Breaking News:

Katanya Angker Ternyata Warga Desa Berani Eksploitasi Emas Secara Manual di Sungai Cipedak

saat tahun 2000 an bahkan sejumlah warga pun bergantung untuk memenuhui hajat hidupanya pada usaha pengambilan kandungan alam tersebut.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Bantaran Sungai Cipedak di Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan, Senin (23/8/2021). 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Kawasan Sungai Cipedak diduga mengandung emas. Namun warga setempat tidak mau mengeksploitasi karena tempatnya angker. Kenyataannya ada beberapa  warga melakukan pendayagunaan alam yang memiliki kandungan emas dan tembaga di Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan.

Hal itu dibenarkan oleh Anggota DPRD Kuningan, Toto Tohari saat dihubungi ponselnya.
“Benar, dulu warga kami melakukan pengambilan emas dengan cara manual,” ujar Tohari yang warga Desa Citapen, Kecamatan Hantara, Senin (23/8/2021).

 Pemanfaatan kandungan alam, kata Tohari mengaku sebelumnya ditemukan oleh mahasiswa saat melakukan KKN di daerah setempat. 

“Iya, awalnya dari mahasiswa yang ngambil kandungan alam lalu di teliti memang benar ada kandungan emas dan tembaga serta semacam boksic,” ujarnya.

Baca juga: Wow Ada Kandungan Emas di Lokasi Wisata Sungai Cipedak, Warga Sebut Tempatnya Angker

Tohari mengatakan, saat tahun 2000 an bahkan sejumlah warga pun bergantung untuk memenuhui hajat hidupanya pada usaha pengambilan kandungan alam tersebut.

“Waktu itu, usaha warga sekitar 3 tahunan lebih dan menggantungkan hidup sebagai penambang emas. Jadi, mereka itu menambang dan menjual material semacam batu secara mentahan,” ujarnya. 

Penjualan batu yang memiliki kandungan emas tersebut, Tohari mengklaim bahwa bisnis itu dilakukan oleh warga secara ilegal.

“Alur bisnisnya begini, jadi si warga bertambang dan menjualan batu yang memiliki kandungan emas itu secara karungan. Penjulan itu langsung oleh warga ke pengepul yang di ada di Jakarta,” ujarnya.

Harga jual hasil tambang oleh warga, Tohari menyebut seberat 1 kg batu itu dihargakan Rp 1000. 
“Untuk penjualan maetrial alam dengan berat 1 kg itu dihargakan Rp 1000 dan mereka menjual secara masing – masing ke pengepul,” ungkapnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved