SIAP-SIAP, Mulai Besok Pedagang dan Produsen Tahu Tempe Akan Mogok, Emak-emak Jadi Pusing

Paguyuban produksi tahu se-Jawa Barat berencana melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari mulai besok hingga Minggu

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar.id/M Nandri Prilatama
Paguyuban produksi tahu se-Jawa Barat berencana melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari mulai besok hingga Minggu (30/5/2021). 

Dengan kondisi tersebut, Ia pun memutuskan untuk ikut aksi mogok seperti teman-temannya, agar Pemerintah segera mencari solusi agar kondisi mahalnya kedelai ini dapat kembali normal.

"Insya Allah ikut kayaknya (mogok produksi dan berjualan) seperti teman-teman yang lain," katanya.

Sementara itu, Supardi (57) perajin tahu Cibuntu lainnya mengaku, belum memutuskan untuk ikut dalam aksi mogok produksi dan berjualan tersebut. Pasalnya, dirinya mengkhawatirkan dampak dari terhentinya produksi, akan turutberdampak pada kondisi ekonomi para pegawainya yang merupakan buruh upah harian.

Terlebih, lanjutnya, di tengah kondisi pandemi covid-19 seperti saat ini, untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan saja sudah sangat sulit. Oleh karena itu, dirinya masih mempertimbangkan hal tersebut.

"Saya masih mempertimbangkan untuk ikutan, karena saya harus diskusi dulu sama para pegawai, apakah mereka siap kalau harus kehilangan pendapatan hariannya selama mogok produksi dan jualan. Apalagi saya punya tujuh pegawai yang merupakan tulang punggung keluarga, kalau mereka engga dapat uang, keluarganya gimana. Itu yang masih saya masih pikirkan," katanya saat ditemui di Jalan Cibuntu Selatan.

Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Bandung, Asep Nurdin turut menyesalkan kondisi terus melambungnya harga kedelai saat ini. Dimana hal itu hingga berdampak pada rencana aksi mogok produksi dan jualan dari para pengrajin tahu. 

"Yang pertama kita sangat menyesalkan terus terjadinya kenaikan harga kedelai ini, Karena kenaikan ini adalah imbas dari  naiknya harga jual kedelai di Amerika, yang selama ini diimpor oleh kita sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe di tanah air," ujarnya Asep saat dihubungi, Rabu (26/5/2021).

Asep mengatakan, berbagai langkah diplomatis telah dilakukan oleh Kopti dan Gapoktindo yang mendesak agar Kementerian Perdagangan RI bergerak dengan memanggil importir, untuk dapat menyesuaikan harga jual kedelai. Meski demikian, hingga kini upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Sebagai upaya solusi, Kopti Bandung pun, ujar Asep, telah mempersilakan agar para pengrajin tahu tempe untuk dapat menaikkan harga jual maksimal 30 persen atau disesuaikan dengan kondisi kenaikan harga bahan baku.

"Kita sudah mendesak pemerintah agar memanggil importir, bahkan, sudah ada pembicaraan kalau harga itu jangan lebih dari Rp. 10.500 per kilo. Tapi, kalau lihat kondisi sekarang justru potensi kenaikan harga masih bisa naik lebih tinggi lagi," ucapnya.

Meski, telah mengetahui adanya rencana aksi tersebut, namun pihaknya tidak ingin berspekulasi untuk mendukung maupun melarang aksi tersebut. Sebab, hal tersebut merupakan inisiatif dan sikap spontanitas dari para pengrajin.

"Memang kita sudah mendengar dan mengetahui akan ada rencana aksi mogok dari beberapa kawan yang mau berhenti pada tanggal 28 - 30 Mei nanti. Kita mah prinsipnya mempersilahkan, tidak melarang ataupun mengajurkan untuk mogok, karena itu mah hak mereka. Tapi selama beberapa hari ini Kopti juga banyak mendapat masukan dari para pengrajin, khususnya yang kecil-kecil, katanya kalau engga ikutan gimana, kalau ikutan juga gimana. Intinya kami (Kopti Bandung) memilih untuk mempersilahkan saja, baik yang mau ikut ataupun tidak," katanya.

Di sisi lain,  Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung tak bisa melarang aksi mogok produksi perajin tahu. Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliyah mengatakan, perajin tahu tempe saat ini hanya mengandalkan kedelai dari impor dan kebijakannya ada di pemerintah pusat.

Menurut Elly, ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga kedelai,  di antaranya harga kedelai global telah bergerak naik, bulan April masih tercatat Rp.9.200/kg, bulan Mei sudah bergerak naik tercatat Rp. 10.500/kg.

"Kedelai di Amerika Serikat belum memasuki masa panen ( sebagian besar kedelai diimpor dari Amerika Serikat," ujar Elly, Rabu (26/5).

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved