PRA Luqman Resmi Jadi Sultan Sepuh XV
Ridwan Kamil Sebut Pemprov Jabar Siap Selesaikan Polemik Pewaris Takhta Keraton Kasepuhan Cirebon
Hal itu berkaitan adanya sejumlah pihak yang menolak penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mumu Mujahidin
Ia mengatakan, penolakan maupun ancaman tidak ada lagi ke depannya agar keraton dapat menjalankan tugas utamanya menjaga warisan budaya.
Chaidir juga memohon doa semua elemen masyarakat agar PRA Luqman dapat menjalankan tugasnya dan menghadapi polemik semacam ini.
"Kami hanya mohon dukungan semua pihak keraton bisa terus mempertahankan adat tradisi, karena punya kewajiban itu," kata Chaidir Susilaningrat.
Kericuhan terjadi saat Ratu Mawar dari Keraton Kanoman dan Elang Mas Upi Supriadi memasuki Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Saat itu, Ratu Mawar tampak menuntun Elang Mas Upi Supriadi yang sudah sepuh memasuki lokasi jumenengan PRA Luqman.
Tiba-tiba Ratu Mawar berjalan ke depan hingga ke tengah-tengah bangsal dan berteriak, "Saya menolak jumenengan ini, tidak sah."
Sejumlah abdi dalem pun terlihat bergegas menarik Ratu Mawar dan Elang Mas Upi Supriadi keluar Bangsal Prabayaksa.
Hingga akhirnya Ratu Mawar dan Elang Mas Upi berhasil ditarik keluar Bangsal Prabayaksa, kemudian para abdi dalwm tampak menutup pintu menuju ruangan itu.
Keduanya pun langsung menuju rumah Elang Mas Upi Supriadi yang berada persis di samping bangunan utama Keraton Kasepuhan.
Ratu Mawar Berteriak di Tengah-tengah Penobatan
Penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV sempat diwarnai kericuhan, Minggu (30/8/2020).
Kericuhan terjadi saat Ratu Mawar dari Keraton Kanoman dan Elang Mas Upi Supriadi memasuki Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Saat itu, Ratu Mawar tampak menuntun Elang Mas Upi Supriadi yang sudah sepuh memasuki lokasi jumenengan PRA Luqman.
• Sambil Menangis dan Suara Lirih PRA Luqman Zulkaedin Siap Mengemban Jabatan Sultan Sepuh XV
• RESMI PRA Luqman Zulkaedin Dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon
Tiba-tiba Ratu Mawar berjalan ke depan hingga ke tengah-tengah bangsal dan berteriak, "Saya menolak jumenengan ini, tidak sah."
Sejumlah abdi dalem pun terlihat bergegas menarik Ratu Mawar dan Elang Mas Upi Supriadi keluar Bangsal Prabayaksa.
Namun, Ratu Mawar sempat melakukan perlawanan dan menolak untuk meninggalkan Bangsal Prabayaksa.
Sementara Elang Mas Upi Supriadi yang sudah sepuh terlihat menurut saat kembali dituntun keluar.
Ratu Mawar justru terus berteriak dan tampak enggan meninggalkan ruangan tersebut.
Hingga akhirnya Ratu Mawar dan Elang Mas Upi berhasil ditarik keluar Bangsal Prabayaksa, kemudian para abdi dalem tampak menutup pintu menuju ruangan itu.
Keduanya pun langsung menuju rumah Elang Mas Upi Supriadi yang berada persis di samping bangunan utama Keraton Kasepuhan.
"Soal penolakan, kan, memang dari awal juga ada yang beda pendapat," ujar wargi Keraton Kasepuhan, Pangeran Chaidir Susilaningrat, saat ditemui usai kegiatan.
Karenanya, pihaknya tidak mempermasalahkan adanya penolakan semacam itu.
• BLT Rp 600 Ribu Tahap II Segera Cair, 3 Juta Nomor Rekening Pekerja Sudah Diserahkan ke Kemnaker
• 12 Prajurit TNI Bakal Dipecat Buntut dari Penyerangan Mapolsek Ciracas KSAD: Ada 19 Orang Lagi
Pasalnya, hal itu merupakan bagian dari kebenasan mengutarakan pendapat di muka umum yang telah dijamin Undang-Undang.
"Selama disampaikan melalui tindakan yang tidak melawan hukum, enggak masalah. Kalau ada perbuatan melanggar hukum tentu ada konsekuensinya," kata Chaidir Susilaningrat.
Tolak Luqman Jadi Sultan Sepuh
Ratusan santri yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Dzuriyah Sunan Gunung Jati menolak penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV.
//
Juru Bicara Forum Silaturahmi Dzuriyah Sunan Gunung Jati, Ide Bagus Aria Setiawan, mengatakan, hal itu sesuai perintah kiai sejumlah pesantren di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Di antaranya, Pesantren Bendakerep, Pesantren Cibogo, Pesantren Cipeujeuh, dan lainnya.
• Menikmati Akhir Pekan di Curug Tenjo Layar, Objek Wisata Kaki Gunung Ciremai, Tiket Masuk Rp 5 Ribu
Karenanya, pihaknya mendatangi Alun-alun Kasepuhan sambil membentangkan kain merah putih yang cukup panjang sambil melantunkan sholawat.
"Kami diperintahkan para kiai untuk tahlil dan doa bersama untuk almarhum Arief (Sultan Sepuh XIV)," ujar Ide Bagus Aria Setiawan saat ditemui di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (30/8/2020).
Jika Luqman tetap dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV, maka pihaknya tetap akan melaksanakan perintah para kiai tersebut.
• Mengenal Kanker Kolon, Penyakit yang Renggut Nyawa Chadwick Boseman Pemeran Black Panther
Namun, pria yang akrab disapa Ibas tersebut menegaskan hingga kini para ulama dan kiai menolak penobatan PRA Luqman Zulkaedin.
Pasalnya, baik Luqman maupun Arief bukanlah keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon sehingga dinilai tidak layak mewarisi takhta Sultan Keraton Kasepuhan.
"Hari ini, kami sebagai dzuriyah Sunan Gunung Jati ingin meluruskan sejarah," kata Ide Bagus Aria Setiawan.
• Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Sukabumi Tembus 100 Orang, Terbaru dari Nagrak
Ia mengatakan, sesuai arahan para kiai tahlil dan doa bersama yang akan digelar di Alun-alun Kasepuhan tersebut bersamaan dengan kegiatan yang dilaksanakan di Keraton Kasepuhan.
Namun, pihaknya mewanti-wanti agar tahlil dan doa bersama itu jangan sampai disertai penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV.
"Kami tidak ingin tahlil dan doa bersama dinodai dengan acara penobatan atau semacamnya," ujar Ide Bagus Aria Setiawan.
Ratusan santri datangi Alun-alaun Kasepuhan
Menjelang penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV, ratusan santri mendatangi Alun-alun Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (30/8/2020).
Ratusan santri yang mengenakan peci dan sarung tersebut juga tampak membentangkan kain merah putih panjang.
• Pernah Mimpi Menikah dengan Mantan Kekasih Hingga Orang Tak Dikenal? Ini 5 Tafsir Mimpi Menikah
Lantunan sholawat terdengar riuh diteriakkan ratusan santri yang berasal dari sejumlah pesantren di wilayah Cirebon tersebut.

Mereka yang tiba kira-kira pukul 10.25 WIB itu tampak langsung dihadang massa Laskar Agung Macan Ali Nuswantara.
Namun, massa Laskar Agung Macan Ali Nuswantara terlihat bersiaga persis di depan gerbang Keraton Kasepuhan Cirebon.
• Calon Janda Muda Bandung Gugat Cerai Suami Pengangguran, di Indramayu Ceraikan Suami yang Main Terus
Sementara para santri tampak hanya berbaris di tengah Alun-alun Kasepuhan dan terus melantunkan sholawat.
Hingga petugas Polres Cirebon Kota dan Kodim 0614/Kota Cirebon pun langsung bersiap di antara kedua kelompok massa.
Namun, kira-kira 15 menit kemudian massa santri yang berasal dari Forum Silaturahmi Dzuriyah Sunan Gunung Jati itupun tampak bergeser ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa untuk bersiap menunaikan salar zuhur berjemaah.
• Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Sukabumi Tembus 100 Orang, Terbaru dari Nagrak
"Kami hendak tahlil dan doa bersama untuk memperingati 40 hari meninggalnya Pak Arief (Sultan Sepuh XIV)," kata Juru Bicara Forum Silaturahmi Dzuriyah Sunan Gunung Jati, Ide Bagus Aria Setiawan.
Ia mengatakan, tahlil dan doa bersama tersebut dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan yang dilaksanakan di Keraton Kasepuhan.
Namun, pihaknya mewanti-wanti agar tahlil dan doa bersama itu jangan sampai disertai penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV.
"Kami tidak ingin tahlil dan doa bersama dinodai dengan acara penobatan atau semacamnya," ujar Ide Bagus Aria Widiawan.
Pria yang akrab disapa Ibas itupun secara tegas menolak PRA Luqman dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV menggantikan Arief.
• Hati-hati, 8 Penyakit Ini Akan Mengintai Akibat Kurang Tidur, Kanker Usus Besar Hingga Diabetes
Pasalnya, baik Luqman maupun Arief bukanlah keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon sehingga dinilai tidak layak mewarisi takhta Sultan Keraton Kasepuhan.
"Kami sebagai dzuriyah Sunan Gunung Jati ingin meluruskan kebenaran di Keraton Kasepuhan, Saudara Luqman tidak layak menempati posisi Sultan Sepuh XV," kata Ide Bagus Aria Widiawan.
Hingga berita ini diturunkan, massa santri tampak berkumpul di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Sementara petugas TNI - Polri terlihat bersiaga di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon.