Benjamin Netanyahu, Sosok di Balik Invasi Israel ke Palestina, 188 Jiwa Tewas Dia Anggap Tak Sengaja

Benjamin Netanyahu lahir pada 21 Oktober 1949 di Tel Aviv, Israel, dan dibesarkan di Yerusalem.

Editor: Fauzie Pradita Abbas
kolase/Serambi Indonesia
Israel semakin membabibuta menghancurkan Palestina. 

Yang paling populer adalah perannya dalam pasukan operasi khusus penyelamatan jet penumpang Sabena, yang dibajak di bandara Tel Aviv pada 1972.

Aksi penyelamatan itu dikenal dengan nama sandi "Operasi Isotop," yang dipimpin oleh pemimpin masa depan Israel, Ehud Barak.

Kemudian pada 1973, Netanyahu mengambil bagian dalam perang Timur Tengah.

Setelah menyelesaikan dinas militer tersebut, Netanyahu kembali ke AS. Dia melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana dan master di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Dorongan Anti-terorisme

Pada 1976, dia sempat bekerja dengan Boston Consulting Group. Tapi kabar buruk datang dari tanah airnya.

Saudara laki-laki tertuanya, Jonathan, terbunuh saat mencoba membebaskan sandera dari pesawat Air France yang dibajak di Uganda.

Kematian saudaranya berdampak besar pada keluarga Netanyahu. Kakaknya juga menjadi legendaris di Israel.

Netanyahu setelah itu menetap di Israel dan mendirikan lembaga anti-terorisme untuk mengenang saudaranya.

Upaya kontra terorisme internasional ini ternyata turut membantu meluncurkan karir politiknya. Hingga pada 1982, Netanyahu diutus menjadi wakil kepala misi Israel di Washington DC.

Sebagai orang yang fasih berbahasa Inggris dengan aksen Amerika yang khas, dia menjadi wajah yang dikenal di televisi AS dan menjadi perwakilan yang efektif bagi Israel.

Setelah bertugas di kedutaan Israel di Washington DC (1982-84), dia menjadi duta besar Israel untuk PBB (1984-88).

Selama berada di PBB, dia berhasil memimpin kampanye untuk mendeklasifikasi arsip PBB tentang kejahatan perang Nazi.

Pemimpin Termuda

Netanyahu kemudian terpilih sebagai anggota Knesset (parlemen Israel) dari partai sayap kanan Likud. Dia menjabat sebagai wakil menteri untuk urusan luar negeri pada 1988.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved