Breaking News:

Tanpa Bantuan Pemerintah AS, Inilah Kisah Pelarian Mengerikan Mahasiswa Kedokteran dari Afghanistan

Meski tanpa bantuan pemerintah AS, seorang mahasiswa kedokteran berhasil melarikan diri dari Afghanistan.

Penulis: MG Cirebon | Editor: Machmud Mubarok
Courtesy of Rohullah Sadat
Rohullah Sadat, Mahasiswa kedokteran yang akhirnya melarikan diri dari Afghanistan hanya dengan baju ganti dan buku teks kedokteran 

Tanpa Bantuan Pemerintah AS, Inilah Kisah Pelarian Mengerikan Mahasiswa Kedokteran dari Afghanistan

TRIBUNCIREBON.COM – Meski tanpa bantuan pemerintah AS, seorang mahasiswa kedokteran berhasil melarikan diri dari Afghanistan.

Melalui nypost.com, Inilah kisah Rohullah Sadat, pada Selasa sore (21/09/21), Rohullah Sadat naik penerbangan Kam Air dari Afghanistan ke Doha, Qatar, dan berdoa agar dia akhirnya bebas.

Sejak Amerika Serikat menarik pasukannya pada akhir Agustus dan negara itu jatuh ke tangan Taliban yang biadab, mahasiswa kedokteran berusia 29 tahun itu, yang juga bekerja sebagai penerjemah untuk jurnalis Toby Harnden, putus asa untuk meninggalkan negara asalnya.

“Di Afghanistan, tidak ada yang dijamin; bukan hidup saya,” kata Sadat kepada The Post dari Doha.

“Taliban, tidak semua, tetapi sebagian besar, benar-benar kejam. Mereka tidak berpendidikan. Mereka menembak orang seperti burung. Di negara-negara Barat, Anda bahkan tidak memperlakukan burung seperti mereka memperlakukan manusia. Kita hidup secara kebetulan.”

Baca juga: Kisah Pilu Masyarakat Afghanistan Melawan Kelaparan di Bawah Pemerintahan Taliban

Baca juga: Wanita Ditembak Mati Taliban Setelah Demo di Kabul Afghanistan, Anak Korban: Kapan Ibu Bangun?

Sampai minggu ini, Sadat adalah salah satu dari banyak warga negara, pemegang visa dan sekutu Afghanistan yang masih terjebak di negara itu dengan putus asa berusaha untuk melarikan diri.

Sejak penarikan Presiden Biden yang kacau, mereka terpaksa mengandalkan jaringan ad-hoc daripada dukungan pemerintah AS.

Dua kali, Sadat menghabiskan 24 jam di sebuah bus yang mencoba naik ke penerbangan di Kabul dan ditolak, sekali oleh Taliban, yang lain oleh seorang tentara Amerika.

Saat berada di bandara, dia menyaksikan orang-orang terinjak-injak hingga tewas dan kakinya terbelah secara mengerikan setelah dihancurkan oleh kerumunan yang panik.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved