Breaking News:

Sintong Panjaitan, Prajurit Kopassus Ini Tak Gentar Ditodong Senjata Ratusan Warga Lembah X Papua

Sintong Panjaitan sempat dikepung dan ditodong senjata oleh ratusan warga sebuah suku di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua.

Editor: Mumu Mujahidin
Podcast kanal YouTube Puspen TNI
Letnan Jenderal TNI Sintong Panjaitan menyebut jika komunis sudah tidak ada di Indonesia. 

TRIBUNCIREBON.COM - Prajurit Kopassus Sintong Panjaitan mengalami pengalaman yang menegangkan saat memasuki Lembah X Pegunungan Jaya Wijaya Papua.

Letjen Purn Sintong Panjaitan (terakhir menjabat sebagai Penasihat Bidang Hankam Presiden BJ Habibie), saat itu menjadi prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut ditugaskan di Papua pada era 1969.

Sintong Panjaitan sempat dikepung dan ditodong senjata oleh ratusan warga sebuah suku di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua.

Baca juga: Berselisih Paham, Sintong Panjaitan Sumpahi Prabowo Jadi Menteri Pertahanan 34 Tahun Lalu, Terbukti

Cerita berawal ketika Sintong Panjaitan, saat itu berpangkat Letnan Satu (Lettu), medapat tugas dari Pangdam XVII/Cendrawasih, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo, untuk menyertai Pierre D Gaissseau, seorang sutradara yang ingin membuart film antropologi budaya tentang suku Lembah X.

Kawasan di lereng utara Pegunungan Jaya Wiajaya tersebut diberi sebutan Lembah X karena  saat itu belum diberi nama alias unexplored area.

Pangdam Sarwo Edhie membentuk Tim Lembah X dipimpin Kapten Feisal Tanjung (terakhir menjadi Panglima TNI di era Presiden Soeharto).

Anggotanya Sintong Panjaitan bersama lima orang anggota Korps Baret Merah lainnya.

Sintong kemudian mengajukan usul agar anggota tim ditambah dua orang prajurit asli Papua yang berkualifikasi para, yaitu Prajurit Dua Derek Vugu dan Prajurit Dua Mami.

Diharapkan, ada kesamaan bahasa antara suku di Lembah X dengan bahasa di kampung halaman dua prajurit itu.

Belakangan ada tambahan anggota tim lagi yaitu Peter Prescott Jenning, mantan penerjemah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk mengawasi Pepera (penentuan pendapat rakyat) di Irian Barat, Fernando Ortiz Sanz.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved