Politisi PPP Jabar Buka Suara Polemik TNGC Kuningan Jadi Objek Wisata dan Terancam Ditutup KDM
Politisi PPP Jabar, Arief Maoshul buka suara mengenai polemik TNGC jadi destinasi wisata.
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: taufik ismail
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN - Lahan TNGC Kuningan yang dijadikan destinasi wisata alam menjadi polemik.
Objek wisata itu pun terancam ditutup oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.
Hal ini sontak menjadi perhatian Politisi PPP Jabar H Arief Maoshul Affandy yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.
"Ada 4 poin yang akan kami berikan terhadap Polemik TNGC," ujar Arief Maoshul saat mengawali perbincangan dengan Tribun, Jumat (16/1/2026).
Arief Maoshul Affandy yang juga Anggota Komisi II DPRD Jabar mengaku sangat prihatin atas dugaan kerusakan lingkungan di lereng Gunung Ciremai.
Padahal semua mengetahui bahwa Taman Nasional Gunung Ciremai adalah paru-paru Jawa Barat.
"Kami sangat menyayangkan adanya laporan mengenai kerusakan alam di kaki Gunung Ciremai. Hutan alam gunung ini adalah paru-paru Jawa Barat sekaligus aset vital bagi ekosistem maupun sumber daya air masyarakat sekitarnya.''
''Jika benar terjadi kerusakan akibat praktik bisnis yang ugal-ugalan, maka ini adalah alarm keras bagi kita semua," ucap Arief Maoshul Affandy.
Muncul dan berkembangnya wisata alam di lahan TNGC, kata Arief, ini harus dilakukan evaluasi izin dan seperti apa implementasi di lapangan.
Sehingga, wisata alam itu seharusnya berbasis konservasi, bukan eksploitasi.
"Kami menginginkan segera berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, serta meminta klarifikasi dari pihak Balai TNGC terkait pemberian izin pemanfaatan jasa lingkungan. Kami ingin memastikan apakah para pengelola wisata di sana telah mematuhi carrying capacity (daya tampung) dan regulasi lingkungan yang berlaku," katanya.
Selain berkembangnya wisata alam yang menjurus pada profit oriented dengan dalih peningkatan kualitas ekonomi kerakyatan.
"Jika ditemukan bukti otentik adanya alih fungsi lahan yang melanggar hukum dan merusak ekosistem, kami mendukung langkah tegas, termasuk penutupan sementara untuk restorasi. Namun, penutupan ini juga harus mempertimbangkan nasib tenaga kerja lokal. Solusinya bukan sekadar menutup, tapi membenahi tata kelola agar bisnis pariwisata tetap berjalan tanpa merusak alam," katanya.
Sementara dorongan terhadap pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism, Sektor pariwisata Kuningan tidak hanya mengejar angka kunjungan tanpa memedulikan kelestarian.
| Universitas Islam Al-Ihya Kuningan Jadi Tempat Agun Gunandjar Gelar Sosialisasi Empat Pilar |
|
|---|
| Jadwal Terbaru SIM Keliling Kuningan Besok 20 Mei 2026, Ada di Pasar Ciawigebang |
|
|---|
| 243 Jemaah Haji Kuningan Diberangkatkan, Bupati Dian Rachmat Yanuar Beri Pesan Begini |
|
|---|
| Aktivis Kuningan Sebut Banjir Palutungan Saat Hujan Ancaman Bencana Alam |
|
|---|
| Euforia Persib Bandung Menggema, Pemkab Kuningan Siap Gelar Nobar di Pandapa Paramartha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/H-Arief-Maoshul-Affandy-Anggota-DPRD-Jawa-Barat.jpg)