Breaking News:

Masih Banyak Kasus Kekerasan Seksual, LPA Pertanyakan Penghargaan Kota Layak Anak di Majalengka

Aris menilai bahwa pada tahun 2019 tersebut, terdapat 30 kasus yang menimpa anak-anak di Kabupaten Majalengka itu sendiri.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mumu Mujahidin
Eki Yulianto/Tribuncirebon.com
Ketua LPA Kabupaten Majalengka, Aris Prayuda 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Kurang perhatiannya Pemkab Majalengka terhadap perlindungan anak dan perempuan menjadi catatan tersendiri bagi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Majalengka.
Pasalnya, menurut Ketua LPA Majalengka, Aris Prayuda, pihaknya mempertanyakan atas diraihnya penghargaan Kabupaten Majalengka sebagai Kota Layak Anak pada tahun 2019 oleh Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Aris menilai bahwa pada tahun 2019 tersebut, terdapat 30 kasus yang menimpa anak-anak di Kabupaten Majalengka itu sendiri.
"Saya hanya bertanya saja, kenapa Kabupaten Majalengka bisa meraih penghargaan itu, padahal pada tahun 2019 terdapat 30 kasus yang menimpa anak-anak kita di Majalengka ini," ujar Aris kepada Tribuncirebon.com, Selasa (28/07/2020).
Ketua Umum LPA Majalengka itupun mengungkapkan, kemungkinan pemerintah pusat hanya melihat penghargaan itu dari segi fasilitas umum yang dimiliki oleh Pemda Majalengka.
Sedangkan, untuk kasus sendiri seolah-olah tidak menjadi indikator penilaian penentu.
"Sebenarnya indikator penilaian itu sendiri yang ditetapkan oleh pemerintah pusat seperti apa? Kan pada saat itu setidaknya banyak kasus di Majalengka, termasuk yang terbaru kemarin terhadap anak di Jatiwangi," ucapnya.
"Kemarin saya sudah menyampaikan tiga rekomendasi untuk Pemkab Majalengka,  semoga saja mau didengar keluhan yang kita rasakan di lapangan dan jangan sampai ini menjadi gunung es," jelas dia.
Untuk tahun ini sendiri, Aris menjelaskan bahwa terdapat 4 kasus yang terjadi disaat Pandemi Covid-19.
"Terhitung sejak munculnya wabah virus corona yang menyerang negeri ini, di catatan kita sudah ada 4 kasus yang menimpa anak-anak kita dan itu semua tentang kekerasan seksual," kata Aris.
"Kita mempertegas dimana komitmen dan perhatian pemerintah terhadap perlindungan anak, ini masalah penting karena kita tidak mau anak-anak kita menjadi korban para predator," tuturnya.
Masih Banyak Kasus Kekerasan Seksual
Buntut kasus pencabulan bocah kelas 3 SD oleh sepupunya di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka mendapatkan tanggapan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Majalengka.
Terlebih, lembaga itu merupakan salah satu lembaga yang melaporkan kejadian yang menimpa anak di bawah umur tersebut.
Ketua LPA Kabupaten Majalengka, Aris Prayuda mengatakan angka kekerasan anak yang berujung pencabulan di Majalengka cukup tinggi.
Apalagi, di saat Pandemi Covid-19 ini yang mana kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan untuk sementara waktu.
"Data menunjukkan, pada tahun 2020 saja hingga bulan Juli ini, di Majalengka sudah terdapat 4 kasus kekerasan anak," ujar Aris kepada Tribuncirebon.com, Senin (27/7/2020).
Menurutnya, tindak kekerasan terhadap anak-anak tersebut, rata-rata dilakukan oleh orang-orang terdekat.
"Bahkan, kasus yang terbaru kekerasan asusila dibawah umur yang terjadi di Kecamatan Jatiwangi, Majalengka ini, juga dugaan ada kaitannya dengan pandemi tersebut," ucapnya.
Hal itu, kata dia, lantaran anak-anak saat ini terus berada di rumah selama masa Pandemi Covid-19.
"Oleh karena itu, kami berharap Pemda Majalengka, harus mengkaji lagi lebih dalam terkait pembukaan sekolah di tengah pandemi Corona tersebut," jelas dia.
Aris menambahkan, sedangkan sepanjang tahun 2019, data yang masuk ke LPA Majalengka, terdapat 30 kasus kekerasaan terhadap anak.
Bahkan, jumlah narapidana yang sudah berada di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) IIB Majalengka, hampir sekitar 45 persen merupakan kasus kekerasan terhadap anak atau pencabulan.
"Oleh karena itu, kami mendesak Pemkab Majalengka untuk segera menerbitkan Perda atau Perbup tentang perlindungan anak dan sekaligus juga menyiapkan rumah aman untuk anak," kata Aris.

Sang Ibu Kerja Sebagai Wanita Malam

Kasus pencabulan anak di bawah umur di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka telah dilaporkan oleh Ketua Komunitas Perempuan Maju (Puma) dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Majalengka kepada kepolisian setempat, Sabtu (25/7/2020).

Padahal, saat anak berinisial CDW (9) itu menceritakan perbuatan bejat sang kaka sepupu kepada bibi dan pamannya, ibu kandung korban mengetahui informasi tersebut.

Namun, justru sang ibu enggan melapor kepada pihak berwajib.

Pihak keluarga korban sekaligus pengurus yayasan Al-Mizan Majalengka, Muhamad Darda (50) mengatakan, masih satu keluarga menjadi alasan sang ibu tidak ingin melaporkan kejadian tersebut.

Justru, sang ibu menyarankan agar kasus tersebut berakhir damai.

"Ya ibunya malah tidak ingin melaporkan, karena masih satu keluarga. Justru saya yang menceritakan ke Komunitas Puma dan LPAI dan mereka lah yang melaporkan kejadian bejat tersebut," ujar Darda, begitu sapaan, Senin (27/7/2020).

Lebih jauh Darda menceritakan, selain memang sang ibu enggan melapor, ternyata ibu dari korban memiliki dendam pribadi terhadap mantan suaminya.

 Tak Hanya di Rumah, Kakak Sepupu Juga Cabuli Bocah Kelas 3 SD di Sawah hingga di Bekas Rel Kereta

 BREAKING NEWS Kakak Sepupu Cabuli Bocah Kelas 3 SD hingga 10 Kali Saat Dititipkan di Rumahnya

Sebab, bocah yang kini duduk di kelas 3 tersebut, merupakan korban dari perpisahan kedua orangtuanya.

"Jadi, ibunya juga kayanya punya dendam pribadi terhadap mantan suaminya. Karena ditinggal begitu saja. Mungkin karena sebab itu, ia jadi tidak terlalu peduli dengan sang anak," ucapnya.

Masih dijelaskan Darda, sang ibu dari anak tersebut ternyata bekerja sebagai kupu-kupu malam.

Saat mendapatkan panggilan, ibu korban langsung menitipkan sang anak kepada ibu dari pelaku.

"Oleh karena itu, keseharian anak sering tidur di rumah pelaku. Nah, mungkin karena terlalu sering dan tergiur oleh korban, anak dari uwa berinisial IF (21) ini mencabuli anak tersebut," jelas dia.

Diketahui, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Majalengka berhasil meringkus pelaku pencabulan anak di bawah umur, Sabtu (25/7/2020).

Pelaku itu berinisial IF (21) alias Kibol warga Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang tega mencabuli anak berusia 9 tahun berinisial CDW.

 Daftar Harga Sepeda Lipat Berkualitas di Bawah Rp 5 Juta: Element, Dahon Ion, Pacific Hingga United

 Buruan Catat Nih, Begini Cara Mudah Mengolah Daging Kambing Agar Enggak Alot dan Bau Prengus

Korban merupakan siswi kelas 3 SD dan kesehariannya suka dititipkan oleh sang ibu di rumah pelaku.

Adapun posisi pelaku adalah kakak sepupu korban, dimana dalam kesehariannya korban  sering dititipkan dan di asuh oleh ibu pelaku yang merupakan uwanya korban.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 Yo 82 UU RI No 17 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ancaman minimal 5 tahun atau maksimal 15 tahun penjara.

Dilakukan di Kamar, Sawah dan Bekas Rel Kereta
Kasus pencabulan yang dilakukan oleh pelaku berinisial IF (21) di salah satu desa di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka terjadi tidak hanya di dalam rumah.
Melainkan, ada sejumlah tempat yang menjadi saksi bisu aksi bejat terhadap anak di bawah umur berinisial CDW (9).
Kapolres Majalengka, AKBP Bismo Teguh Prakoso didampingi Kasat Reskrim, AKP M Wafdan Muttaqin mengatakan, pekarangan rumah dan sawah menjadi lokasi lain dilakukannya aksi pencabulan tersebut.
Aksi pencabulan sendiri sudah berlangsung selama 1 tahun terakhir.
"Ya menurut keterangan pelaku, selain di kamar dalam rumah, pelaku juga melancarkan aksinya di sawah, bahkan di bekas rel kereta," ujar AKBP Bismo saat konferensi pers, Senin (27/7/2020).
Ia menjelaskan, pelaku sudah 10 kali melancarkan aksi bejatnya tersebut.
Adapun, pelaku mengancam tidak akan memberikan makan atau mengancam akan menendang dan mengusir korban jika korban tidak menuruti kemauan pelaku.
"Selain mendapatkan kekerasan seksual, korban juga mendapatkan penganiayaan oleh pelaku," ucapnya.
Kapolres menyampaikan, terbongkarnya kasus tersebut, karena adanya pelaporan dari korban terhadap bibi dan pamannya.
Pamannya sendiri, jelas dia, merupakan ibu dari si tersangka.
"Dari pengaduan itulah, terdengar oleh salah satu pengurus yayasan Al-Mizan dan langsung melaporkan ke Komunitas Perempuan Maju dan LPAI Majalengka," jelas dia.
Dari pelaporan itulah, pada 25 Juli 2020 kemarin, Polres Majalengka berhasil meringkus pelaku.
Dan kini, pelaku dijerat dengan Pasal 81 Yo 82 UU RI No 17 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ancaman minimal 5 tahun atau maksimal 15 tahun penjara.
Dicabuli Hingga 10 Kali
Sebelumnya Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Majalengka berhasil meringkus pelaku pencabulan anak di bawah umur, Sabtu (25/7/2020).
Pelaku itu berinisial IF (21) alias Kibol warga Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang tega mencabuli anak berusia 9 tahun berinisial CDW.
Korban merupakan siswi kelas 3 SD yang kesehariannya suka berada di rumah pelaku dari hasil titipan sang ibu korban.
Kapolres Majalengka, AKBP Bismo Teguh Prakoso didampingi Kasat Reskrim, AKP Wafdan Muttaqin mengatakan kejadian bermula pada bulan Mei 2020 lalu.
Saat itu, pelaku mengancam tidak akan memberikan makan atau mengancam akan menendang dan mengusir korban.
Sehingga, korban menuruti kemauan pelaku.
"Adapun posisi pelaku adalah kakak sepupu korban, dimana dalam kesehariannya korban  sering dititipkan dan di asuh oleh ibu pelaku yang merupakan uwa nya korban. Sudah sebanyak 10 kali pelaku mencabuli korban," ujar AKB Bismo, Senin (27/7/2020).
Ia menjelaskan, alasan sang ibu korban terus menitipkan anaknya tersebut, karena soal pekerjaan.
Adapun perbuatan pencabulan itu dilakukan di rumah pelaku saat rumah dalam keadaan sepi di Kecamatan Jatiwangi.
"Aksi pelaku mencabuli korban, yaitu dengan cara membuka celana dalam korban dan menidurkan korban. kemudian pelaku melakukan aksinya tersebut," ucapnya.
Kejadian tersebut, rupanya korban merasa ketakutan dan menceritakan kepada bibi dan pamannya.
Sehingga, kemudian terdengar oleh saksi bernama Muhammad Darda (50) yang juga merupakan pengurus yayasan Al-Mizan Majalengka.
"Si saksi ini tidak terima dengan perbuatan pelaku dan menyampaikan kepada Komunitas Perempuan Maju (Puma) Majalengka dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Majalengka," jelas dia.
Sehingga kemudian, Kapolres menambahkan, baik Komunitas Puma dan LPA menginisiasi pembuatan laporan kepada pihak kepolisian guna menindaklanjuti kejadian tersebut untuk di proses sesuai hukum yang berlaku.
Sebab, ortu korban (ibu kandungnya) tidak berkenan melaporkan kejadian tersebut karena sesuatu hal.
"Dengan demikian, pelaku kita jerat dengan Pasal 81 Yo 82 UU RI No 17 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ancaman minimal 5 tahun atau maksimal 15 tahun penjara," kata Kapolres.
 
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved