Pembunuhan
Ibu Aniaya Anak Kandung hingga Tewas, Pinjam Cangkul Bilang Hendak Ngubur Kucing
Tak hanya itu, kedua orangtua korban juga memakamkan jasad anaknya tanpa menggunakan kain kafan.
Menurut AKP David Adhi Kusuma, LH yang merupakan ibu kandung korban melakukan serangkaian tindak kekerasan.
Diantaranya, seperti mencubit, memukul tangan kosong hingga menggunakan sapu.
Saat korban sudah tersungkur lemas, LH tidak berhenti melakukan kekerasan, bahkan memukul kepala bagian belakang tiga kali.
Mengetahui peristiwa itu, sang suami IS sempat marah kepada LH dan berinisiatif membawa korban keluar dari rumah.
Alasannya ialah agar korban mendapatkan udara segar dan kembali sehat.
Meski demikian kondisi korban sudah lemah hingga meninggal di perjalanan.
"Dibawa keluar cari udara segar, anak ini kan sesak napas, harapannya bisa baikan, tapi saat dalam perjalanan meninggal dunia," aku David.

Kemudian, orangtua korban menguburkan mayat bocah SD itu dengan cara yang tidak wajar.
Sebab, korban tak dibungkus menggunakan kain kafan namun masih berpakaian lengkap.
Kemudian, jasadnya baru ditemukan oleh warga setelah 2 pekan terkubur di pemakaman umu diwilayah Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten.
Pinjam Cangkul ke Warga
Orangtua pelaku sempat pinjam cangku le warga saat hendak menguburkan mayat gadis kecil yang tewas setelah dianiaya ibu kandungnya.
Seperti diberitakan TribunnewsBogor.com sebelumnya dengan judul 'Pinjam Cangkul Warga, Bocah SD Dikubur Orangtuanya Setelah Tewas Dianiaya: Mau Ngubur Kucing' , penemuan jasad bocah perempuan berusia 8 tahun itu berawal ketika warga curiga melihat makam baru yang tiba-tiba muncul.
Pasalnya warga merasa tak ada masyarakat sekitar yang meninggal dunia dan dimakamkan di TPU Gunung Kenang dalam beberapa pekan.
Hingga kemudian, penggalian dilakukan demi mencari tahu jasad siapa jasad yang terkubur dibalik gundukan tanah itu.