, ini mengatakan, kegiatan ini merupakan kunjungan langsung untuk menyerap keluhan atau aspirasi dari pelaku UMKM.

"Tadi kami terima keluhan, pada dasar mereka ingin di bantu dan kita mediasi antara pelaku UMKM dengan pihak perbankan dalam permodalan," katanya.

Selain dalam memediasi tadi, Kata Sri Ucu Sukmawati ini menambahkan, pemerintah terus melaksanakan program pendampingan terhadap para pelaku UMKM di setiap daerah. Hal ini diberikan sebagai upaya dalam mendongrak pendapatan dari nilai produksi melalui pemasaran.

"Semua pelaku UMKM di Kuningan ada sekitar 570 ribuan, dari jumlah itu kami berikan pendampingan. Seperti mulai dari cara pengemasan, pemasaran hingga memiliki daya tarik hingga ramai di pasar," katanya.

Terlepas itu, kata dia mengklaim bahwa di Kuningan ada daerah sentra UMKM yang merupakan kuliner khas Kuningan. "Untuk daerah sentra makanan khas di Kuningan, kita punya kampung tape ketan, ketempling, bawang goreng, alat pembersih dan daerah sentra roti juga bisa diresmikan," katanya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved