Warga Nagrak Sumedang Heboh dengan Penemuan Ribuan Bebatuan Berbentuk Unik, Lokasi Jarang Didatangi
Batu-batu yang nampak berjumlah ratusan hingga ribuan buah tersebut terletak berdempetan bahkan hingga tumpang tindih.
“Jenis batunya berupa batu andesit. Jenis batu andesit ini mudah dibentuk atau dipahat , baik itu untuk prasasti, patung, arca dan hiasan lainnya. Juga sering dibentuk oleh penduduk untuk fondasi rumah panggung,” katanya.
• Tempat Praktek Ningsih Tinampi Digeruduk Dinas dan Polda, Terungkap Pengobatannya Aliran Kepercayaan
• Wali Kota Risma Buka Suara Soal Penghinaan Dirinya: Muka Saya Dibilang Jelek & Tak Layak di Jakarta
• Iis Dahlia Pernah Labrak Seorang Pramugari Gara-gara Panggil Sang Suami dengan Panggilan Tak Biasa
Bukan tak mungkin pada zaman Kerajaan Galuh batu susun di Blok Rompe digunakan untuk pembuatan prasasti yang kini ditemukan di Situs Astana Gede Kawali.
Sementara Dr Oman Abdurahman, Kepala Museum Geologi Bandung menyebutkan keberadaan batu susun Blok Rompe ini lebih tua dari zaman Kerajaan Galuh. “Batu susun ini terbentuk secara alami, dari proses vulkanik. Mungkin ratusan ribu tahun atau jutaan tahun lalu. Bukan peninggalan sejarah,” ujar Oman, ahli geologi asal Desa/Kecamatan Lumbung Ciamis ini.
Meski bukan peninggalan sejarah, menurut Oman, batu susun Blok Rompe ini bisa dikembangkan jadi destinasi wisata. Keberadaan batu susun yang unik ini kan jarang ditemukan, bisa menjadi daya tarik wisata.
Apalagi lokasi temuan batu susun di Blok Rompe ini menurut cerita rakyat dulunya berupa leuwi Sungai Cikadondong yang kemudian menyusut jadi selokan. Selain ditemukan batu susun di kawasan Blok Rompe juga ditemukan batu kuda, batu ranjang, putra pinggan yang berlokasi antara Gunung Sawal sampai Rompe.
Pendapat yang berbeda justru muncul dari Budimansyah, peneliti sejarah yang bekerja secara freelance dan sering melakukan penelitian arsitektur arkeologi. “Batu susun ini memang terbentuk dari proses alam. Tapi pada zaman Kerajaan Galuh mungkin saja kawasan Blok Rompe pernah dijadikan sebagai pusat logistik berupa daerah pertanian dan lumbung pangan. Dari berbagai penelitian sejarah yang dilakukan, kawasan Ciamis Utara merupakan daerah pemasok logistic bagi pusat Kerajaan Galuh di Kawali,” ujar Budimansyah yang akrab disapa mang Odon.
Dari hasil penelitian tata ruang sejarah Kerajaan Galuh yang dilakukan tahun 2017 kata Budiman, keraton Kerajaan Galuh berada di Kawali yang disebut Keraton Surawisesa yang kini menjadi areal Situs Astana Gede Kawali dengan luas 4,6 hektare. Sementara wilayah ibu kotanya tak hanya meliputi Kawali tetapi sampai ke Rajadesa, Selacai (Cipaku) dan Lumbung sebagai pusat logistik keraton.
Pintu gerbang kota dulunya berada di Blok Kiara Lawang yang kini menjadi Pasar Galuh Kawali. Kejayaan Kawali sebagai ibukota Kerajaan Galuh mulai meredup setelah Sri Baduga Maharaja (Siliwangi) memindahkan ibu kota Kerajaan Galuh Pakuan (gabungan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda) ke Pajajaran Bogor.
Penelitian awal yang dilakukan Oman dan kawan-kawan akan diekspose di Balai Desa Sukaraharja Lumbung Jumat (6/2). “Kami melakukan penelitian awal ini atas surat yang kami terima dari Kades Sukaraharja seminggu lalu. Kami minta lokasi batu susun Rompe ini diberikan batas aman sehingga jangan sampai ada yang mengganggunya,” ujar Oman Abdurahman, Kepala Museum Geologi Bandung.
Pjs Kades Sukaraharja, R Dede Karimana menyebutkan pihaknya segera akan membuat pagar di zona inti agar keamanan dan kenyamanan Batu Susun Blok Rompe ini terjaga. “Tadi siang sudah dipasang police line, jadi pengunjung tidak bisa langsung menyentuh batu susun. Untuk memudahkan akses kami sudah menata jalan setapak menuju lokasi,” ujar Pjs Kades Sukaraharja, R Dede Karimin. (*)