PDP di Indramayu Meninggal Dunia
BREAKING NEWS Satu Lagi PDP Corona di Indramayu Meninggal, Padahal Hasil Rapid Test Negatif
Deden Bonni Koswara mengatakan, pasien tersebut meninggal pada Minggu (29/3/2020) pada pukul 18.15 WIB kemarin.
Penulis: Handhika Rahman | Editor: Mumu Mujahidin
• Siswi SMP Diperkosa oleh Mantan Kakak Ipar Sebanyak 3 Kali Hingga Hamil 6 Bulan, Begini Modusnya
Dia mengeluhkan sesak napas, demam tinggi, dan gejala-gejala lainnya yang mengarah pada gejala virus corona.
"Pada tanggal 25 keadaan pasien memburuk kemudian jam 02.00 WiB tanggal 26 Maret pasien dinyatakan meninggal dunia," ujar dia.
Adapun berdasarkan hasil pemeriksaan medis, selain mengacu pada gejala virus corona, pasien PDP itu juga diketahui memiliki penyakit gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF).
"Untuk diagnosa, pasien menderita congestive heart failure (CHF) dengan PDP," ujar dia.
Saat ini jenazah pasien sudah dimakamkan pada hari kemarin.
Proses pemakaman pasien pun dilakukan sesuai dengan protap yang sudah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
• BREAKING NEWS - Polisi Cilimus Bubarkan Hajat Pernikahan di Desa Sampora Kuningan
• Kalahkan China, Jumlah Kasus Covid-19 di Amerika Serikat AS Meningkat, Menjadi Tertinggi di Dunia
Kejadian Sebelumnya
Seorang pasien laki-laki berusia (48) meninggal dunia di RS Mitra Plumbon Indramayu pada Selasa (24/3/2020) kemarin sekitar pukul 11.40 WIB.
Pasien tersebut masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dugaan virus corona atau Covid-19.
Hal ini dikarenakan pasien yang bersangkutan meski merupakan warga asli Kabupaten Indramayu, namun dirinya bertempat tinggal di daerah Bekasi.
Direktur RS Mitra Plumbon Indramayu, dr. Dedi Rohendi mengatakan, pasien tersebut meninggal saat persiapkan hendak dirujuk ke rumah sakit rujukan virus corona, dalam hal ini RSUD Indramayu.
"Jam 11 kita siapkan untuk pemberangkatan ke RSUD Indramayu, tapi saat itu pasien keadaannya memburuk, tiba-tiba pasien sesak napas berat dan tidak tertolong nyawanya lalu meninggal pukul 11.40 WIB," ujar dia kepada Tribuncirebon.com di rumah sakit setempat, Rabu (25/3/2020).
Dr. Dedi Rohendi menceritakan, pasien tersebut sebelumnya datang ke RS Mitra Plumbon diantar oleh driver taksi online pada Senin (23/3/2020) pukul 16.25 WIB.
• Belasan Aktivis HIPMI Akan Mengikuti Rapid Test Covid-29 Usai Hadiri Acara Musda di Karawang
• Calon Pengantin di Majalengka Masih Bisa Akad Nikah Meski Dilarang Resepsi, Ini Tatacara Akad Nikah
• Seorang Pria di China Tewas karena Hantavirus, Bagaimana Penularan, Gejala dan Pencegahannya
Saat itu pasien tengah mengalami demam tinggi, suhu tubuh pasien lebih dari 38 derajat celcius.
Pasien pun langsung dibawa ke ruang screening rumah sakit setempat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Di sana pasien mengeluhkan panas, batuk berdahak, pilek, sesak napas, nyeri kepala, dan nyeri di seluruh tubuh.
Tim medis rumah sakit pun segera melakukan pemeriksaan fisik, rontgen dan uji laboratorium.
"Kita juga konsul dulu ke dokter spesialis paru, kebetulan dokter paru di sini dan di RSUD Indramayu itu sama," ujar dia.
Direktur RS Mitra Plumbon Indramayu, dr. Dedi Rohendi, Rabu (25/3/2020). (TribunCirebon.com/Handhika Rahman)
Hasilnya, gejala yang dialami pasien memang mengarah pada gejala virus corona.
Pasien pun ditetapkan sebagai kategori PDP virus corona.
Kendati demikian, hingga meninggal dunia pasien tersebut belum bisa ditetapkan positif atau negatif virus corona.
"Karena alat dan petugasnya tidak ada," ucapnya.
RS Kesulitan
Pihak RS Mitra Plumbon Indramayu kesulitan merujuk pasien berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dugaan virus corona atau Covid-19 ke rumah sakit rujukan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
//
Pasien PDP itu diketahui merupakan laki-laki berusia 48 Tahun. Meski merupakan asli warga Kabupaten Indramayu, namun yang bersangkutan diketahui bertempat tinggal di daerah Bekasi.
Dr Dedi Rohendi mengatakan, pihaknya sudah mencoba menghubungi sebanyak 15 rumah sakit rujukan untuk menampung pasien tersebut.
Namun, dari semua rumah sakit itu tidak satu pun yang bisa menampung pasien karena kondisinya rumah sakit sudah penuh.
"Kami juga sudah membentuk Satgas Covid-19 lalu menghubungi sebanyak 15 rumah sakit rujukan tapi tidak ketemu, jadi bukan nolak ya hanya saja di setiap rumah sakit itu penuh, termasuk di RSUD Indramayu," ujar dia kepada Tribuncirebon.com di RS Mitra Plumbon Indramayu, Rabu (25/3/2020).
Rumah sakit yang dicoba dihubungi itu meliputi RSUD Indramayu, RSU Gunung Jati, RS Arjawinangun, RS Waled, RS Subang, RS Hasan Sadikin, RS Purwokerto, RS Paru Sulianti Suroso, RS Dustira Bandung, RS Fatmawati, RS Rotin Sulu, RS Persahabatan, RSPAD Gatot Soebroto, RS Darurat Wisma Atlet.
• INILAH Doa Qunut Nazilah, MUI Imbau Umat Islam Baca Doa Itu, Agar Terhindar dari Musibah Covid-19
• Seorang Ahli di China Bongkar Rahasia Agar Virus Corona Bisa Segera Lenyap, Harus Ikuti Syarat Ini
• TAHAPAN Gejala Penderita Covid-19, Hari Ke-1 Seperti Masuk Angin, Hari ke-6 Mual & Sulit Menelan
Usaha tersebut dilakukan RS Mitra Plumbon Indramayu seusai berkonsultasi dengan dokter spesialis paru yang menyarankan agar pasien sebaiknya di rawat di rumah sakit rujukan.
"Kebetulan dokter paru di sini dan di RSUD Indramayu itu sama, dia menyarankan untuk dirujuk," ujar dia.
Tim Satgas Covid-19 RS Mitra Plumbon Indramayu pun berusaha mencari rumah sakit rujukan pada Rabu (25/3/2020) mulai pukul 19.00 WIB hingga esok dini harinya pukul 04.00 WIB.
Namun, tidak ada satu pun rumah sakit yang kosong untuk menampung pasien tersebut.
Pihak rumah sakit akhirnya memberi edukasi kepada pasien untuk bersabar dan sementara waktu berkenan dirawat di rumah sakit setempat.
RS Mitra Plumbon Indramayu sendiri diketahui sudah mempersiapkan ruang isolasi khusus secara mandiri sebagai upaya bilamana pasien virus corona semakin membludak dan rumah sakit rujukan sudah tidak mampu menampung para pasien.
Sementara itu, disampaikan dr Dedi Rohendi, pada Selasa (24/3/2020) dokter spesialis paru rumah sakit setempat tiba di rumah sakit dan melihat kondisi pasien tersebut.
Dokter sebut tetap meminta agar pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan lalu menghubungi langsung pihak RSUD Indramayu secara pribadi untuk segera menyediakan tempat.
"Akhirnya beliau sendiri yang menghubungi RSUD Indramayu dan akhirnya rumah sakit daerah siap untuk menerima rujukan kira-kira jam 10. Jam 11 kita siapkan untuk pemberangkatan ke RSUD Indramayu," ujarnya.
Kendati demikian, saat persiapkan hendak dirujuk ke RSUD Indramayu, pasien tiba-tiba sesak napas berat dan meninggal dunia pada pukul 11.40 WIB
"Jam 11 kita siapkan untuk pemberangkatan ke RSUD Indramayu, tapi saat itu pasien keadaannya memburuk, tiba-tiba pasien sesak napas berat dan tidak tertolong nyawanya lalu meninggal pukul 11.40 WIB," ujarnya. (*)