Kamis, 21 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Politisi PPP Jabar Buka Suara Polemik TNGC Kuningan Jadi Objek Wisata dan Terancam Ditutup KDM

Politisi PPP Jabar, Arief Maoshul buka suara mengenai polemik TNGC jadi destinasi wisata.

Tayang:
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: taufik ismail
Tribuncirebon.com/TribunCirebon.com/ Ahmad Ripai
Arief Maoshul Affandy, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Ia bicara mengenai polemik lahan TNGC jadi objek wisata. 

"Sehingga, Kami mendorong penerapan sertifikasi green tourism yang lebih ketat. Pembangunan fasilitas di kawasan TNGC tidak boleh mengubah bentang alam secara drastis atau merusak daerah resapan air," ujarnya.  

Sejumlah destinasi wisata Kuningan yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terancam ditutup.

Hal itu menyusul akibat terjadinya kerusakan alam karena praktik bisnis. 

Dugaan kerusakan alam kaki Gunung Ciremai itu muncul laporan berkaitan dengan isu alih fungsi lahan TNGC yang menjadi destinasi wisata alam sekitar. 

Dalam siaran audio visual melalui chanal youtube Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyatakan, sikap Bupati Kuningan yang dinilai tidak berani terbuka mengenai kondisi riil di lapangan. 

"Jadi ketika rapat dengan kepala daerah, saya bertanya dalam rapat resmi mengenai ada tidaknya alih fungsi lahan? dan dijawab Bupati, ‘enggak ada enggak alih fungsi lahan. Namun, saat berbicara secara pribadi di luar forum mengaku ada alih fungsi. Jadi pemimpin harus berani," kata KDM saat bareng dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman Suryatman dan Kepala Dinas Lingkungan Provinsi Jabar.

Menurut KDM, Kementerian Kehutanan, termasuk TNGC, itu tugasnya menjaga hutan sebagai cagar alam.

"Bukan membuat ruang usaha di kawasan hutan. Hutan bukan tempat usaha. Jadi tolong Pak Sekda buatkan nota dinas dan mengirimkan surat protes resmi ke Kementerian Kehutanan agar aktivitas komersialisasi tersebut dihentikan," katanya.

KDM mengatakan bahwa kerusakan alam Gunung Ciremai akan berdampak langsung pada warga Kuningan, sementara para pemegang kebijakan di pusat tidak merasakan dampaknya.

”Kita tengok saja. Walaupun itu kewenangan dia (Pusat), tetapi justru itu menimbulkan kegelisahan bagi warga dan ancaman bagi alam. Kita hadapi saja," kata KDM.

Ia menambahkan makanya hutan itu jangan dijaga oleh manusia. 

"Mending ku kelong wewe, ku genderowo, ku kunti, udah selesai. Kalau kunti mah tidak tahu caranya membuat kawasan wisata di kawasan hutan,” katanya.

Baca juga: 20 Destinasi Wisata di Lereng Gunung Ciremai yang Aman dari Ancaman Penutupan

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved