Jemaah Bebas Tinggal dan Dapat Makan di Masjid Bekas Markas Polisi di Stasiun Timur
Meski bentuknya sederhana, masjid seluas 200 meter persegi yang berdiri di lahan seluas 400 meter persegi ini selalu ramai dikunjungi masyarakat dari
Laporan Wartawan Tribun, Cipta Permana
TRIBUNCIREBON.COM - BERBENTUK persegi panjang, berlantai dua, dari luar bangunan ini sama sekali tak terlihat seperti masjid pada umumnya. Daun jendela kayunya berpola sisir. Tak ada kubah yang menjadi penanda.
Petunjuk bahwa bangunan tua ini adalah masjid hanyalah tulisan besar Masjid Saifuddaulah berwarna biru, tepat di bawah atapnya.
Meski bentuknya sederhana, masjid seluas 200 meter persegi yang berdiri di lahan seluas 400 meter persegi ini selalu ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Sebagian adalah mereka yang baru turun dari kereta di Stasiun Bandung. Sebagian lagi mereka yang hendak naik kereta dan tengah menunggu jadwal pemberangkatan. Ada juga warga sekitar, termasuk para pedagang, sopir taksi, dan lain-lain.
• TKI Asal Purwakarta Minta Dipulangkan dari Arab: Tolong Pak Jokowi Sudah 11 Tahun Tak Pulang-pulang
• Sopir Truk Dipalak di Kawasan Industri Cibaligo Cimahi, Lihat Yang Dilakukan Sang Sopir Hingga Viral
• Waspada, Jangan Buang Puntung Rokok dan Bakar Sampah Sembarangan, Begini Akibatnya
Zaky Roby Cahyadi, pengurus DKM Masjid Saifuddaulah, mengatakan, selain memiliki ruang untuk salat, masjid ini dilengkapi kamar istirahat, dapur, dan kamar mandi, yang dikelola oleh Corps Mubaligh Bandung (CMB).
Listrik, air, dan semua fasilitas itu dapat dimanfaatkan secara bebas dan gratis oleh siapa pun. Masjid ini juga terbuka selama 24 jam setiap hari.
Setiap pekan, seusai salat Jumat, di masjid ini juga diadakan botram atau makan bersama yang bisa dihadiri oleh siapa pun.
"Setiap hari Jumat, alhamdulillah masjid ini selalu penuh menampung jemaah. Bahkan banyak jemaah yang terpaksa menggelar sajadahnya hingga trotoar jalan karena keterbatasan tempat. Botram seusai Jumatan sudah jadi tradisi di masjid ini. Makanan dan minumannya kami masak langsung di dapur masjid," ujar Zaky di Masjid Saifuddaulah, Rabu (4/9).
• Gerombolan Monyet dari Curug Cimahi Serbu Rumah-rumah Warga Hingga Bikin Resah, Ini Yang Mereka Cari
• MOGOK, Mobil Dinas RI 1 Presiden Jokowi 2 Kali Mogok Saat Kunjungan Kerja, Sampai Pindah Mobil
• INNALILLAHI, 1 Jemaah Haji Majalengka Ada Yang Meninggal, Kini Sudah Tercatat 4 Jemaah Meninggal
Zaky mengatakan, sebelum berfungsi sebagai masjid, bangunan ini sempat digunakan sebagai koperasi pertanian yang dikelola pemerintah.
Bangunan bahkan sempat berfungsi sebagai markas Polsek Sumur Bandung dan sekretariat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) yang bergabung menjadi CMB.
Sempat mengalami gejolak perebutan kepemilikan pada 2016, bangunan ini akhirnya dibeli secara utuh dan dihibahkan untuk dipergunakan sebagai masjid.
"Karena kami ingin menjadikan esensi masjid itu merupakan tempat yang dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi siapa pun, maka kami membuat konsep masjid transit, apalagi kami berdiri dekat dengan pintu keluar Stasiun Bandung.
Saat ini kami memang hanya memiliki satu kamar transit bagi ikhwan (laki-laki) dan satu kamar untuk akhwat (perempuan), tapi nanti jumlahnya bertambah," ucapnya
• Dituding Najwa Sihab Terkesan Menutupi Informasi Rusuh di Papua, Wiranto: Jangan Asal Nuduh Ya!
• Korban Tenggelam di Sungai Cimanuk Langsung Dimakamkan, Ini Alasannya Kata Kepala Dusun
• Alunan OST Bioshock Infinite Iringi Muhtar Amin Saat Gantung Diri, Liriknya Bikin Merinding & Sedih
Zaky mengatakan, upaya perluasan bangunan Masjid Saifuddaulah ini tengah mereka lakukan. Rencananya, mereka akan membangun 30 kamar berkonsep kamar kapsul, dengan pembagian 15 kamar ikhwan dan 15 kamar akhwat. Fasilitas ini, nantinya juga tidak akan dikomersialkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/masjid-saifuddaulah.jpg)