SIAP-SIAP, Mulai Besok Pedagang dan Produsen Tahu Tempe Akan Mogok, Emak-emak Jadi Pusing
Paguyuban produksi tahu se-Jawa Barat berencana melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari mulai besok hingga Minggu
Elly mengatakan pemicu kenaikan kedelai karena adanya permintaan dari negara China sebesar 7.5 juta ton bulan April 2021 menyebabkan harga kedelai dunia ikut naik.
Menurut Elly Kementerian Perdagangan memastikan stok kedelai untuk kebutuhan industri tahu dan tempe mencukupi.
"Salah satu upaya untuk menekan harga kedelai, dihimbau kepada distributor untuk dapat menyalurkan langsung kepada industri pengrajin tahu dan tempe memotong mata rantai distribusi" ujar Elly.
Kebutuhan Kota Badung itu kurang lebih 8.000 ton per bulan.
Bikin Pusing Emak-emak
Akibat melambungnya harga kedelai yang menjadi bahan baku utama produksi tahu dan tempe selama beberapa minggu terakhir, menyebabkan para pengrajin tahu dan tempe di Bandung berencana menggelar aksi mogok produksi dan berjualan pada 28-30 Mei mendatang.
Rencana aksi mogok tersebut pun disayangkan oleh kaum emak-emak atau ibu rumah tangga, terlebih tahu dan tempe merupakan panganan bernilai ekonomis dan menjadi favorit anggota keluarganya.
"Ya kalau bisa mah jangan mogok lah, gimana kek caranya asal jangan mogok, soalnya tahu dan tempe udah seperti makanan wajib keluarga saya yang harus selalu ada di meja makan, saat waktu makan," ujar Anita Tresnaningsih (56) warga Riung Bandung, saat ditemui di rumahnya, Rabu (26/5/2021).
Hal senada disampaikan oleh Nina (53) warga GBI. Menurutnya, informasi rencana mogok berjualan tersebut sudah diketahuinya dari salah seorang pedagang tahu keliling langganannya sejak kemarin. Bahkan, karena hal tersebut memaksa dirinya harus membeli tahu secara lebih untuk di simpan sebagai cadangan selama beberapa hari kedepan.
"Iya saya sudah dengar bakal ada rencana mogok jualan dari si emang tahu keliling langganan. Malahan, gara-gara rencana itu saya harus nyetok tahu di kulkas, kalau-kalau seperti dulu lagi, tahu jadi langka, gara-gara yang engga ada yang jualan," ujarnya saat dihubungi melalui telepon.
Meski demikian, dirinya berharap para penjual tahu mengurungkan niatnya untuk menggelar aksi mogok produksi dan berjualan selama tiga hari tersebut. Bahkan, Ia meminta pemerintah untuk mencari solusi agar aksi mogok tersebut urung terlaksana.
"Kalau bisa sih pinginnya jangan mogok lah, soalnya meskipun mogoknya cuma tiga hari, tapi kadang imbasnya lebih dari tiga hari, tahu jadi langka lah atau justru kalau pun ada harganya justru naik juga. Harapannya, Pemerintah cari solusi lah, biar pada penjual tahu ini tetep jualan, kasian juga kan, kalau engga ada tahu dan tempe, rakyat kecil makan apa," ucapnya.
Sementara itu, Juariah (48) warga Cempaka Arum, Gede Bage berharap, agar rencana aksi mogok produksi dan berjualan pengrajin tahu di jadikan pembelajaran bagi pemerintah untuk mulai mencari importir baru penyuplai kedelai selain Amerika, dengan kualitas yang sama namun harganya ekonomis.
"Situasi ini kan terus berulang ya, terakhir itu Bulan Desember pas mau tahun baru kalau engga salah. Jadi ini semacam warning gitu lah buat Pemerintah untuk sudah waktunya mencari importir baru kedelai, karena selama ini kan kita terus-terusan impor kedelai dari Amerika. Meskipun kualitasnya bagus, tapi kalau ada yang alternatif produsen dengan sepadan kualitas yang sepadan kenapa engga. Apalagi kalau bisa lebih murah, tapi kualitasnya tetap bagus, itu lebih baik lagi," katanya saat dihubungi melalui telepon, Rabu (26/5/2021)