Anas Urbaningrum Bebas

Anas Masih Enggan Bicara Soal Politik di Hari Bebasnya, Terungkap Ternyata Ini Agenda Berikutnya

Ini agenda Anas Urbaningrum setelah bebas dari Lapas Sukamiskin. Langsung ke politik lagi?

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Anas Urbaningrum setelah bebas dari Lapas Sukamiskin. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Anas Urbaningrum bebas dari menjalani hukumannya di Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, dari kasus tindak pidana korupsi Hambalang sekitar 9 tahun lebih, Selasa (11/4/2023).

Kebebasannya pun disambut riuh dari para simpatisannya yang datang ke lapas maupun saat silaturahim akbar di RM Ponyo Cinunuk, Kabupaten Bandung.

Anas Urbaningrum menyampaikan bahwa tak ada yang sangat khusus, lantaran kebebasan batin itu sebenarnya ada ketika dia berada di dalam lapas.

Namun, saat ini kebabasannya terasa lengkap baik batiniah maupun lahiriah, serta kebebasan untuk bertemu dengan teman, adik-adik, dan saudara semua.

"Alhamdulillah suasananya juga diliputi kebebasan atas kehadiran para sahabat yang datang dari segala penjuru," ujarnya.

Anas Urbaningrum pun mengaku dia saat ini sedang berkonsentrasi membayar utang untuk bersilaturahim kepada keluarga maupun sahabat, serta belum mau memikirkan hal-hal yang berat melainkan hal ringan dahulu.

"Intinya, masih butuh adaptasi dan penyesuaian. Kan udara di dalam sama udara di luar berbeda. Cuaca di dalam dengan di luar berbeda juga. Jadi, butuh penyesuaian," katanya.

Berikutnya, Anas Urbaningrum mengaku akan bersowan ke Blitar untuk sungkem ke ibunda.

Kemudian, meminum air dari kampung dahulu, karena baginya meminum air dari kampung lebih bagus ketimbang air kemasan.

"Setelah itu ya ke Jakarta. Tapi, urusannya juga masih urusan ringanlah, yaitu silaturahim," katanya.

Dia mengaku, tadinya ingin menyampaikan pidato yang agak mengarah ke politik.

Tetapi, dia masih berstatus cuti menjelang bebas (CMB), serta tempatnya ada di lapas, dan suasananya masih suasana Ramadan.

"Jadi, biarlah tadi bukan pidato politik melainkan rasa syukur dan ungkapan tentang pentingnya persistensi, daya tahan, bahwa seorang aktivis itu dalam situasi apapun harus tetap bertenaga tak boleh menyerah, karena di situlah kami bisa memupuk harapan," ucapnya.

Dia menilai bila seseorang tak mempunyai harapan, maka artinya akan hampir identik dengan kematian alias wassalam. Sehingga, yang menghidupkan itu sebenarnya harapan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved