Breaking News:

Ciri-ciri Orang yang Dijaga oleh Allah dalam Pengajian Gus Baha, Apa Saja? Simak Penuturannya

Melansir dari Channel YouTube Ngaji Ahlussunah Gus Baha dalam pengajiannya membahas 5 tanda orang yang dijaga oleh Alloh.

TRIBUNJATIM/YONI ISKANDAR
KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha ketika menghadiri acara di Haul KH Achmad Shiddiq Jember, Jawa Timur. Ciri-ciri Orang yang Dijaga oleh Allah dalam Pengajian Gus Baha, Apa Saja? Simak Penuturannya 

"Ciri keempat, dia tidak pernah mengisi penuh perutnya dengan makanan halal, karena khawatir ada perkara haram tercampur di dalamnya,".

Tidak makan makanan (halal) secara berlebihan, karena takut makanan yang dimakan ada perkara haramnya.

"Karena tadi menurut fiqih, selama tidak berlebihan, kalaupun haram bisa menjadi halal karena kadar darurat," kata Gus Baha.

Gus Baha juga berseloroh jika berbakat jadi seorang wali maka cobalah tidak makan sehari penuh jika kuat.

"Makanya kalau kamu jadi wali, kamu harus mencoba jadi wali asalkan kuat. Sehari penuh kamu jangan makan. Syukur-syukur 40 hari kamu tidak makan. Kemungkinannnya dua, menjadi wali atau mati," selorohnya ringan.

Namun jika dalam keadaan darurat maka sesuatu makanan yang haram menjadi halal. 

"Sedangkan kaidah fiqih menyebut keadaan darurat memperbolehkan hal yang dilarang. Misanya jika kamu tidak makan maka kamu akan mati sedangkan yang tersedia hanya daging anjing atau bangkai.

Itu jadi halal karena darurat. Begitu juga umpama di zaman akhir semua makanan yang ada itu haram lalu kamu makan makan karena alasan darurat maka otomatis jadi halal," tuturnya.

Baca juga: Ciri-ciri Covid Tongue Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai, Pengaruhi Sensasi Rasa Pada Lidah

5. Berprasangka Baik Sama Allah

"Ciri kelima, selalu memandang orang lain sebagai orang yang selamat (benar). Dan selalu memandang dirinya sebagai orang yang celaka (salah),".

"Artinya terbebas dari kehancuran karena hubungan baiknya dengan Allah (berprasangka baik). Memandang oang lain selamat (benar), tapi memandang dirinya celaka (salah) itu untuk melawan ego/ takabur di dalam dirinya," ungkapnya.

Cara melawan takabur menurut Agus Baha adalah dengan memandang orang lain selamat (benar) dan melihat diri tidak selamat (salah). Hal ini dalam konteks melawan takabur (sombong).

"Tapi jika kamu memiliki perasaan itu (rendah diri) justru membuat kamu suuzon kepada Allah, hidup kamu jadi tidak bersyukur maka tidak boleh seperti itu," katanya.

Kita harus berprasangka baik terhadap Allah.

"Alhamdulillahilladi hadana lillhada mawa kunna linahtadiy Laula anhada innallah,".

Artinya: Terima kasih ya Alloh, Engkau telah memberiku hidayah. Andaikan tidak Engkau beri hidayah saya tak akan mendapat hidayah. 

Sehingga kita tdak boleh berlebihan memandang orang lain lebih pintar sementara kita yang salah. 

Tidak boleh berlebihan menilai orang lain, karena dikhawatirkan kita menjadi orang yang tidak pernah bersyukur.

"Tapi dengan melihat orang lain salah dan kita benar itupun juga bisa membuat kita menjadi orang yang takabur. Berulang kali saya katakan, biasa saja. Tidak merasa benar atau merasa salah," pungkasnya. 

Penulis: Mumu Mujahidin
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved