Partai Gelora Resmikan Kepengurusan 27 DPD di Jawa Barat, Mayoritas Pengurus Mantan PKS

dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan aplikasi digital untuk merekrut dan pendataan kadernya, tepatnya pada 16 Desember 2019.

Editor: Machmud Mubarok
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Ketua Umum Partai Gelora (Gelombang Rakyat) DPW Jawa Barat, Haris Yuliana berswafoto bersama jajaran pengurus pada acara Penyerahan SK Kepengurusan Partai Gelora Kepada 27 Ketua DPD Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (20/11/2019). Dengan penyerahan SK tersebut, menjadi landasan tugas setiap DPD untuk membentuk kepengurusan sampai tingkat paling bawah 

Anis Matta tidak ingin Partai Gelora terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif, antara Nasionalis atau Islam.

Golongan Kiri atau Kanan.

"Kita ingin menghentikan perdebatan, bahwa Islam dan Nasionalis ini sudah selesai. Tapi untuk itu kita perlu membuka diri kita semuanya kepada seluruh komponen bangsa, dan mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk terlibat," tuturnya.

"Jadi satu narasi besar yang diperlukan Indonesia adalah narasi yang mampu menyatukan seluruh komponen bangsa. Menyatukan elitenya untuk sama-sama memasuki gelombang baru dalam sejarah kita itu. Itu idenya yang paling fundamental," ujar Anis Matta.

Berikut Wawancara Eksklusif Tribun Network bersama Anis Matta:

Apa yang menjadi dasar berdirinya Partai Gelora?

Jadi saya tidak menafikan, tidak memungkiri, adanya konflik di internal PKS. Dan menjadi salah satu trigger lahirnya partai ini. Tapi sebenarnya akar pemikirannya sudah ada sejak lama bukan sebagai partai, tetapi sebagai narasi. Jadi ketika saya menulis buku Gelombang Ketiga tahun 2013 yang lalu. Ide-ide ini sudah kita kembangkan jauh. Ide-ide ke-Indonesiaan tentang narasi baru Indonesia sudah kita kembangkan. Tapi memang kemudian konflik di internal PKS memicu lebih cepat lahirnya atau keputusan untuk melahirkan satu partai baru.

Apa yang membedakan PKS dengan Partai Gelora?

Sebenarnya perbedaan utamanya itu pada semangat integrasi ke-Indonesiaan. Saya merasakan bahwa 10 tahun pertama dari 1998-2009 kita mengalami pergulatan demokrasi yang luar biasa intensnya. Tapi kemudian saya merasakan di tataran nasional ini ada krisis narasi. Saya kira juga krisis kepemimpinan karena itu kita di PKS ketika itu, terutama saya dan teman-teman ini, mulai mengalami pergulatan memikirkan tentang narasi baru Indonesia, maka lahirlah Gelombang Ketiga itu. Tapi sebenarnya kita tidak pernah menduga bahwa ini nanti ujungnya satu partai baru. Kita baru memutuskan membentuk partai baru, setelah berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik di internal PKS itu tidak ada jalan lagi. Akhirnya baru kita melangkah untuk itu. Sebetulnya kita sempat berpikir bahwa narasi yang selama ini tetap bisa kita pakai di kendaraan yang lama, yaitu di PKS. Tetapi konflik ini tidak terbendung.

Artinya narasi yang ada di PKS saat ini, menurut Anda sudah melenceng? Anda ingin membawa partai ini berada di 'tengah'?

Menurut saya ada persoalan di internal, di institusi di PKS. Tetapi yang lebih penting menurut saya adalah kita tidak terintegrasi sepenuhnya dalam semangat ke-Indonesiaan itu yang menurut saya penting. Misalnya soal ide keterbukaan yang pernah kita buka dulu di Bali. Yang mendapatkan pertentangan luar biasa di dalam. Sehingga menurut saya bahwa, jika kita ingin menjadi kekuatan politik yang memimpin Indonesia, kita harus membuka diri terhadap seluruh kelompok, seluruh komponen bangsa yang ada di negeri kita ini. Karena itu ini ada persoalan. Bahwa kita tidak seutuhnya terintegrasi dengan Indonesia. Sehingga kalau Anda menanyakan apa perbedaannya, saya kira adalah pada keterbukaan. Karena itu di sini, azas yang kita pakai adalah Pancasila. Tetapi kita tetap menegaskan jati diri kita sebagai kekuatan Islam Politik. Sebab, kita tidak ingin terus menerus ada perdebatan yang tidak produktif, yaitu antara Islam dan Nasionalis. Kita ingin menghentikan perdebatan bahwa Islam dan Nasionalis ini sudah selesai. Tapi untuk itu kita perlu membuka diri kita semuanya kepada seluruh komponen bangsa, dan mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk terlibat. Jadi satu narasi besar yang diperlukan Indonesia adalah narasi yang mampu menyatukan seluruh komponen bangsa. Menyatukan elitenya untuk sama-sama memasuki gelombang baru dalam sejarah kita itu. Itu idenya yang paling fundamental.

Ada 99 deklarator. Siapa-siapa saja public figure yang ikut membidangi organisasi ini?

Saya kira sebagian besarnya sudah Anda ketahui. Ada Pak Fachri Hamzah sebagai Wakil Ketua Umum, ada Pak Mahfudz Siddiq sebagai Sekretaris Jenderal, ada Pak Ahmad Riyaldi sebagai Bendahara Umum. Saya kira banyak ya.

Apakah Anda yakin akan menggerus akar rumput PKS? Kemudian bergabung ke Partai Gelora?

Kita membuka untuk seluruh komponen bangsa terlibat di sini. Karena itu kehadiran kami tidak perlu diartikan sebagai ancaman bagi yang lain. Tidak perlu. Tapi kita ingin semua komponen bangsa terlibat. Kanan, tengah, kiri, bisa terlibat di sini. Tua, muda, semua terlibat di sini.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved