Sintong Panjaitan, Prajurit Kopassus Ini Tak Gentar Ditodong Senjata Ratusan Warga Lembah X Papua
Sintong Panjaitan sempat dikepung dan ditodong senjata oleh ratusan warga sebuah suku di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua.
Di kemudian hari diketahui, seseorang yang mau makan pemberian mereka, diterima sebagai seorang sahabat.
Setelah itu seorang warga setempat berjalan mengendap-endap mendekati Sintong kemudian menyentuh tangannya dari belakang.
Kemudian orang itu berbicara dengan kawan-kawannya. Mungkin ia mengatakan orang yang jatuh dari atas dan tidak mati itu sama seperti mereka.
Atas saran Pierre D Gaisseau, anggota tim membawa kain merah untuk pengikat kepala dan cermin kecil.
Sintong kemudian membagikan dua benda itu kepada warga Lembah X.
Kejadian unik lainnya muncul ketika pesawat Dakota yang sebelumnya membawa tim, terbang di atas lokasi.
Suara gemuruh pesawat itu mengakibatkan warga Lembah X lari tunggang langgang.
Kesempatan itu dipakai Sintong untuk mencari anggota tim lainnya.
Di hari-hari berikutnya komunikasi antara anggota tim dengan warga Lembah X berlangsung lancar.
Sintong yang sangat komunikatif, dalam beberapa hari saja sudah mampu berkomunikasi dengan warga setempat, menggunakan bahasa suku Lembah X.
Setelah kedatangan Sintong cs, jika di sebuah kampung terdapat kwitnang alias perempuan, di tengah jalan setapak dipasang rambu-rambu dilarang masuk, dengan menancapkan dahan di tengah jalan.
Sebenarnya para perempuan juga bersikap baik terhadap tim.
Ketika para perempuan melihat Sintong akan lewat di sebuah jalan setapak, mereka memberi ketimun dan tebu yang ditinggalkan di tengah jalan.
Sintong yang mengetahui hal itu pura-pura tidak tahu, namun para perempuan itu kemudian berteriak-teriak agar Sintong mengambilnya. (*)
*Dikutip dari buku ‘Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’, karya Hendro Subroto, Penerbit Buku Kompas, Maret 2009.