Jumat, 1 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Human Interest Story

Aning Suhaeni, Guru SD di Kuningan Rela Datang Mengajar ke Rumah Muridnya yang Tak Punya Handphone

Aning menjelaskan, tanggung jawab sebagai tenaga pendidikan dalam mentransfer pengetahuan menjadi prioritas dalam kehidupan pribadi sebagai guru

Tayang:
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mutiara Suci Erlanti
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Guru Aning saat mengajar muridnya, Susi yang didampingi ibunya di rumah Susi. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Pandemi Covid-19 berdampak pada semua bidang kehidupan, termasuk sektor pendidikan hingga saat ini.

Para murid dan siswa terpaksa harus belajar di rumah demi menghindari penularan virus corona.

“Berakibat pada KBM (Kegiatan Belajar Mengajar, red) tidak dilakukan seperti biasa,” ujar Aning Suhaeni, tenaga pengajar di SDN 2 Jatisari, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, saat menceritakan kepada Tribuncirebon.com, Rabu (13/5/2020).

Fadli Zon Minta Kenaikan BPJS Dibatalkan: Rakyat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Lalu Terlindas Mobil

Aning menjelaskan, tanggung jawab sebagai tenaga pendidikan dalam mentransfer pengetahuan menjadi prioritas dalam kehidupan pribadi sebagai seorang guru.

Sejak pemberlakuan belajar melalui online, ia tidak pernah memikirkan besaran uang, untuk membeli paket kuota sebagai kebutuhan smartphone dia.

“Bersyukur hingga saat ini paket kuota mah bisa teratasi,” kata Aning.

Namun, lanjut dia, yang menjadi beban sebagai tenaga pendidik adalah anak didik yang tidak memilki ponsel untuk belajar secara online.

Aning punya anak didik bernama Susi, murid Kelas 4 SDN Jatisari yang tidak memiliki handphone.

Berlatar belakang tersebut, Aning bertekad untuk melakukan kewajiban yang sama terhadap anak murid dalam memberikan pengetahuan sesuai mata pelajaran.

“Saya mengajar tidak pandang pilih diantara anak didik,” katanya.

Aning yang sudah mengajar sejak tahun 2004 ini meluangkan waktu untuk selalu datang ke rumah muridnya itu. 

“Setiap hari saya datang ke rumah Susi untuk melangsungkan KBM,” katanya.

 MUI Keluarkan Fatwa Sholat Idul Fitri Saat Covid-19, Jika Kondisi Terkendali, Sholat di Lapangan

 PSBB Memasuki Hari Ke-8, Tapi Perkembangan Covid-19 Justru Meningkat di Indramayu

 Untuk Pertama Kalinya Terjadi Kasus Reinfeksi Covid-19 di Indramayu, Begini Penjelasannya

Aktivitas itu dilakukan sejak pemberlakuan KBM tidak boleh bertatap muka yang digulirkan pemerintah.

“Sudah lama, saya tiap hari mengajar dan datang langsung ke rumah Susi seperti ini,” ujarnya.

Mengenai waktu belajar, Aning menceritakan, hal itu dilakukan setiap beres di tempat tinggalnya.

“Jadi kalau sudah beres di rumah, saya mengajar dirumah Susi,” katanya.

Jam pelajaran pun tak berpatokan pada ketentuan jam pelajaran seperti di sekolah.

”Terkadang pernah sampai tiga jam atau lebih. Karena Susi belum lancar Calistung (Baca Tulis Berhitung,red),” katanya.

Untuk menempuh perjalanan, Aning menggunakan kendaraan roda dua dan harus hati – hati dalam melewati jalan kurang bagus.

“Jarak dari rumah saya ke rumah Susi paling 20 menitan lah,” katanya.

Saat mengajar Susi, kata Aning, orang tua Susi tidak pernah jauh ketika KBM berlangsung di rumahnya.

Niat dan Tata Cara Shalat Idul Fitri di Rumah, Lengkap dengan Aturan Khutbah

“Jadi, jika sedang mengajar Susi, ibunya itu selalu berada di samping Susi,” ungkap Aning.

Belakangan diketahui orang tua Susi memiliki gangguan mental dalam fisiknya. ”Informasi dari saudara Ibunya Susi. Maksud gangguan mental itu trauma akibat pengalaman rumah tangga sebalumnya,” katanya.

Bentuk trauma itu, kata Aning, terjadi sebelum menikah dengan suami (bapaknya Susi, red) yang sudah lama meninggal dunia.

“Singkat cerita begini, Ibunya Susi atau Cahyami (42) pisah dengan suami pertamanya dan ia ditinggalkan, tanpa diberikan hak asuh,” kata Aning seraya menambahkan bahwa meninggalnya orang tua Susi terjadi ketika Susi Balita (bawah umur lima tahun, red).

Pengalaman itu, kata Aning, di perparah ketika terjadi pengambilan anak pertama oleh mantan suaminya. “Mungkin dari situ membuat Cahyami (42) seperti ini, ” katanya.

Anda Pernah Dapat Notifikasi WhatsApp Nomor Telepon Anda Tidak Lagi Terdaftar? Awas Jangan Klik OK

Apalagi anak yang dibawa suami terdahulu itu merupakan anak pertama.

“Dan sampai sekarang tidak boleh dipertemukan antara dia dan anaknya, oleh mantan suaminya,”katanya.

Sejak kejadian tersebut, kata Aning, Cahyami (42) selalu mendampingi Susi dalam kegiatan apapun.

”Seperti sebelum wabah corona, ketika Susi belajar di kelas tidak jauh dari Ibu Cahyami (selalu bareng dalam kelas,red),”ungkapnya.

Praktik ini berlangsung mulai Susi mengikuti pendidikan sebagai pelajar SDN 2 Jatisari. “Kondisi ini terjadi pada Susi yang sekarang kelas empat,” ujarnya.

Niat Bayar Zakat Fitrah untuk Sendiri dan Keluarga, Dilengkapi Tulisan Arab & Latin, Yuk Bayar Zakat

Rupanya kondisi itu membuat  Susi seakan terkungkung dan tidak boleh berlama-lama jauh dari Ibunya.

“Sebab satu kasus pernah terjadi, ketika Susi jauh dari Ibunya dan bermain terlihat riang seperti anak sebaya pada umumnya,” kata Aning.

Menyinggung soal kebutuhan hajat hidup Ibu Cahyami bersama Susi, kata Aning, dia mengandalkan perhatian orang tuanya. “Jadi segala kebutuhan hidup keluarga Ibu Cahyami itu dari Abahnya Susi,” ujarnya.

Aning berharap pihak lain bisa membantu untuk kesembuhan mental Ibu Cahyami. “Sebab ini berdampak terhadap perkembangan anaknya,” ungkapnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved