Selasa, 19 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Kematian Massal Ikan Dewa di Kuningan

Tokoh Masyarakat Kuningan Cigugur Angkat Bicara, Mengenai Kematian 700 Lebih Ikan Dewa

Tokoh masyarakat di Cigugur, Kuningan, mengungkap di kawasan tersebut juga ada bisnis air yang melibatkan BUMD.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: taufik ismail

Ringkasan Berita:
  1. Kematian massal ikan dewa di kolam keramat di Cigugur, Kuningan, terus terjadi.
  2. Tokoh masyarakat mengungkap ada bisnis pemanfaatan air di kawasan tersebut.

 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai 

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Jumlah Kematian ikan dewa di Balong Keramat destinasi wisata Kelurahan Cigugur, Kuningan, mencapai lebih dari 700 ekor.

"Sebelas hari terakhir jumlahnya sekitar 762 ekor," kata Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kuningan, Deni Irianto kepada Tribun saat mendampingi Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani di lokasi Balong Keramat. 

Langkah pencegahan terhadap angka kematian, Deni mengaku dilakukan penataan lingkungan kolam dalam menstabilkan sirkulasi air.

"Kini sedang dilakukan pembongkaran saluran outlet atau air keluar dari kolam," katanya. 

Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Kelurahan Cigugur, Aang Taufik menceritakan kondisi kolam sejak beberapa tahun terakhir terdapat modifikasi pada lingkungan.

"Adanya kematian massal ikan dewa, kami menduga terjadi perusakan ekosistem, seperti pemanfaatan air yang dilakukan BUMD untuk komersil," kata Aang.

Diketahui sumber mata air di Kolam Keramat Cigugur ini terdapat lebih dari satu.

"Total debit air yang keluar itu lebih dari 100 liter per detik. Kemudian, kompensasi yang diberikan BUMD PAM Kuningan kepada kami sebesar Rp 80 juta per tahun," kata Aang.

Ia menambahkan kontrak bisnis mulai pada tahun antara 2022 - 2023 hingga sekarang. 

Merunut kerja sama hingga mendapat kompensasi, Aang mengungkap sewaktu Dirut PAM Tirta Kamuning (alm) Deni Erlanda sempat terjadi teken kompensasi sebesar Rp 128 juta.

"Kemudian, ketika Dirutnya Pak Ukas itu malah jauh dari nilai sebelumnya. Tawaran PDAM sempat memunculkan angka Rp 15 juta, 36 juta dan hingga sekarang Rp 80 juta," katanya. 

Terlepas dari bisnis air tersebut, Aang meminta pemerintah untuk bertanggungjawab pada kejadian luar biasa ini. 

"Ya ini adalah situs yang harus dilestarikan," katanya. 

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved