Rabu, 8 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Pemkab Majalengka Jamin Pengobatan 2 Warganya yang Jadi Penyintas Perang di Sudan

Karna Sobahi mengatakan, pihaknya sudah memonitor kedua warganya tersebut melalui puskesmas di tempat tinggal masing-masing

Penulis: Eki Yulianto | Editor: dedy herdiana
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Bupati Majalengka, Karna Sobahi 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka menjamin pengobatan dua Warga Negara Indonesia (WNI) asal wilayahnya yang menjadi penyintas perang di Sudan.

Bupati Majalengka, Karna Sobahi mengatakan, pihaknya sudah memonitor kedua warganya tersebut melalui puskesmas di tempat tinggal masing-masing.

Nani Suwartiyani (51), PMI asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yang menjadi penyintas perang di Sudan, Afrika bagian Utara
Nani Suwartiyani (51), PMI asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yang menjadi penyintas perang di Sudan, Afrika bagian Utara (Tribuncirebon.com/Eki Yulianto)

Baca juga: Cerita Mencekam WNI Asal Majalengka Penyintas Perang di Sudan, Lolos Karena Bendera Merah Putih

Dalam monitoring itu, pemerintah pastikan akan membantu pengobatan keduanya.

"Kami sudah memonitor keadaan, termasuk kita akan bantu pengobatan," ujar Karna selepas kegiatan halal bihalal di Pendopo Majalengka, Rabu (3/5/2023).

Selain itu, pihaknya juga masih terus menginvestigasi ada berapa warga Majalengka yang sebenarnya terdampak perang di Sudan.

"Kami akan minta konfirmasi terus, berapa-berapa warga Majalengka yang terkena dampaknya."

"Kita bantu nanti, pengobatan di rumah sakitnya," ucapnya.

Seperti diketahui, sebanyak dua warga asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menjadi korban perang di Sudan yang kini telah berhasil dievakuasi pulang ke Indonesia.

Keduanya adalah Nani Suwartiyani (51), warga Jalan Suma RT.03/01, Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka dan Nameh (53), Desa Bayureja, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka.

Bahkan Nani kepada media telah menceritakan pengalamannya saat berada di wilayah konflik tersebut.

Dengan kondisi yang lumayan membaik, setelah tiba di rumahnya pada Sabtu (29/4/2023) dalam kondisi tak bisa berdiri, Nani mengatakan, bahwa posisi ia di Sudan, yakni sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Di sana, ia harus merasakan hidup dengan suara desingan senjata api secara langsung dari para pihak yang bertikai. 

Bahkan, bagi Nani, granat bukan hanya usapan belaka, tetapi melihatnya secara langsung dengan mata dan kepala sendiri.

Kondisi politik di Sudan juga, membuat Nani menderita kerugian materi tidak sedikit.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved