Selasa, 28 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Difabel Luncurkan Buku Karya Bersama, DNIKS Dorong Difabel Berkarya Lewat Buku dan Seni

Penyandang disabilitas didorong untuk berkarya lewat buku dan seni. Baru saja mereka meluncurkan Terbatas Tapi Tak Pernah Dibatasi.

Penulis: Adhim Mugni Mubaroq | Editor: taufik ismail
Istimewa/Dok DNIKS
PELUNCURAN BUKU - Kegiatan Gerak Tak Terbatas: Bercerita Berdendang, Sahabat Inklusi 2026 yang digelar Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dalam acara peluncuran buku “Terbatas Tapi Tak Pernah Dibatasi”. 

Laporan Adim Mubaroq 

TRIBUCIREBON.COM, MAJALENGKA - Selama ini penyandang disabilitas kerap ditempatkan sebagai objek empati.

Padahal, ketika ruang dibuka dan akses diberikan, difabel mampu menjadi produsen karya, gagasan, dan inspirasi sosial.

Realitas itulah yang ditampilkan dalam kegiatan Gerak Tak Terbatas: Bercerita Berdendang, Sahabat Inklusi 2026 yang digelar Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dalam acara peluncuran buku “Terbatas Tapi Tak Pernah Dibatasi”. 

Ketua Pelaksana kegiatan, RA Loretta Kartikasari, mengatakan buku itu menjadi bukti bahwa difabel mampu menghasilkan karya intelektual yang relevan dan berdampak. 

Menurut salah satu pembina UMKM di Majalengka ini, tantangan terbesar bukan pada keterbatasan fisik, melainkan minimnya akses dan kesempatan.

"Para penulis yang terlibat berasal dari latar belakang berbeda, mulai dari Teman Tuli hingga difabel fisik, namun dipersatukan oleh satu hal: keberanian menyuarakan potensi diri," kata Loretta dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Loretta yang juga dosen ini mengatakan, buku itu kumpulan tulisan dari sepuluh penulis difabel yang menarasikan pengalaman hidup, perjuangan, dan pandangan mereka tentang dunia yang kerap belum ramah. 

“Potensi teman difabel itu besar. Tugas kami adalah membuka pintu,mulai dari peningkatan keterampilan, jejaring dengan industri, sampai ruang tampil di publik,” ujarnya.

Salah satu penulis, Iin Nurjanah, mengaku tak pernah membayangkan dapat menerbitkan buku. Dalam salah satu bab, ia menulis tentang keunikan yang lahir dari keterbatasan. Baginya, menulis bukan hanya ekspresi diri, tetapi juga pernyataan bahwa difabel berhak hadir dan didengar.

Hal serupa dirasakan Rani Fitria A., yang untuk pertama kalinya terlibat dalam buku kolaboratif. Ia berharap pengalaman difabel yang dituangkan dalam tulisan dapat mengubah cara pandang masyarakat, dari iba menjadi penghargaan.

Selain literasi, kegiatan ini juga menyoroti aspek inklusi yang sering luput, yakni komunikasi.

Melalui sesi Mengenal Bahasa Isyarat yang dipandu Ibnu Muzaki, peserta diajak mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat.

Sesi ini menjadi pengingat bahwa inklusi bisa dimulai dari langkah sederhana: kemauan memahami.

Ketua Umum DNIKS, Effendy Choiri, menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan program prioritas DNIKS yang mencakup pendidikan inklusif, peningkatan keterampilan, akses kerja, kewirausahaan, hingga penguatan peran keluarga dan komunitas.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved