HARGA Minyak Goreng Mahal, Ketum Kadin Beberkan Alasannya hingga Sebut Terkait Perang Rusia-Ukraina
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, permasalahan minyak goreng tak hanya menjadi masalah di Indonesia saja
TRIBUNCIREBON.COM, JAKARTA - Setelah pemerintah mencabut aturan harga eceran tertinggi minyak goreng yang Rp 14 ribu per liter, kini kebutuhan emak-emak itu mendadak melimpah di supermarket dan toko swalayan, tapi harganya mahal, selangit.
Berdasarkan pantauan, harga minyak kemasan premium ukuran dua liter di supermaket itu kini menyentuh harga Rp 50 ribu dengan stok yang sangat melimpah. Sementara di tempat lain dibandrol dengan harga 47.800 untuk kemasan 2 liter.
Kendati harga minyak goreng mahal demikian, warga masih tetap membeli minyak tersebut meskipun dinilai sangat memberatkan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, permasalahan minyak goreng tak hanya menjadi masalah di Indonesia saja, melainkan juga dunia.

Baca juga: HET Minyak Goreng Dicabut, Mendadak Stok di Supermarket KBB Melimpah dengan Harga Mahal
Hal tersebut diduga lantaran adanya konflik perang Rusia-Ukraina yang diwaspadai seluruh negara dampaknya.
Tak hanya biaya energi yang naik namun juga berdampak pada harga bahan pokok makanan. Di mana sebelumnya sudah terdampak dengan adanya pandemi Covid-19.
"Misalnya minyak goreng kita mengatakan bahwa minyak goreng itu bukan masalah kita aja tapi menjadi masalah dunia," kata Arsjad dalam Rakernas Kadin Bidang Ketenagakerjaan, Rabu (16/3).
Naiknya minyak sawit disebabkan karena tingginya permintaan di dunia akan komoditi ini.
Arsjad menjelaskan, negara yang sebelumnya menggunakan minyak bunga matahari beralih ke minyak sawit.
Karena mayoritas minyak bunga matahari yang diproduksi Rusia dan Ukraina tak dapat diekspor akibat kondisi konflik yang terjadi di sana.
"Tiba-tiba kelapa sawit bisa naik karena ada yang namanya minyak sunflowers yang diproduksi Rusia dan di Ukraina tidak bisa diekspor.
Baca juga: Cek Distributor Minyak Goreng, Kapolresta Cirebon Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying
Akhirnya beralihlah itu kepada yang namanya minyak lainnya yaitu sawit. Makanya apa yang terjadi permintaan sawit naik," jelasnya.
Tak hanya minyak goreng, gandum juga disebut terdampak dengan adanya konflik dua negara tersebut. Arsjad menjelaskan, 30% suplai gandum dunia berasal dari Rusia dan Ukraina.
Sama seperti minyak bunga matahari, karena konflik komoditi gandum ikut tersendat distribusinya keluar dari negara tersebut.
Arsjad sempat bertemu dengan Menteri Hungaria untuk menanyakan mengenai suplai gandum ke Indonesia.
Baca juga: Wabup Garut Helmi Budiman Dipaksa Emak-emak Ikut Antre Minyak Goreng di Swalayan, Ini Tujuannya
