Gempa Bumi Cianjur

Pengungsi Gempa Cianjur Terpaksa Makan Wortel Busuk, Bupati Bantah Distribusi Bantuan Belum Merata

Pengungsi gempa Cianjur mengolah wortel busuk untuk dijadikan bahan makanan.

Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Ferri Amiril
Ilustrasi pengungsi gempa Cianjur. Ada pengungsi yang harus makan wortel busuk. 

TRIBUNCIREBON.COM, CIANJUR - Sejumlah titik pengungsian masih minim bantuan hingga hari ke-7 penanganan gempa di Kabupaten Cianjur, Minggu (27/11/2022).

Banyaknya posko pengungsian dan masih beratnya medan membuat distribusi bantuan belum bisa dilakukan secara merata. Begitu pula tenaga medis dan obat-obatan.

Di posko pengungsian di Kampung Warung Batu, Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur, Sabtu (26/11/2022) lalu, sejumlah ibu bahkan terpaksa membersihkan wortel busuk untuk dijadikan bahan makanan. 

"Ini yang ada saja dimanfaatkan, kan, masih panjang waktunya," kata Heni, salah seorang pengungsi.

Meski telah mendapatkan bantuan logistik, ujarnya, bantuan masih sangat terbatas karena jumlah pengungsi mencapai 200 orang. Proses pengajuan bantuan sangat lama. 

"Harus lapor ke RT, ke desa, terus ke kecamatan, prosesnya lama. Sudah dikasih, cuma sedikit," sahut Sinta, pengungsi lainnya.

Selain berharap mendapatkan bantuan logistik makanan, warga di pengungsian juga berharap mendapatkan obat-obatan, selimut, dan tenda. 

"Pengungsi sudah mulai mengeluhkan sakit, terlebih anak-anak, batuk-batuk, demam," ujar Heni.

Masih minimnya bantuan juga terlihat di posko pengungsian di Kampung Pasir Ipis di Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, terutama di RW 01.

Di RW ini terdapat 1.800-an jiwa.

"Alhamdulillah, bantuan sudah mulai mengalir ke sini, meski masih minim," ujar Koordinator Bantuan Kampung Pasir Ipis RW 01, Aldi Saprudin.

Tak hanya bantuan logistik, tenaga medis juga sangat kurang di Kampung Pasir Ipis RW 01 ini. 

"Setiap hari ada saja warga di sini yang membutuhkan bantuan medis, soalnya di sini hanya ada satu tenaga medis, tentu tidak bekerja 24 jam. Kasihan warga yang ingin berobat," ujarnya.

Aldi mengatakan, bantuan kerap tak sampai ke Kampung Pasir Ipis karena selalu dicegat oleh para pengungsi lainnya sebelum tiba di kampungnya.

"Bantuan yang seharusnya datang ke sini, selalu dicegat di jalan, makanya kami baru merasakan bantuan menyeluruh itu baru-baru ini," ujar Aldi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved