Berita Politik Lokal

AHY Akan Dikudeta Mantan Petinggi Demokrat dan Orang Istana, Kader PD Kuningan Klaim Solid

Gonjang-ganjing isu kudeta terhadap Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, tidak berdampak terhadap pengurus Partai Demokrat

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok

"Pak Syarief Hasan itu nyebut nama saya, buktikan, kalau saya tidak terlibat, mundur dia dari Demokrat," sambung Marzuki Alie.

Marzuki Alie mengatakan, Syarief Hasan kerap memfitnah dirinya sejak dulu di berbagai rapat internal Partai Demokrat, di mana saat itu dituduh akan melawan SBY selaku pimpinan partai.

"Dia itu selalu memfitnah saya dengan SBY sehingga saya dengan SBY yang enggak ada masalah menjadi apa sesuatu yang ada istilahnya yang membuat kita itu ada masalah.

Padahal saya dengan SBY enggak ada masalah. Dan saya enggak pernah mau meluruskan itu. Enggak ada gunanya," katanya.

Isu Kudeta Partai Demokrat, Hendar Darsono Pastikan Kader Kabupaten Sukabumi Setia kepada AHY

"Saya diamin saja, karena dia mau mencari posisi, mau dapet jabatan.

Tapi sekarang fitnah saya, dia sampaikan ke publik, ini persoalan. Ini bukan main-main, fitnah betul," papar mantan Ketua DPR itu.

Marzuki Alie juga menegaskan dirinya tidak pernah melakukan pertemuan dengan Kepala Staf kepresidenan Moeldoko untuk mengambil alih Demokrat dari AHY.

"Saya bertemu dengan pak Moeldoko di mana? Saya telepon apa? Kalau saya ngomong sama dia (Moeldoko), harus buktikan, kalau tidak bisa buktikan mundur loh," ucapnya.

Menanggapi hal itu, Yunarto Wijaya pun ikut berkomentar.

Ia tampaknya miris dengan isu kudeta tersebut.

Yunarto Wijaya tak menyangka jika isu kudeta ini malah berujung ancaman untuk membongkar kejelekan partai.

Ia pun menulis komentar pada artikel soal ancaman Marzuki Alie kepada AHY.

"Ini kok jadi gini ya," tulis Yunarto Wijaya.

Istana Cueki AHY

PIhak Istana Negara membenarkan telah menerima surat yang dikirim Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono.

Istana pun menanggapi dan menjawab bahwa apa yang disampaikan AHY adalah urusan internal Partai Demokrat.

Menurut Mensesneg Pratikno, Presiden sudah mengetahui surat tersebut. Istana lanjut Pratikno, tidak akan menjawab surat dari AHY tersebut.

Karena, kata Pratikno, apa yang disampaikan merupakan urusan internal Partai Demokrat.

"Presiden tidak mencampuri urusan internal partai. Silakan diselesaikan oleh partai sendiri," kata Pratikno dalam wawancara yang ditayangkan Kompas TV, Kamis (4/2/2021).

Ayu Ting Ting Diisukan Batal Nikah, Hapus Foto-foto Adit Jayusman: Mungkin Memang Belum Jodoh

Geoffrey Castillion Dipinjamkan ke Como, Ini Harapan Sang Bomber Persib Bandung

Ramalan Zodiak Besok Jumat 5 Februari 2021: Pisces Dendam, Keuangan Taurus Memuaskan

Secara terpisah,  Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko tak menjawab secara jelas ketika ditanya kelanjutan surat yang dikirim Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kepada Presiden Joko Widodo.

Surat yang dimaksud menyoal tentang isu kudeta AHY dari Partai Demokrat yang diduga melibatkan pejabat penting di lingkaran dekat Presiden Jokowi dan menyeret nama Moeldoko.

"Orang ngopi-ngopi kok masa lapor Presiden, yang enggak-enggak aja," kata Moeldoko di kediamannya, Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Saat ditanya tentang respons Presiden terkait isu ini, Moeldoko lagi-lagi tak memberikan jawaban tegas. Ia menyebutkan, banyak hal yang harus diurus Kepala Negara ketimbang campur tangan dalam isu kudeta di Partai Demokrat.

"Memang orang kurang kerjaan apa Pak Presiden bicara ini, ngurusi Covid aja enggak keruan kita pusing, ngapain mikirin yang enggak-enggak begini," ujarnya.

Kendati demikian, Moeldoko mengakui beberapa kali melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak. Namun, ia tak menyebutkan detail pihak-pihak yang dimaksud.

Moeldoko mengungkap pertemuan itu beberapa kali dilakukan di rumahnya dan beberapa kali di hotel. Dalam pertemuan tersebut, Moeldoko mengaku mendengarkan banyak cerita dan emosi.

Namun, Moeldoko menyebut pertemuan itu hanya sekadar ngopi-ngopi. Ia menegaskan tak punya kuasa untuk mengudeta kepemimpinan Partai Demokrat.

"Bingung juga ya saya, orang ngopi-ngopi kok bisa ramai begini," katanya.

Moeldoko memastikan bahwa ia merupakan orang di luar Partai Demokrat yang tak punya hak melakukan kudeta.

Sebab, pergantian kepemimpinan partai mestinya mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

"Saya siapa sih? Saya ini apa? Wong biasa-biasa aja. Di Demokrat ada Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), ada putranya, Mas AHY, apalagi kemarin dipilih secara aklamasi. Kenapa mesti takut dia," kata Moeldoko.

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved