Prakiraan Cuaca
Waspada, Cuaca Majalengka Juli Ini Bakal Diwarnai Angin Kumbang dari Gunung Ciremai
Angin kencang yang disebut angin kumbang dari Gunung Ciremai akan menerjang Majalengka pada bulan Juli hingga Oktober mendatang
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Machmud Mubarok
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Angin kencang mulai melanda Majalengka dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kertajati Majalengka hal itu disebabkan munculnya angin kumbang atau di Majalengka biasa disebut “angin lalakina”.
Angin tersebut biasa terjadi memasuki bulan Juli hingga awal Oktober mendatang.
Baca juga: Cuaca Cirebon Pagi Hari, Jumat 1 Juli 2022, BMKG Ungkap Suhu Terdingin dan Angin Terkencangnya
Angin ini ditandai dengan adanya kenaikan suhu udara sebesar 2-5 derajat celsius per jam pada pagi hari hingga siang hari.
Menurut keterangan Prakirawan BMKG Kertajati, Ahmad Faiz Zyin, munculnya angin kumbang juga ditandai dengan penurunan kelembaban udara antara 5 hingga 34 persen per jam pada pagi hingga siang hari.
Angin kumbang, menurut Faiz Zyin, merupakan angin Fohn, angin yang bertiup turun sepanjang lereng gunung menuju dataran yang lebih rendah dengan suhu udara yang tinggi, dengan tingkat kelembaban udara yang rendah.
“Gak hanya wilayah Majalengka, tapi Cirebon dan Kuningan juga, karena angin kumbang ini berasal dari Gunung Ciremai,” ujar Faiz Zyin, Jumat (1/7/2022).
Menurutnya, dampak dari munculnya angin kumbang ini akan terjadi kenaikan suhu udara mencapai 38 derajat celsius.
Akibat terjadinya penurunan kelembaban udara hingga dapat mencapai 20 persenan, serta peningkatan kecepatan angin mencapai ratusan km per jam.
Pada saat muncul angin kumbang disarankan agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi air minum.
Selain itu, sebaiknya menggunakan pelembab atau lotion karena kulit akan kering, menggunakan tabir surya dan persiapan luar ruangan lainnya seperti kaca mata dan masker di samping mengantisipasi paparan virus Covid-19.
Serta menghindari pepohonan yang rimbun dan tinggi untuk menjaga kemungkinan pohon tumbang akibat tiupan angin besar tersebut.
Wilayah Kabupaten Majalengka sendiri sudah memasuki musim kemarau sejak Juni lalu.
Namun demikian musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, karena hujan masih tetap ada dengan intensitas curah hujan di bawah 155 mm per bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/bmkg-kertajati-majalengka-ungkap-penyebab-cuaca-dingin-belakangan-ini.jpg)