Ciri-ciri Orang yang Dijaga oleh Allah dalam Pengajian Gus Baha, Apa Saja? Simak Penuturannya
Melansir dari Channel YouTube Ngaji Ahlussunah Gus Baha dalam pengajiannya membahas 5 tanda orang yang dijaga oleh Alloh.
Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Mumu Mujahidin
"Ciri keempat, dia tidak pernah mengisi penuh perutnya dengan makanan halal, karena khawatir ada perkara haram tercampur di dalamnya,".
Tidak makan makanan (halal) secara berlebihan, karena takut makanan yang dimakan ada perkara haramnya.
"Karena tadi menurut fiqih, selama tidak berlebihan, kalaupun haram bisa menjadi halal karena kadar darurat," kata Gus Baha.
Gus Baha juga berseloroh jika berbakat jadi seorang wali maka cobalah tidak makan sehari penuh jika kuat.
"Makanya kalau kamu jadi wali, kamu harus mencoba jadi wali asalkan kuat. Sehari penuh kamu jangan makan. Syukur-syukur 40 hari kamu tidak makan. Kemungkinannnya dua, menjadi wali atau mati," selorohnya ringan.
Namun jika dalam keadaan darurat maka sesuatu makanan yang haram menjadi halal.
"Sedangkan kaidah fiqih menyebut keadaan darurat memperbolehkan hal yang dilarang. Misanya jika kamu tidak makan maka kamu akan mati sedangkan yang tersedia hanya daging anjing atau bangkai.
Itu jadi halal karena darurat. Begitu juga umpama di zaman akhir semua makanan yang ada itu haram lalu kamu makan makan karena alasan darurat maka otomatis jadi halal," tuturnya.
Baca juga: Ciri-ciri Covid Tongue Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai, Pengaruhi Sensasi Rasa Pada Lidah
5. Berprasangka Baik Sama Allah
"Ciri kelima, selalu memandang orang lain sebagai orang yang selamat (benar). Dan selalu memandang dirinya sebagai orang yang celaka (salah),".
"Artinya terbebas dari kehancuran karena hubungan baiknya dengan Allah (berprasangka baik). Memandang oang lain selamat (benar), tapi memandang dirinya celaka (salah) itu untuk melawan ego/ takabur di dalam dirinya," ungkapnya.
Cara melawan takabur menurut Agus Baha adalah dengan memandang orang lain selamat (benar) dan melihat diri tidak selamat (salah). Hal ini dalam konteks melawan takabur (sombong).
"Tapi jika kamu memiliki perasaan itu (rendah diri) justru membuat kamu suuzon kepada Allah, hidup kamu jadi tidak bersyukur maka tidak boleh seperti itu," katanya.
Kita harus berprasangka baik terhadap Allah.
"Alhamdulillahilladi hadana lillhada mawa kunna linahtadiy Laula anhada innallah,".