Breaking News:

Cerita Mudik Jalan Kaki Ternyata Bohong, Keluarga Masitoh Sengaja Hidup di Jalan Demi Bisa Hidup

Masitoh mengakui, dirinya tak mudik dari Gombong ke Cangkuang, tapi ia dan suaminya sengaja melakukan perjalanan untuk menghidupi keluarganya itu.

Editor: Mumu Mujahidin
Istimewa
Foto dari warganet yang sempat mengabadikan pasangan suami isteri, Dani dan Masitoh yang sedang beristirahat di sebuah SPBU di Kota Banjar Kamis (6/5). Pasangan suami isteri tersebut sembari membawa dua anaknya yang masih balita nekat berjalan kaki dari Gombong (Jateng) menuju Soreang Bandung. Pulang kampung karena di PHK di tempat ia bekerja di sebuah usaha konveksi rumahan di Gombong 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Sebelumnya terdapat berita viral terkait sepasang suami istri dengan membawa dua anak balita, berjalan dari Gombong Jawa Tengah menuju Soreang, Kabupaten Bandung.

Keluarga tersebut mengaku nekad jalan kaki dari Jawa Tengah ke Bandung, lantaran diPHK di tempat kerjanya.

Hari Jumat mereka masih di Ciamis dan Sabtu dini hari mereka telah sampai ke Cangkuang, Kabupaten Bandung.

Suami istri tersebut, yakni Dani Rahmat (39) dan Masitoh Ainun (36) yang membawa kedua anaknya saat menempuh perjalanan.

Kini keluarga tersebut untuk sementara dikarantina di Kantor Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, menerapkan aturan PPKM yang ada.

Masitoh mengakui, dirinya tak mudik dari Gombong ke Cangkuang, tapi ia dan suaminya sengaja melakukan perjalanan untuk menghidupi keluarganya itu.

Berawal dari tempat bekerjanya Dani yang gulung tikar, dan mereka tak bisa apa-apa.

"Mesin jahit diambi bos, jadi bingung kerjaan gak ada. Yang ngajak hidup di jalan saya, kami turun ke jalan yang penting ada buat makan, ada yang ngasih kami terima gak ada yang ngasih kami jalan," ujar Masitoh, saat ditemui di tempat karantinanya, Minggu (9/5/2021).

Menurut Masitoh, sekitar seminggu lalu dirinya kembali melakukan perjalanan.

"Kami dari sini (Cangkuang) ke Cimindi naik angkot, dari Cimindi naik kereta api ke Purwakarta, Purwakarta Bandung, ongkosnya cuman Rp 7 ribu. Lalu dari Purwakarta ke Cikarang, mulai dari Cikarang kami jalan (kaki)," kata Masitoh.

Baca juga: Satu Keluarga Mudik Jalan Kaki dari Gombong ke Bandung, Berhari-hari di Jalan Hanya Bawa Uang Segini

Baca juga: Korban PHK dari Perusahaan Konfeksi Terpaksa Pulang Mudik Jalan Kaki dari Gombong ke Soreang

Masitoh mengatakan, dari Cikarang, menuju Cikampek, Karawang, Subang, Indramayu.

"Di Indramayu kami dapat tumpangan dinaikan ke bus, ditanya tujuannya mau ke mana, kalau sebutin jauh-jauh kasian orang itu, jadi saya sebut yang dekat aja ke tegal ongkos 100 ribu," tuturnya.

Setelah di tegal menurut Masitoh, ia dan keluarganya jalan ke Gombong Jawa Tengah, dari situ balik lagi. 

"Jadi muter pergi dari utara pulang lintas selatan," katanya.

Menurutnya, dirinya melakukan perjalanan seperti itu sudah satu tahun.

"Setahun sebenarnya kami sudah keliling Jawa Tengah, Jawa Timur Jawa Bararat. Cuma tidak hanya sambil diam tapi sambil cari kerja. Tapi itu memang yang namannya cari kerja susah," katanya.

Masitoh memaparkan, selama satu tahun keliling Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, itu jalan kaki kalau ada yang kasih numpang kendaraan, ya numpang, ibarat jalan-jalan geratis.

Foto dari warganet yang sempat mengabadikan pasangan suami isteri, Dani dan Masitoh yang sedang beristirahat di sebuah SPBU di Kota Banjar Kamis (6/5). Pasangan suami isteri tersebut sembari membawa dua anaknya yang masih balita nekat berjalan kaki dari Gombong (Jateng) menuju Soreang Bandung. Pulang kampung karena di PHK di tempat ia bekerja di sebuah usaha konveksi rumahan di Gombong
Foto dari warganet yang sempat mengabadikan pasangan suami isteri, Dani dan Masitoh yang sedang beristirahat di sebuah SPBU di Kota Banjar Kamis (6/5). Pasangan suami isteri tersebut sembari membawa dua anaknya yang masih balita nekat berjalan kaki dari Gombong (Jateng) menuju Soreang Bandung. Pulang kampung karena di PHK di tempat ia bekerja di sebuah usaha konveksi rumahan di Gombong (Istimewa)

"Kalau tidur ada pom bensin, ya pom bensin, ada di mesjid kan di jawa tak dikunci," tuturnya.

Hal tersebut dilakukan, kata Masitoh, saat anaknya yang kecil berusia 4 bulan, dan sekarang sudah berusia 1,6 tahun. 

"Tinggal di mertua gak mungkin rumahnya kecil sempit, untuk kontrakan harus jalan hidup harus jalan, daripada mencuri, kan gitu kan," ujar Masitoh.

Masitoh mengatakan, dirinya masih warga Medan, namun kartu identitasnya hilang karena tasnya dicuri orang saat berada di Cimahi, begitu juga dengan kartu identitas suaminya.

"Semua tas saya diambil orang di Cimahi dipikir mereka apa ya, padahal cuma baju saya, suami, dan anak serta surat-surat itu KTP dan lainnya," tuturnya.

Masitoh mengaku, dirinya tberdomisili di Medan, Lubuk Pakam, Komplek Peteran.

Dengan adanya kejadian viral tersebut, kaka dan orang tuanya menjadi shook, bahkan kakaknya yang paling besar si Medan sampai darah tinggi.

"Setelah gak ada penyekatan lagi, insya Alloh kami balik ke Medan, mau ngurusin orang tua di sana," ucapnya.

Baca juga: Jenderal Andika Perkasa Perintahkan Kuli Bangunan Mabes AD Pulang, Ternyata Tujuan KASAD Baik

Baca juga: Kisah Sedih Kakak Adik di Garut yang Berlebaran Tanpa Orang Tua, Bapak Ibunya Tewas di Septic Tank

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved