Penanganan Virus Corona
Rapid Test Antigen Sebagai Syarat Perjalanan, Efektif atau Membingungkan?
Pemerintah memberlakukan kebijakan harus rapid test antigen bagi warga yang ingin melakukan perjalanan. Apa kebijakan ini efektif atau membingungkan?
Penulis: Mutiara Suci Erlanti | Editor: Mutiara Suci Erlanti
"Kaget dan bingung karena tiba-tiba. Apalagi saya sudah pesan tiket duluan,"katanya.
Dirinya pun memutuskan untuk melakukan rapid test antigen di sebuah rumah sakit pada H-3 keberangkatan.
"Kalau H-1 bisa tapi takut membeludak di bandara," katanya.
Dia merasa keberatan karena biaya rapid test antigen ini terhitung mahal.
"Rapid test ini Rp 250.000. Dan cuma berlaku tiga hari. Jadi saat saya pulang saya harus rapid test antigen lagi, dan keluar uang lagi. Kalau yang ada urusan dibawah lima hari kasihan harus rapid test lagi,"katanya.
Hal senada pun dikatakan seorang penumpang kereta api jarak jauh
Siti Aisyah (52) warga Vila Jati Indah, Cileunyi, Kabupaten Bandung, salah seorang calon penumpang kereta Argo Wilis dengan tujuan Solo, Jawa Tengah, Rabu (23/12/2020) pagi, menyayangkan munculnya kebijakan pemerintah dalam menerapkan rapid tes antigen ini.
Dirinya menilai kebijakan tersebut terlalu mendadak dan tidak memperhatikan kondisi masyarakat yang menjadi calon penumpang transportasi umum, khususnya masyarakat kategori ekonomi menengah ke bawah.
Sebab, seperti halnya dirinya yang telah melakukan Rapid test antibodi kemarin, sedangkan pemerintah baru mengumumkan adanya kebijakan baru wajib Rapidtes Antigen pada Senin (21/12/2020) siang
"Menurut saya sih bagus ya untuk mencegah Covid-19, tapi sayang waktunya terlalu mepet. Harusnya ada sosialisasi dulu ke masyarakat bawah dulu jauh-jauh hari sebelum diterapkan. Apalagi nyari uang itu ga gampang. Seperti saya kemarin kan sudah Rapidtes (antibodi) karena mau berangkat besok, sementara pemerintah baru kemarin siang (pengumumannya). Begitu saya mau Rapid lagi ternyata alatnya belum ada," ujarnya di stasiun Kiaracondong, Selasa (22/12/2020) dikutip dari Tribun Jabar.
Menurutnya, dengan adanya kebijakan baru tersebut memaksa dirinya harus kembali lagi memeriksakan kesehatan dengan rapid test Antigen, selain merugi karena harus kembali mengeluarkan uang, tetapi juga waktu terbuang percuma.
"Seperti hari ini, saya datang jam 10.30 WIB, saya dapat nomor antrean 356 sedangkan pasien yang dipanggil untuk diperiksa baru nomor urut 80an. Mau engga mau saya nunggu karena saya butuh dan harus berangkat besok jadi saya nunggu. Tujuan saya berangkat untuk menemui orangtua karena lebaran kemarin kan enggak boleh mudik," katanya.
Rapid test antigen mulai diberlakukan karena dinilai lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi.
Namun dari segi harga rapid test antigen lebih mahal sehingga ada sejumlah orang yang merasa keberatan atas kebijakan rapid test antigen sebagai syarat perjalanan.
Apa benar rapid test antigen lebih akurat? mari kita simak perbedaan antara rapid test antigen, rapid test antibodi, dan tes PCR dikutip dari Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/hasil-rapid-test-antigen-di-rest-area-tol-cipali-dan-cipularang1.jpg)