Minggu, 7 Juni 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Rekam Jejak Dadan Hindayana, Kepala BGN yang Dipecat Prabowo Dikenal Pakar Serangga

Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat memberikan keterangan

Tayang:
Tribun Cirebon
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana merespon terkait gaji pencuci piring MBG lebih besar ketimbang guru honorer. 
Ringkasan Berita:

TRIBUNCIREBON.COM - Nama Dadan Hindayana mendadak menjadi pusat perbincangan publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan memberhentikannya dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa (2/6/2026).

Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat memberikan keterangan di lingkungan Istana Kepresidenan.

“Pada hari ini Selasa, tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan penggantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Langkah ini tidak hanya menyasar Dadan. Presiden Prabowo juga memberhentikan dua Wakil Kepala BGN lainnya, yakni Brigjen Polisi Sony Sonjaya serta Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung. Sebagai suksesor, tongkat estafet kepemimpinan BGN kini resmi diserahkan kepada Nanik S Deyang, yang sebelumnya menjabat sebagai salah satu Wakil Kepala BGN.

Keputusan mendadak ini tentu memicu rasa penasaran publik mengenai rekam jejak Dadan Hindayana.

Berawal dari Pakar Tanaman dan Serangga IPB

Lahir di Garut, Jawa Barat pada tahun 1967, Dadan mengawali perjalanannya di dunia akademik dengan mendalami ilmu pertanian. Di lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), ia dikenal luas sebagai pakar serangga dan berhasil menyandang predikat lulusan terbaik untuk jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.

Berdasarkan data resmi dari situs bgn.go.id, Dadan merupakan alumni program doktor dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover di Jerman. Dari kampus Eropa tersebut, ia sukses membawa pulang gelar Dr. rer. Hort, sebuah rekognisi akademik tingkat tertinggi untuk spesialisasi di bidang tumbuhan dan tanaman.

Kombinasi kecerdasan dan keahlian langka ini membuka jalan bagi Dadan untuk menduduki berbagai posisi krusial di IPB, termasuk dipercaya menjadi konsultan strategis bagi sejumlah kementerian.

Baca juga: Sejarah Makan Bergizi Gratis dan Awal Pendirian BGN: Berawal dari Tim Kecil Jadi Program Nasional

Rekam Jejak Karier dan Pengabdian panjang

Sepulangnya dari Jerman, Dadan langsung terlibat dalam pembenahan internal kampusnya. Pada periode 2001-2002, ia memegang amanah sebagai Sekretaris Kantor Persiapan Implementasi Otonomi IPB. Kapasitas manajerialnya kian teruji saat ia bergeser menjadi Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB selama lima tahun (2003-2008).

Menjelang akhir masa baktinya di direktorat tersebut, ia juga sempat merangkap tugas sebagai Direktur Ad-interim Direktorat Kerja Sama IPB sepanjang tahun 2007 hingga 2008.

Petualangan karier Dadan kemudian membawanya keluar dari zona nyaman IPB. Ia memutuskan bertolak ke Indonesia Timur setelah ditunjuk menjadi Ketua Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan Banau di Halmahera. Dedikasinya di wilayah tersebut tergolong panjang, yakni membentang dari tahun 2014 hingga 2022.

Setelah hampir sewindu mengabdi di Halmahera, Dadan kembali ke ibu kota. Namanya meroket ke panggung nasional saat ia resmi dilantik menjadi Kepala BGN pertama pada 19 Agustus 2024.

Namun, perjalanan dinasnya di lembaga baru ini harus terhenti lebih cepat. Setelah menuntaskan masa pengabdian selama 1 tahun, 9 bulan, dan 10 hari, Presiden Prabowo Subianto memutuskan menyudahi masa jabatan Dadan dan mengalihkan kepemimpinan kepada Nanik S Deyang.

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved