Breaking News:

Dedi Mulyadi Menangis Saat Kunjungi Keluarga Korban Konflik Lahan Tebu, Ini Solusi yang Diajukannya

Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, menemui keluarga korban meninggal dunia akibat konflik pertanahan di Desa Sumber Kulon

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
Facebook/Dedi Mulyadi
Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, menemui keluarga korban meninggal dunia akibat konflik pertanahan di Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka, yang diduga melibatkan oknum anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Kamis (7/10/2021). 

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, menemui keluarga korban meninggal dunia akibat konflik pertanahan di Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka, yang diduga melibatkan oknum anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Kamis (7/10/2021).

Dikutip dari akun Facebook Dedi Mulyadi, Dedi menemui keluarga korban pertama bernama Uyut Suhenda. Dia beralamat di Desa Sumber Kulon Kecamatan Jatitujuh. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Satu anak sudah berusia 9 tahun dan satu lagi masih dalam kandungan berusia tujuh bulan.

Korban kedua adalah Yayan Sutaryan, Ketua Bamusdes Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh. Dia meninggalkan lima orang anak. Satu anak masih berumur 2,5 tahun.

Saat melihat kondisi anak-anak dan ibu yang tengah hamil, Dedi Mulyadi menangis, meneteskan air mata.

Dari penelusuran di lapangan, menurut Dedi, konflik itu dipicu akibat sengketa lahan hak guna usaha yang melibatkan dua pihak.

Baca juga: Istri Anak Buah AHY Menangis saat Bersaksi, Suami Jadi Tersangka Tragedi Berdarah di Lahan Tebu

Pihak pertama adalah mitra perkebunan yang menggarap area seluas dua hektare. Satu lagi pihak yang ingin menggarap area itu untuk pertanian padi dan palawija tanpa keterikatan dengan perkebunan.

Menyikapi masalah ini, Dedi memiliki pandangan dan usulan solusi, yaitu:

1. Pemimpin kedua wilayah (Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka) harus bertemu untuk memetakan wilayah secara komprehensif. Yakni tentang, mana area perkebunan dan mana area pertanian non tebu.

2. Pihak perusahaan sebaiknya melibatkan aparat keamanan ketika mengerjakan lahan produksi, sejak pengolahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen pada wilayah yang terkait sengketa lahan. Sehingga konflik dapat dihindarkan sedini mungkin.

3. Politisi agar tidak menggunakan isu pertanahan untuk mencari simpati dengan janji hak kepemilikan atas tanah. Jika ini terus dilakukan, akan memicu emosi dan berdampak pada jatuhnya korban.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved