Kisah Dokter di RS Wisma Atlet, Klaster Liburan Bikin Jungkir Balik, Nakes Pun Sempat ''Chaos''

Simak kisah seorang dokter di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, ini menarik agar semua orang lebih menyadari pentingnya protokol kesehatan

Editor: dedy herdiana
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
ILUSTRASI: Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung saat membawa ambulans yang mengangkut pasien positif Covid-19 tanpa gejala (OTG) saat memasuki IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2020). 

TRIBUNCIREBON.COM, JAKARTA - Simak, kisah seorang dokter di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, ini menarik agar semua orang lebih menyadari pentingnya protokol kesehatan antisipasi penularan Covid-19.

Adalah dr. Nadhira Anindita Ralena yang menceritakan tentang perjuangan dirinya dan para tenaga medis dalam menghadapi lonjakan pasien Covid-19

Dokter yang akrab disapa Dita itu membeberkan, pasien Covid-19 di Wisma Atlet mengalami lonjakan drastis pada periode 5-15 Januari 2021.

Jika melihat momen tanggal itu, jelas menunjukkan masa berakhirnya liburan sekolah dan liburan Natal serta Tahun Baru 2021.

Baca juga: Apa Sudah Siap Pemkab Cirebon Mendistribusikan dan Lakukan Vaksinasi Covid-19? Begini Kata Bupati

Baca juga: Tukang Pikul Peti Jenazah Covid-19 di TPU Cikadut Pundung Dituduh Pungli, Keluarga Makin Bingung

"Malam 7-14 hari ke belakang saya jungkir balik," tulis Dita di situs blogging Kompasiana, Senin (25/1/2021).

Dilansir dari Kompas.com yang mendapat izin Dita untuk mengutip tulisannya, dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, lonjakan pasien Covid-19 mulai terasa 5 hari setelah Tahun Baru.

"Shift jaga siang di bangsal terasa luar biasa melelahkan. Pasien dengan desaturasi di bangsal semakin parah, namun ruang perawatan intensif penuh, dipenuhi dengan pasien-pasien dengan keadaan yang lebih buruk," kata dia.

Di sisi lain, Wisma Atlet sebagai RS Darurat Covid-19 tak memiliki fasilitas yang lengkap.

Bangsal di RS Wisma Atlet tidak memiliki oksigen dinding.

Hal itu membuat tenaga kesehatan harus memastikan stok oksigen tabung.

"Tetapi dengan keadaan pasien desaturasi parah yang memerlukan oksigen 15 liter per menit, dalam 1 shift jaga bangsal, kami dapat menghabiskan kira-kira 4 oksigen tabung untuk 1 pasien," ujar Dita.

Ia menyebut, sebelum Tahun Baru, tower 6 dan 7 Wisma Atlet menampung sekitar 1000 pasien Covid-19.

Setelah Tahun Baru, 2500 pasien hampir terlampaui.

"IGD penuh dan penerimaan pasien-pasien baru dengan kondisi stabil disebarkan ke bangsal, sehingga kami pun dokter jaga di bangsal yang menerimanya. Chaos," ujarnya.

Jumlah pasien kian meningkat.  Hal itu tentunya berbanding lurus bagi kerja para tenaga kesehatan yang juga terus meningkat.

Halaman
123
Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved