Human Interest Story

SPP Tertunggak 8 Bulan, Reza Tak Bisa Ambil Ijazah di SMAN 18 Garut, Ini Kata Pihak Sekolah

ihak sekolah menyebut harus tetap menyelesaikan administrasi yang jadi tunggakan Reza. Ia harus tetap membayar setengah

TribunJabar.id/Firman Wijaksana
Oyi Supriatna (52), orang tua Reza Subagja siswa lulusan SMAN 18 Garut saat ditemui di rumah adiknya Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Senin (6/7). Oyi bingung karena tak bisa mengambil ijazah anaknya karena menunggak biaya SPP selama delapan bulan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT -  Sudah delapan bulan, Oyi Supriatna (52), tak bisa bekerja karena pandangannya sudah kabur. Akibatnya, Oyi tak bisa mengais rezki untuk membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) anaknya.

Selama delapan bulan, anaknya Reza Subagja (18) menunggak spp ke sekolahnya di SMAN 18 Garut. Ujungnya, Reza yang sudah lulus tahun ini disebut Oyi tak bisa mengambil ijazah kelulusan.

Alasannya, ada uang SPP yang belum dibayarkan. Termasuk uang buku dan perpisahan dengan total Rp 2 juta.

"Saya hampir pinjam ke rentenir karena ingin ambil bukti kelulusan anak saya. Tapi saya berpikir lagi dari mana uang untuk bayar ke rentenir," ujar Oyi saat ditemui di teras rumah adiknya di Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan.

Oyi juga sempat akan menjual warisan milik istrinya berupa sebidang kebun untuk menebus ijazah anaknya. Namun hal itu juga urung dilakukan. Pasalnya kebun itu jadi harta satu-satunya yang dimiliki.

"Istri cuma kerja ngobras. Saya sudah tidak bisa kerja karena sudah kabur penglihatan. Makan sehari-hari saja seadanya," ucapnya.

Saat ditemui di rumahnya, istrinya Dede Sumarni dan anaknya sedang tak ada di rumah. Keduanya bersama Badan Perwakilan Desa (BPD) Godog sedang pergi ke sekolah untuk mencoba mengambil ijazah.

Rencananya, jika ijazah bisa diambil, Reza akan mengikuti program untuk bekerja di Jepang. Hanya saja rencana itu belum bisa dilakukan karena ijazah Reza masih tertahan di sekolah.

Sejak lima tahun lalu, Oyi mengalami sakit diabetes. Saat pertama kali sakit, Oyi masih bisa bekerja. Namun sejak delapan bulan lalu, penyakit tersebut rupanya menjadikan pandangannya berkurang. Oyi pun hanya bisa diam di rumah dan tak banyak melakukan aktivitas.

Halaman
123
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved