Breaking News:

PMI Asal Majalengka Nenah Arsinah Diupayakan BP2MI Agar Tak Dihukum Mati di Dubai

Pihaknya juga berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal India di Dubai untuk berkomunikasi dengan keluarga korban.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi
Editor: Mumu Mujahidin
Eki Yulianto/Tribuncirebon.com
Nung Arminah (41), kakak kandung dari Nenah Arsinah PMI asal Majalengka yang dituntut hukuman mati karena dituduh membunuh sopir majikannya 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Nenah Arsinah (38) terancam hukuman mati di Dubai, Uni Emirat Arab.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pun bertindak cepat menangani kasus yang menjerat warga Desa Ranjiwetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, tersebut.

Koordinator Pelindungan Kawasan Timur Tengah II Direktorat Pelindungan dan Pemberdayaan Kawasan Eropa dan Timur Tengah BP2MI, Jimin Naryono, mengatakan, hingga kini jajarannya masih berkoordinasi dengan sejumlah pihak.

Termasuk perwakilan RI di New Delhi, India, dalam rangka pendekatan persuasif kemanusiaan kepada keluarga korban, Mutu Muhammad Rahmatullah.

Baca juga: Setiap Hari Jumat Nenah Dijemur, Sering Dicambuk Ratusan Kali dengan Kondisi Tangan Diborgol

"Upaya ini agar keluarga korban bersedia memberikan pamaafan dan mau menerima diyat," ujar Jimin Naryono dalam keterangan tertulis yang diterima Tribuncirebon.com, Rabu (26/5/2021).

Pihaknya juga berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal India di Dubai untuk berkomunikasi dengan keluarga korban.

Namun, hingga kini belum berhasil mendapatkan nomor telepon atau pihak keluarga Mutu Muhammad Rahmatullah.

Ia mengatakan, langkah tersebut ditempuh karena mempertimbangkan kasusnya telah bergulir sejak 2014 sehingga emosi dan duka yang dialami korban mulai mereda.

"Ada peluang melakukan pendekatan agar keluarga korban bersedia mencabut tuntutan hukuman mati terhadap Nenah," kata Jimin Naryono.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Forum Pekerja Migran Indonesia (FPMI) DPD Majalengka, Muhamad Fauzi, mengatakan, kejadian bermula pada 2014 saat Nenah hendak memberi makan sopir majikannya di kamar.

Baca juga: Gerhana Bulan Mulai Jam Berapa dan Dapat Disaksikan di Mana? Yuk, Cek Jadwal GBT Super Blood Moon

Namun, Nenah dikagetkan dengan kondisi sopir majikannya yang sudah dalam keadaan meninggal.

"Melihat kejadian itu, majikan Nenah malah menjerumuskan Nenah ke penjara dengan meminta Nenah menandatangani kertas yang bertuliskan Arab gundul. Padahal, jika orang mengerti, itu kertas menyatakan bahwa yang menandatangani berarti mengaku telah membunuh," katanya.

Kondisi seperti itu, membuat Nenah langsung dibawa oleh pihak kepolisian dan dituntut hukuman mati.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved