Selasa, 5 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Sejarah Makan Bergizi Gratis

Sejarah Makan Bergizi Gratis dan Awal Pendirian BGN: Berawal dari Tim Kecil Jadi Program Nasional

Sejarah Makan Bergizi Gratis dan Awal Pendirian BGN: Berawal dari Tim Kecil, Kini Jadi Program Nasional

Tayang:
Tribun Cirebon/Dok. BGN
Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, S.I.K. menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) 

 

Ringkasan Berita:
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berkembang sejak 2024 dari tim kecil di BGN. Meski awalnya hanya dua personel dan belasan relawan, program ini kini menjadi inisiatif nasional berkat dukungan luas.
  • MBG yang lahir melalui Perpres No 83 Tahun 2024 bermula dari tim kecil di BGN dengan dua pimpinan dan sekitar 15 relawan. 
  • Mereka membangun jaringan dukungan, menggandeng mitra, serta mengembangkan sistem data seperti PPMBG untuk memastikan distribusi berjalan efektif.

TRIBUNCIREBON.COM- Oktober 2024 menjadi tonggak penting lahirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif strategis pemerintah yang kini dikenal luas dalam upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia.

Di balik besarnya program tersebut, tersimpan kisah awal yang sederhana: dimulai dari tim kecil dengan semangat besar dan visi yang kuat.

Meskipun 15 Agustus 2024 BGN telah lahir melalui Perpres no 83 tahun 2024, namun sampai bulan Oktober hanya ada 2 personel yaitu pak Dadan selaku Ka BGN dan pak Pusung selaku Waka BGN didukung sekitar 15 orang relawan

Baca juga: UPDATE Harga Emas Antam Turun Rp13 Ribu, di Indramayu dan Majalengka Sempat Sentuh Puncak Pekan Ini

Pada masa awal pembentukan, Badan Gizi Nasional (BGN) hanya diperkuat oleh dua personel inti, yakni Kepala BGN Dadan dan Wakil Kepala BGN Loedwig Pusung. Meski dengan keterbatasan sumber daya, sekitar 15 relawan turut bergabung dan aktif berdiskusi setiap hari untuk merumuskan konsep dasar program yang saat itu dikenal sebagai “makan siang gratis”.

Para relawan yang terlibat bukanlah sosok biasa. Seiring berjalannya waktu, sebagian dari mereka kini menduduki posisi strategis sebagai pejabat eselon I dan II di lingkungan BGN. Sejak awal, fokus utama mereka adalah membangun dukungan luas serta menentukan pihak-pihak yang dapat berkontribusi dalam menyukseskan program.

Baca juga: UPDATE Harga Emas Antam Turun Rp13 Ribu, di Indramayu dan Majalengka Sempat Sentuh Puncak Pekan Ini

Membangun Jaringan Dukungan

Untuk mempercepat realisasi program, para relawan diberi tugas menjangkau jaringan masing-masing di berbagai daerah. Mereka menghubungi pengusaha, kolega, hingga keluarga yang dinilai memiliki kapasitas untuk mendukung program tersebut.

Bentuk dukungan yang diharapkan pun tidak kecil, mulai dari pembangunan dapur umum, penyediaan peralatan, hingga dana operasional yang mencapai hampir Rp900 juta per bulan. Pendekatan dilakukan secara personal, dimulai dari komunikasi melalui telepon hingga pertemuan langsung guna menjelaskan konsep program
.
Menariknya, pihak yang bergabung tidak diposisikan sebagai vendor, melainkan mitra. Hal ini menegaskan bahwa keterlibatan mereka didasarkan pada kepercayaan terhadap visi besar MBG, bukan sekadar hubungan kontraktual. Meski banyak calon mitra mempertanyakan kepastian administrasi seperti SPK atau PKS, tim tetap menekankan pentingnya komitmen dan kepercayaan di tahap awal.

Baca juga: Usai Melonjak, Harga Emas Antam di Indramayu dan Majalengka Kembali Loyo, 1 Gram Jadi Segini

Sejak awal, tim menyadari bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kekuatan data. BGN dituntut mampu memberikan informasi yang cepat dan akurat terkait jumlah dapur, penerima manfaat, hingga distribusi makanan.

Pengumpulan data awal dilakukan dengan melibatkan aparat kewilayahan, termasuk Babinsa, yang kemudian dilaporkan secara berjenjang hingga tingkat komando. Selain itu, data juga diintegrasikan dari berbagai sumber resmi seperti Dapodik, EMIS Kementerian Agama, serta data dari BKKBN guna memastikan ketepatan sasaran penerima manfaat.

Pengembangan sistem pelaporan berbasis teknologi menjadi langkah krusial dalam mendukung keberlanjutan program. Berbekal pengalaman dalam pengembangan sistem nasional, salah satu relawan merancang sistem pelaporan MBG yang diberi nama PPMBG.

Baca juga: Momentum Hari Buruh 2026, Harga Emas Antam di Cirebon dan Kuningan Melonjak Rp30 Ribu

Sistem ini dirancang untuk mengelola data dari 100 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) awal yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk di lahan milik satuan teritorial TNI.

Pengembangan semakin matang setelah dilakukan kunjungan ke Warung Kiara sebagai proyek percontohan pertama MBG. Bersamaan dengan operasional dapur di Bojong Koneng, sistem terus disempurnakan.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved