Minggu, 31 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Penjelasan Ahli Mengapa Makanan yang Dibakar Bisa Mengakibatkan Kanker

Makanan yang dibakar bisa menyebabkan kanker. Ini penjelasan ahli mengenai hal tersebut.

Tayang:
Editor: taufik ismail
TribunCIrebon.com/Ahmad Ripai
Ilustrasi makanan yang dibakar. 

TRIBUNCIREBON.COM - Makanan yang dibakar atau dimasak dengan arang ternyata bisa menyebabkan penyakit kanker.

Hal ini tentunya cukup mengejutkan warga karena makanan yang dibakar favorit banyak orang.

Bahkan di momen kumpul-kumpul, sering diadakan pesta barbeque atau babakaran.

Perlu diketahui ada alasan di balik hal tersebut.

Kita juga harus berhati-hati mengonsumsi makanan yang dibakar.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malang (UMM) Faqih Ruhyanudin, ada alasan makanan yang dibakar bisa menyebabkan kanker.

Ia mengatakan arang bukan zat karsinogen. Namun memasak dengan arang dapat memunculkan sifat karsinogenik penyebab kanker.

Dengan proses yang cukup lama, kanker terbentuk dari sel yang sudah bermutasi karena zat karsinogen.

Semua bermula dari tumbuhnya polip dari sel yang seharusnya ber-apuptosi atau mati secara terprogram.

Namun sel tersebut justru tetap hidup dan tumbuh. Meski demikian, dosen yang fokus pada keperawatan medikal bedah ini menyebutkan, sampai saat ini belum diketahui dengan jelas penyebab kanker.

Kecenderungan budaya masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi makanan yang diasap, dibakar atau dipanggang harus diperhatikan karena mengandung senyawa benzopirin.

Paparan zat ini dapat menyebabkan peningkatan progresivitas kanker.

Terkait deteksi kanker, ia menjelaskan bahwa peluang sembuh akan tinggi jika bisa dideteksi sejak dini atau sebelum sel kanker menyebar ke area-area lain.

Namun, meski sudah dinyatakan sembuh, penderita harus tetap waspada karena sel kanker masih berpeluang muncul lagi di tempat lain.

“Terkadang, ketika seseorang didiagnosa terjangkit kanker, orang tersebut langsung cemas dan tidak semangat. Pengaruh pengobatan itu hanya 30 persen saja, sementara sisanya adalah motivasi diri untuk sembuh dan mengatasi penyakit,” jelas Faqih, dilansir dari laman UMM.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved