Sintong Panjaitan, Prajurit Kopassus Ini Tak Gentar Ditodong Senjata Ratusan Warga Lembah X Papua
Sintong Panjaitan sempat dikepung dan ditodong senjata oleh ratusan warga sebuah suku di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua.
TRIBUNCIREBON.COM - Prajurit Kopassus Sintong Panjaitan mengalami pengalaman yang menegangkan saat memasuki Lembah X Pegunungan Jaya Wijaya Papua.
Letjen Purn Sintong Panjaitan (terakhir menjabat sebagai Penasihat Bidang Hankam Presiden BJ Habibie), saat itu menjadi prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut ditugaskan di Papua pada era 1969.
Sintong Panjaitan sempat dikepung dan ditodong senjata oleh ratusan warga sebuah suku di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua.
Baca juga: Berselisih Paham, Sintong Panjaitan Sumpahi Prabowo Jadi Menteri Pertahanan 34 Tahun Lalu, Terbukti
Cerita berawal ketika Sintong Panjaitan, saat itu berpangkat Letnan Satu (Lettu), medapat tugas dari Pangdam XVII/Cendrawasih, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo, untuk menyertai Pierre D Gaissseau, seorang sutradara yang ingin membuart film antropologi budaya tentang suku Lembah X.
Kawasan di lereng utara Pegunungan Jaya Wiajaya tersebut diberi sebutan Lembah X karena saat itu belum diberi nama alias unexplored area.
Pangdam Sarwo Edhie membentuk Tim Lembah X dipimpin Kapten Feisal Tanjung (terakhir menjadi Panglima TNI di era Presiden Soeharto).
Anggotanya Sintong Panjaitan bersama lima orang anggota Korps Baret Merah lainnya.
Sintong kemudian mengajukan usul agar anggota tim ditambah dua orang prajurit asli Papua yang berkualifikasi para, yaitu Prajurit Dua Derek Vugu dan Prajurit Dua Mami.
Diharapkan, ada kesamaan bahasa antara suku di Lembah X dengan bahasa di kampung halaman dua prajurit itu.
Belakangan ada tambahan anggota tim lagi yaitu Peter Prescott Jenning, mantan penerjemah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk mengawasi Pepera (penentuan pendapat rakyat) di Irian Barat, Fernando Ortiz Sanz.
Dengan demikian Jenning merupakan satu-satunya anggota Tim Lembah X yang secara formal pernah mendapat pendidikan ilmu antropologi secara lebih mendalam.
Baca juga: Teroris KKB Papua Gunakan Jalur Rahasia di Dua Negara Ini untuk Selundupkan Senjata Canggih
Hari H penerjunan ditetapkan tanggal 2 Oktober 1969. Pagi itu 16 anggota Tim Ekspedisi Lembah X telah siap di Bandara Sentani, sekira 40 km dari Kota Jayapura.
Pada pukul 07.30 WIT, pesawat Dakota yang diterbangkan Captain Bonar Siahaan terbang menuju lokasi penerjunan, sekira 1 jam pernerbangan.
“Jangan-jangan nanti setelah mendarat saya dikeroyok oleh suku Lembah X,” ujar Sintong dalam hati seperti tertulis dalam buku ‘Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’, karya Hendro Subroto, Penerbit Buku Kompas, Maret 2009.
Sintong sebagai penerjun pertama sick 1 yang seharusnya mendarat beberapa kilometer dari kampung, ternyata mendarat tepat di tengah kampung.