Sapi Diserang Penyakit Lato lato

Daging Sapi yang Terpapar Penyakit Lato-Lato Jangan Dikonsumsi, Ini Kata Petugas Keswan

Penyebaran penyakit lato-lato pada sapi di lingkungan peternak di Kuningan, ternyata mendapat perhatian serius dari petugas kesehatan hewan.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Yono Peternak Sapi di Kampung Mulya Asih, Desa Puncak Kecamatan Cigugur, Kuningan, Selasa (7/3/2023). 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Penyebaran penyakit lato-lato pada sapi di lingkungan peternak di Kuningan, ternyata mendapat perhatian serius dari petugas kesehatan hewan.

"Melihat perkembangan kasus penyakit Lato - Lato, kita sudah sediakan dan siap melakukan vaksinasi. Kemudian, untuk penanganan agar sapi tetap sehat, pola manajemen kandang sehat harus diperhatikan," kata dr Rofiq, petugas kesehatan hewan Kabupaten Kuningan, Selasa (7/3/2023).

Kemudian, kata Rofiq menyebut mengenai daging sapi terjangkit LSD atau penyakit lato-lato, baiknya jangan disajikan atau dikonsumsi.

Sebab, ketika suatu hewan sakit itu sebaran penyakit terjadi pada setiap organ hingga lapisan daging.

"Ya, yang namanya hewan ternak berpenyakitan, baiknya jangan dikonsumsi. Sebab, itu tidak baik dan hawatir bisa menyebar, ketika kita makan," katanya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Peternak Sapi Perah di Kuningan Resah, Penyebaran Penyakit Lato-lato Merajalela

Usah lain mencegah hewan ternak tetap sehat, Rofiq menyebut, lingkungan kandang dan warga bisa melakukan Bios sekuriti atau pengamanan lebih pada kegiatan di lingkungan kandang dan warga.

"Ya, untuk kebaikan hewan agar sehat selalu. Baiknya melakukan Bios Security," katanya.

Diberitakan sebelumnya, populasi sapi di Kuningan terancam terjangkit penyakit LSD alias penyakit lato-lato.

Hal itu setelah sebelumnya ada beberapa sapi perah di kalangan peternak positif terjangkit penyakit lato-lato.

"Mengingat dengan ancaman, kami tentu sudah membentuk skema  untuk menghindar ancaman sebaran penyakit LSD, kita segara melakukan vaksinasi yang telah diterima dari pengajuan sebelumnya dari provinsi," kata Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Pemkab Kuningan, dr Rofiq saat dihubungi ponselnya tadi, Selasa (7/3/2023).

Pelaksanaan vaksinasi pada sapi, Rofiq menyebut, ini dilakukan sebagai tindak pencegahan sekaligus memberikan kualitas imunitas sapi agar tetap sehat.

Yono Peternak Sapi di Kampung Mulya Asih, Desa Puncak Kecamatan Cigugur, Kuningan, Selasa (7/3/2023).
Yono Peternak Sapi di Kampung Mulya Asih, Desa Puncak Kecamatan Cigugur, Kuningan, Selasa (7/3/2023). (Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai)

"Pemberian vaksinasi, kami sudah sosialisasi kepada para peternak sapi di daerah. Rencana vaksinasi itu diberikan secepatnya dengan kuota tersedia itu sebanyak 500 unit," katanya.

Melihat vaksinasi, Rofiq menyebut, ini tidak mungkin diberikan pada semua sapi yang ada di Kuningan.

Sebab populasi sapi di daerah setelah mengalami dan melewati kasus PMK (penyakit mulut dan kaki), jumlahnya itu ada sekitar 36 ribu ekor.

"Populasi sapi di Kuningan, terdiri dari dua jenis sapi potong dan sapi perah. Dari 36 ribuan itu, terdiri dari sapi potong sebanyak 26 ribu ekor dan sapi perah hingga kini, sebanyak 9 ribu ekor," katanya.

Upaya Penanganan dan Pencegahan

Kasus Penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang dikenal penyakit lato-lato sapi, mendapat tanggapan dari Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Pemkab Kuningan, dr Rofiq.

"Mengenai penyebaran penyakit LSD memang betul, dan itu sudah kami lakukan melalui cek laboratorium hingga hasilnya, beberapa sapi perah positif terjangkit penyakit LSD," kata dr Rofiq mengawali perbincangan tadi dengan TribunCirebon.com, Selasa (7/3/2023).

Adapun penanganan terhadap kasus LSD atau dikenal dengan sebutan penyakit lato-lato, Rofiq mengungkap hingga kini sudah melakukan pendataan terhadap peternak termasuk populasi sapi di Kuningan.

"Kita hingga kini, sudah melakukan pendataan jumlah peternak dan populasi sapi di Kuningan," katanya.

Teknik penanganan secara medis pada hewan, dr Rofiq menyebut bahwa penanganannya tidak jauh beda pada kasus penyebaran penyakit mulut dan kaki pada beberapa waktu lalu.

Yono Peternak Sapi di Kampung Mulya Asih, Desa Puncak Kecamatan Cigugur, Kuningan, Selasa (7/3/2023).
Yono Peternak Sapi di Kampung Mulya Asih, Desa Puncak Kecamatan Cigugur, Kuningan, Selasa (7/3/2023). (Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai)

"Secara teknis penanganan, dalam pengobatan, pencegahan serta penyembuhan pada sapi suspek LSD. Nyatanya sama yang dilakukan, ketika terjadi pada kasus PMK beberapa waktu lalu," katanya.

Rofiq menyebut, penyebaran penyakit LSD itu disebabkan oleh banyak faktor.

Seperti manajemen kebersihan kandang serta penangkal terhadap sebaran insect atau serangga dan mobilisasi di lingkungan kandang itu sendiri.

"Sebaran terjadi hingga penyakit LSD banyak ditemukan kasusnya, ini akibat manajemen kandang kurang bersih dan lingkungan kandang terlalu banyak mobilisasi. Terutama lalu lintas jenis sapi sendiri yang dilakukan peternak," katanya.

Mengenai pengobatan mujarab pada penyakit lato-lato, Rofiq menyebut hingga kini belum ada pasti untuk diberikan pada sapi hingga sehat normal.

Namun, dalam pencegahannya itu banyak dilakukan hingga kondisi lingkungan bersih dan itu jaminan kesehatan pada hewan ternak.

"Ya, untuk obat mujarab untuk diberikan pada sapi hingga cepat sembuh, hingga kini belum kami temukan. Namun, pencegahan dan untuk sapi tetap sehat, itu banyak dan harus dilakukan para pemilik," katanya.

Diketahui, sapi perah yang terjangkit penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau dikenal dengan sebutan penyakit lato-lato, jumlahnya sudah mencapai sekitar 13 ekor.

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved