Senin, 1 Juni 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Rahasia Sukses 15 Ribu Pemuda Papua

Dedi Mulyadi ke Gedung PYCH, Buku Ini Ungkap Rahasia Sukses 15 Ribu Pemuda Papua

Dedi Mulyadi ke Gedung PYCH, Buku Ini Ungkap Rahasia Sukses 15 Ribu Pemuda Papua

Tayang:
Tribun Cirebon/Dok. Istimewa
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menerima buku saat kunjungan di BIJB Kertajati Majalengka beberpa waktu lalu. 

 

Ringkasan Berita:
  • Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya pembangunan yang berlandaskan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat Papua saat menghadiri Konferensi APS III 2026 di Gedung Papua Youth Creative Hub, Jayapura. 
  • Menurutnya, kemajuan Papua harus dibangun dengan menghargai nilai, pengalaman, dan sistem pengetahuan yang tumbuh dari masyarakat setempat.
  • Gagasan tersebut sejalan dengan buku Menggapai Potensi Tanpa Batas: Membangun Nusantara dari Akar Rumput karya Adhim M.M.

Laporan Kontributor Adim Mubaroq 

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Saat menghadiri Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III Tahun 2026 di Gedung Papua Youth Creative Hub (PYCH), Jayapura, Jumat (29/5/2026) lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya pembangunan yang bertumpu pada pengetahuan masyarakat lokal. 

Gagasan tersebut sejalan dengan temuan dalam buku Pemberdayaan Ekonomi Pemuda, Menggapai Potensi Tanpa Batas: Membangun Nusantara dari Akar Rumput yang mengulas keberhasilan PYCH memberdayakan lebih dari 15.000 pemuda Papua.

Dalam Konferensi itu, Dedi menyatakan, kemajuan Papua harus dibangun dengan menghargai pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakat yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.

Baca juga: Viral Bendera Amerika Berkibar di Kertajati dan Bandara Disebut Milik Militer AS, BIJB: Itu Hoaks!

"Kita sering kali melihat Papua dengan kacamata luar. Padahal masyarakat Papua memiliki cara pandang, sistem pengetahuan, dan nilai-nilai yang lahir dari lingkungan hidupnya sendiri. Itu harus menjadi bagian dari fondasi pembangunan," kata Dedi dalam akun YouTube nya, dikutip Minggu (31/5/2026).

Dedi juga mencontohkan rumah pohon Korowai sebagai bentuk pengetahuan lokal yang lahir dari kemampuan masyarakat adat memahami lingkungannya.

"Rumah pohon Korowai itu sebenarnya sains tingkat tinggi. Mereka bisa bertahan hidup tanpa merusak ekosistem. Mereka memahami alam, memahami ancaman lingkungan, memahami cara bertahan hidup, dan itu diwariskan secara turun-temurun," katanya.

Baca juga: Viral Bendera Amerika Berkibar di Kertajati dan Bandara Disebut Milik Militer AS, BIJB: Itu Hoaks!

Pandangan Dedi tersebut memiliki benang merah dengan sebuah buku yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan akademisi, aktivis pemberdayaan, dan pemuda Papua. 

Buku berjudul Pemberdayaan Ekonomi Pemuda, Menggapai Potensi Tanpa Batas: Membangun Nusantara dari Akar Rumput karya Adhim M.M, yang mengupas bagaimana Papua Youth Creative Hub (PYCH) berkembang menjadi salah satu model pemberdayaan pemuda terbesar di Indonesia Timur.

Melalui observasi lapangan selama lebih dari dua tahun di Papua dan sebagian wilayah Aceh, Adhim mencoba menjawab pertanyaan yang selama ini jarang dibahas: mengapa PYCH mampu berkembang pesat ketika banyak program pemberdayaan pemuda di berbagai daerah sulit bertahan dalam jangka panjang.

Baca juga: Viral Bendera Amerika Berkibar di Kertajati dan Bandara Disebut Milik Militer AS, BIJB: Itu Hoaks!

Buku setebal lebih dari 180 halaman itu mencatat bahwa PYCH yang awalnya hanya diikuti 23 pemuda kini telah menjangkau lebih dari 15.000 pemuda Papua. Sementara model serupa melalui Amanah Youth Creative Hub (AMANAH) di Aceh berkembang hingga menjangkau sekitar 21.000 pemuda dan mulai direplikasi ke sejumlah daerah lain seperti Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Menurut Adhim, keberhasilan tersebut tidak lahir dari besarnya anggaran ataupun megahnya fasilitas semata. Faktor terpenting justru berada pada proses pendampingan yang dilakukan secara langsung dan berkelanjutan.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa rekrutmen peserta dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Tim pendamping turun langsung ke kampung-kampung, wilayah pesisir, daerah pegunungan hingga distrik-distrik terpencil untuk berdialog dengan para pemuda dan memahami kebutuhan mereka.

Baca juga: Viral Bendera Amerika Berkibar di Kertajati dan Bandara Disebut Milik Militer AS, BIJB: Itu Hoaks!

"Papua tidak butuh banyak konsep. Papua butuh pendampingan yang mau hidup, bekerja, tumbuh, dan mengerti bersama mereka," tulis Adhim.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved