Rabu, 22 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Berita Cirebon Hari Ini

Perang Sarung Nyaris Pecah di Cirebon, Ahli: Ini Bukan Tradisi, Tapi Kenakalan Brutal

Perang sarung yang nyaris pecah di wilayah Kabupaten Cirebon memantik keprihatinan banyak pihak. 

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tribun Cirebon/TribunCirebon.com/ Eki Yulianto
PERANG SARUNG - Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Musahwi M. Sosio buka suara soal perang sarung 

Ringkasan Berita:
  • Perang sarung yang nyaris pecah di wilayah Kabupaten Cirebon memantik keprihatinan banyak pihak
  • Fenomena yang kerap muncul saat Ramadan itu dinilai bukan bagian dari tradisi, melainkan bentuk kenakalan brutal

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Perang sarung yang nyaris pecah di wilayah Kabupaten Cirebon memantik keprihatinan banyak pihak. 


Fenomena yang kerap muncul saat Ramadan itu dinilai bukan bagian dari tradisi, melainkan bentuk kenakalan brutal yang berpotensi mengarah pada tindak pidana.


Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Musahwi M. Sosio menegaskan, perang sarung tidak bisa dibenarkan dengan alasan budaya.


“Perang sarung itu kan sebenarnya tawuran biasa. Itu tindakan brutal yang sering kali terjadi di anak-anak jalanan. Apalagi ini momentumnya bulan Ramadan, jangan sampai bulan Ramadan malah tercederai oleh perang sarung yang namanya juga saling menyakiti. Itu semua termasuk tindakan pidana,” ujar Musahwi saat diwawancarai Tribun, Minggu (1/3/2026).


Menurutnya, maraknya perang sarung saat Ramadan hanya persoalan momentum, bukan karena ada kaitan nilai religius di dalamnya.


“Fenomena tawuran itu sebenarnya sering kali marak di generasi remaja, khususnya anak-anak SMP atau SMA. Mungkin perbedaannya hanya karena sekarang memasuki bulan Ramadan, sehingga seolah-olah dianggap ada kaitannya dengan Ramadan, padahal sebenarnya tidak ada kaitannya secara langsung,” ucapnya.


Ia menegaskan, menyebut perang sarung sebagai tradisi adalah kekeliruan persepsi.


“Tradisi atau budaya itu tujuannya meninggikan derajat manusia, mendidik orang. Kalau misalkan itu menghancurkan orang lain atau kelompok lain, itu bukan tradisi. Itu perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, itu namanya patologi sosial,” jelas dia.


Musahwi menilai, penanganan fenomena ini tidak bisa dibebankan hanya kepada aparat kepolisian. Diperlukan kolaborasi lintas sektor.

Baca juga: Perang Sarung Nyaris Pecah di Losari Cirebon, Polisi dan Ulama Turun Tangan, 3 Remaja Bikin Surat


“Tokoh agama, guru, tokoh masyarakat dan orang tua harus ikut bersama-sama melakukan kontrol, di samping peran aparat. Aparat memang sangat penting untuk terus melakukan penjagaan di malam hari, terutama di waktu-waktu rawan saat anak-anak berkumpul,” katanya.


Ia juga menyoroti perubahan pola aktivitas remaja selama Ramadan.


“Momentum Ramadan ini anak remaja sering tidur di siang hari dan justru keluyuran di malam hari. Semangat mereka sedang tinggi-tingginya. Semangat itu harus kita arahkan bersama. Kalau tidak, mereka bisa terjerumus ke hal-hal negatif,” ujarnya.


Lebih jauh, ia mengingatkan agar Ramadan dimaknai sebagai bulan pengendalian diri.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved