Sosok
SOSOK Ahyudin, Pendiri ACT Sejak Tahun 2005 yang Kini Hengkang, Ini Kontribusinya Selama 13 Tahun
Berikut ini sosok Ahyudin yang merupakan pendiri Aksi Cepat Tanggap atau yang dikenal dengan nama ACT.
Penulis: Sartika Rizki Fadilah | Editor: dedy herdiana
Berbagai perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) juga turut membantu ACT.
Setiap tahunnya, ACT memberikan laporan keuangannya melalui audit Kantor Akuntan Publik dan melaporkannya pada donatur serta stakeholder.
Sejak 2012, ACT menjadi salah satu lembaga kemanusiaan global yang memiliki jangkauan aktivitas luas.
Untuk skala dalam negeri, ACT telah merembet ke berbagai provinsi di Indonesia yang memiliki banyak relawan dan kantor cabang.
ACT sudah memiliki Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di 30 provinsi yang menyebar lebih dari 100 kota atau kabupaten di seluruh Indonesia.
Sedangkan dalam skala internasional, ACT sudah ada di 22 negara kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Indocina, Timur Tengah, Afrika, Indocina dan Eropa Timur.
Wilayah kerja ACT di skala global diawali dengan kiprah dalam setiap tragedi kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Misalnya saja bencana alam, kelaparan dan kekeringan, konflik dan peperangan, termasuk penindasan terhadap kelompok minoritas berbagai negara.
ACT memiliki spriti kolaborasi kemanuaisan yang ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam kepedulian terhadap sosial.
Pada 2014, ACT memulai menjalin kerjasama kemanusiaan dengan berbagai negara.
Visi ACT
Menjadi organisasi kemanusiaan global profesional berbasis kedermawanan dan kerelawanan masyarakat global untuk mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik.
Misi ACT
1. Mengorganisir dan mengelola berbagai persoalan kemanusiaan secara terencana, terkonsep, terintegrasi, dan berkesinambungan sehingga menjadi formula ideal dalam mengatasi berbagai problem kemanusiaan baik dalam skala lokal, nasional, regional, maupun global.
2. Mengorganisir dan mengelola segala potensi kedermawanan masyarakat global sebagai modal sosial untuk mengatasi berbagai problem kemanusiaan baik dalam skala lokal, nasional, regional, maupun global.
3. Mengorganisir dan mengelola segala potensi kerelawanan global sebagai modal sosial untuk mengatasi berbagai problem kemanusiaan baik dalam skala lokal, nasional, regional, maupun global.