Minggu, 3 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Redam Salah Tafsir, Bupati Eman Jelaskan Esensi Majalengka Langkung Sae

Bupati Majalengka Eman Suherman menjelaskan mengenai makna Langkung Sae.

Tayang:
Penulis: Adhim Mugni Mubaroq | Editor: taufik ismail
Tribuncirebon.com/Adhim Mugni Mubaroq
BUPATI MAJLENGKA - Bupati Majalengka Eman Suherman saat bersama ASN Majalengka di Pendopo Majalengka. 

Laporan Adim Mubaroq

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Bupati Majalengka Eman Suherman menegaskan kembali makna Majalengka Langkung Sae, sebuah visi yang kini menjadi 'ruh' utama arah pembangunan Kota Angin Majalengka.

Orang nomor satu di pemerintah Majalengka ini menjelaskan, frasa tersebut seringkali disalahartikan sebagai bentuk perbandingan antara pemerintahannya dan pemerintahan sebelumnya, padahal maknanya jauh lebih filosofis.

Menurut Eman, Langkung Sae merupakan ajakan untuk terus memperbaiki diri, baik secara individu maupun sebagai masyarakat Majalengka

“Kalau ini dianggap perbandingan, saya juga bagian dari masa lalu. Jadi tidak mungkin saya membandingkan diri saya sendiri,” kata Eman saat podcast bersama Tribun.

Eman mengakui masih ada sebagian masyarakat yang menafsirkan Langkung Sae sebagai pembanding kinerja antara periode pemerintahan.

Karena itu, ia menilai perlu memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah persepsi.

“Supaya tidak ada lagi diskusi yang mengarah ke salah pengertian. Ini bukan soal siapa lebih baik dari siapa, tetapi bagaimana kita membuat Majalengka lebih baik dari hari kemarin,” ucapnya.

Eman menjelaskan, konsep Langkung Sae didasarkan pada sebuah hadis riwayat Al-Hakim.

Hadis tersebut menjelaskan tiga kategori manusia, yakni mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang beruntung, yang sama adalah orang rugi, dan yang lebih buruk adalah orang tercela.

“Ini nilai dasar yang menjadi harus menjadi teladan bagi kita semua. Bila ingin menjadi manusia yang beruntung, kita harus berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin,” kata Eman.

Eman menuturkan, ajaran itu kemudian diterapkan dalam pembangunan Majalengka sebagai dorongan moral agar masyarakat tidak berhenti bertumbuh dan selalu bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

Selain makna filosofis, Langkung Sae juga memiliki makna strategis.

Eman mengungkapkan, akronim SAE (Sahabat Akang Eman), merupakan simbol kedekatan antara dirinya, pemerintah daerah, dan seluruh warga Majalengka.

Konsep sahabat ini dihadirkan untuk menekankan pemerintahan yang terbuka, tidak berjarak, dan mudah diakses.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved